Selamat datang di dunia maya..... Perkenalkan saya seorang yang lagi belajar akan tulis menulis tentang masalah arsitektur, perkotaan, perubahan iklim dan arsitektur tropis(sustainable architecture, urban, climate change and tropical architecture) Ijinlankah saya menyampaikan ide-ide melalui jemari lewat tulisan. Terima kasih dan Semoga bermanfaat..

Showing posts with label wisata. Show all posts
Showing posts with label wisata. Show all posts

Thursday, January 03, 2008

Pesona Sunset ”Manado Tua”


Secara psikologis ada kesan luar biasa ketika kami yang bertugas menjadi surveyor untuk mendampingi staff Kementerian Perumahan Rakyat mulai menginjakkan kaki di Bandar Udara Internasional ‘Sam Ratulangi’ Manado. Apakah itu? Pemandangan alamnya yang indah, pohon kelapa berderet beribu-ribu seperti barisan tentara yang siap berperang. Hijau nian! Tak perlu guide untuk menjelaskan segala sesuatu yang bisu itu. Kami berdua sejenak tertegun karena sama-sama pertama kali tiba dibumi nyiur melambai. Apalagi kalau yang datang itu surveyor yang pasti akan menjumpai medan berat menantang untuk ditaklukkan sekaligus berpetualang.
Keluar dari lokasi parkir Bandar Udara, kita dihadapkan dengan lingkungan bersih, tertata rapi, jalan yang baik dan beberapa menit kemudian, pandangan kita tertuju pada monumen Adipura Kencana, suatu monumen peringatan terhadap keberhasilan dalam klasifikasi kota bersih di Indonesia.
Kesempatan yang pertama ini tidak kami sia siakan saat singgah di kota Manado, sebuah kota yang menarik di teluk ujung utara pulau Sulawesi. Sore itu udara terasa sejuk karena sejak tiba siang hari langit kota Manado selalu diselimuti awan yang menggelayut. Setelah melepas lelah di hotel, sorenya kami mencoba menuju ke Boulevard Manado (jantung kota) dan langsung menuju ke pantai Manado untuk menikmati matahari terbenam dengan latar pulau Manado Tua. Pulau Manado Tua merupakan pulau utama dari sekelompok pulau di teluk Manado. Sambil menikmati jajanan di sepanjang pantai Manado, serta semilir angin laut dan memperhatikan muda-mudi baik bergerombol maupun berpasangan menghabiskan senja ditepi pantai.
Diantara derai ombak yang memecah pantai, sekelompok muda-mudi duduk-duduk diatas bongkahan batu besar, menghadap laut sambil menikmati pesona pulau Manado Tua. Semakin petang suasana semakin tambah ramai. Disebelah kiri tepat didepan menara pengawas pantai yang sudah mulai lapuk, beberapa anak berlarian sambil memainkan bola dikaki yang lincah beralaskan pasir.
Semilir angin semakin membuat kulit tubuh ini menginginkan untuk diselimuti dengan jaket tebal. Sambil menjinjing kamera, saya berusaha untuk berbaur dengan sekelompok muda-mudi meloncat dari batu yang satu ke batu lainnya untuk lebih mendekati bibir pantai dan melihat lebih dekat percikan ombak. Saya berusaha untuk mencari posisi yang cukup nyaman untuk mengabadikan momen indah pesona Manado Tua diwaktu senja yang kala itu diselimuti oleh awan sehingga mataharipun enggan untuk menampakkan wajahnya yang cerah.
Sesekali pandangan terlempar pada aktivitas nelayan yang siap-siap untuk berangkat melaut. Selain itu juga hilir mudiknya perahu naga yang mengangkut para wisatawan yang akan berlabuh setelah lelah mengantar para pelancong berkeliling menikmati pesona gugusan pulau Manado Tua dan Bunaken. Primadona pariwisata kota Manado adalah Taman Nasional Bunaken, yang oleh sementara orang disebut sebagai salah satu taman laut terindah di dunia. Letaknya yang hanya sekitar 8 Km dari daratan kota Manado dan dapat ditempuh sekitar ½ s/d 1 jam menyebabkan Taman Nasional ini mudah dikunjungi. Bagi anak-anak juga tersedia wahana sepeda air beraneka macam ditepi pantai dengan hanya merogoh kocek Rp. 6.000 perjam.
Suasana petang di Kawasan Bolevard Manado sungguh terasa istimewa. Pengunjung dapat menyaksikan panorama alam dengan Pulau Manado Tua di tengah lautan. Menurut Jefferson, pemuda setempat, ketika cuaca cerah, matahari yang mulai tergelincir ke ufuk barat akan terlihat jelas, maka proses terjadinya Sunset dapat disaksikan dengan indahnya.
Seiring dengan terbenamnya matahari, kawasan Bolevard menjadi ramai oleh penjual makanan. Mereka menggelar jualannya di sejumlah tenda di pinggiran pantai. Hidangan yang tersedia terdiri dari; nasi goreng, bakso, gado-gado, sampai beraneka ragam sea food. Harganya pun relatif murah. Para pengunjung dapat memilih sesuai selera yang diinginkannya.
Berwisata ke kota Manado sungguh sangat menyenangkan. Banyak pilihan bagi wisatawan untuk berekreasi dan berwisata ria. Dari wisata alam seperti taman laut Bunaken, keindahan pantai, tempat hiburan rakyat, pusat perbelanjaan, hingga restoran, ada di kota ini. Bagi wisatawan yang menyukai alam pantai sebagai tempat rekreasi masih di dalam kota, maka kota Manado-lah tempatnya. Pesona keindahan pantainya dapat disaksikan dari kawasan Malalayang sampai kawasan Bolevard yang ada dipusat kota dengan garis pantai sepanjang 18,7 kilometer.
Manado atau yang lebih di kenal dengan Nyiur Melambai, terkenal dengan keramahan penduduknya yang kemudian di sebut sebagai smiling people. Kota Manado ini mempunyai motto Si Tou Timou Tumou Tou, sebuah filsafat hidup masyarakat Minahasa yang dipopulerkan oleh Sam Ratulangi, yang berarti: "Manusia hidup untuk memajukan orang lain." Dalam ungkapan bahasa Manado, seringkali dikatakan: "Baku beking pande", yang secara harafiah berarti "Saling menambah pintar [orang lain]".
Suasana Manado malam tak jauh beda dengan kota-kota besar di Jawa, musik terus mengalun. Malam hari, kota ini begitu berisik dengan suara musik yang bergema dari ratusan kafe. Bunyi musik juga terdengar dari mobil angkutan umum ”oto mikro”- sebutannya, nyaris memecah gendang telinga penumpang. Suasana kota dan masyarakatnya terbuka, kondusif, dan mudah diakrabi oleh siapa saja. Jalan Roda, misalnya, menjadi salah satu landmark Manado. Terletak di pusat kota, jalan itu berubah menjadi tempat minum kopi dan kongko-kongko dari berbagai kalangan masyarakat. Di situlah tempat warga berkelakar, dan berdiskusi berbagai hal.
Jalan Boulevard Manado (Jalan Piere Tendean), merupakan landmark yang menjadi kebanggaan karena merupakan jalan terlebar dan jalan pantai terpanjang-4,2 kilometer. Lebih-lebih di malam hari, bertambah semarak karena lampu aneka warna dari billboard dan papan reklame.
Pusat perbelanjaan di Kota Manado mulanya terkonsentrasi di seputar Boulevard Manado. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, dalam kurun waktu 3 tahun, industri properti dan retail di Manado berkembang cukup pesat. Ditandai dengan dibukanya tiga buah pusat perbelanjaan modern baru yaitu Mega Mal Manado, Manado Town Square dan Bulevard Mall. Ketiga pusat perbelanjaan ini berlokasi di ruas jalan yang sama yaitu jalan Piere Tendean atau yang dikenal dengan Manado Boulevard yang dapat juga dinikmati dari pantai Manado.
Beberapa pusat perbelanjaan lain pun sedang dibangun di ruas jalan ini, terutama di daerah reklamasi pantai. Di sepanjang jalan ini juga terdapat beberapa hotel berbintang, restoran dan cafe yang menjajakan beraneka ragam makanan dan buka hingga larut malam. Pusat cinderamata khas Manado dapat ditemukan di Jalan BW Lapian. Terdapat beberapa toko suvenir yang menjual makanan, busana, dan kerajinan tangan khas Manado.
Wajah kota Manado dapat diketahui dari peran historisnya. Awalnya Manado dibangun sebagai kota benteng, kota kolonial, kota pusat administrasi dan pemerintahan, kota pelabuhan dan transit, kota perdagangan dan jasa. Kemudian dalam perkembangannya, dengan konsep Manado Kota Tinutuan menuju Kota Wisata 2010. Kota Manado sebagai suatu kota yang diusung untuk memposisikan diri sebagai kota pariwisata atau pun wisata dunia pada tahun 2010.

dimuat : Suara Merdeka Rublik Jalan-Jalan, Minggu 2 Desember 2007

Read More..

Monday, November 19, 2007

Masjid Terapung Diatas Danau


Jam menunjukkan pukul 09.00 waktu setempat, ketika rombongan kami yang terdiri dari para mahasiswa tiba disebuah ruang terbuka seperti alun-alun di Jawa yang dinamakan dataran Putra. Agenda pertama kami hari itu adalah mengunjungi Masjid Putra dan Putrajaya Holding Company. Rasa penasaran langsung menyergap begitu melihat kemegahan Masjid Putra yang berada di sebelah barat dataran dengan kubah yang berwarna merah muda sangat menawan. Belum sampai rasa penasaran itu hilang, saya terkaget-kaget melihat banyak sekali turis asing yang hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek baru saja keluar dari pintu gerbang masjid.
Semua itu terjawab ketika rombongan kami tiba dipintu gerbang masjid yang cukup megah. Semua orang tanpa kecuali baik muslim dan non muslim dapat menikmati keindahan kawasan masjid putra tetapi harus berpakaian yang menutup aurat. Bagi yang non muslim tidak usah takut karena di gerbang ini terdapat penyewaan baju jubah dilengkapi dengan kerudung bagi wanita untuk dapat masuk kawasan masjid Putra.
Kesan monumental langsung menyapa bagi siapa saja yang memasuki kompleks masjid Putra ini. Masjid ini merupakan sebuah masjid yang dirancang dengan menggabungkan ciri–ciri arsitektur modern dan tradisional. Masjid yang terlihat mengapung diatas danau menjadi lambang kemegahan dan landmark bagi kota baru Putrajaya. Masjid ini mempunyai segala ciri khas arsitektur modern tanpa mengabaikan unsur-unsur Islam mulai dari bentuk sampai ornamennya dan budaya masyarakat setempat. Nama masjid Putra diambil sebagai penghormatan terhadap Perdana Menteri Pertama Malaysia Tuanku Abdul Rahman Putra Al Haj.
Sebelum memasuki masjid Putra kita dihadapkan pada sebuah bangunan gerbang masjid yang tinggi dan megah. Gerbang ini dilengkapi dengan hiasan bermotifkan bentuk geometris yang merupakan ciri arsitektur islam serta seni kaligrafi yang indah. Gerbang dibentuk mirip dengan gerbang pada Masjid Raja Hassan di Casablanca di Maroko. Dari segi arsitektur berasaskan seni bangunan Persia pada jaman Safavid sehingga bercirikan konsep Timur Tengah dan dikombinasikan dengan seni - seni tradisional melayu. Gerbang dibuat monumental dengan material dari granit, sehingga manusia akan merasa kecil bila melintasi gerbang masjid. Gerbang ini juga dilengkapi ruang informasi dan tangga menuju tempat wudlu di lantau dasar.
Disamping Masjid, terdapat sebuah menara yang berdiri megah setinggi 116 meter di sebelah kiri pintu gerbang Masjid Putra. Menara ini diilhami dari bentuk menara masjid Sheik Omar di Baghdad, berbentuk bintang segi delapan yang terdiri dari 8 penjuru yang melambangkan delapan arah mata angin. Menara ini berfungsi untuk mengumandangkan adzan ke segala penjuru. Terdapat lima tingkatan pada menara ini yang melambangkan lima Rukun Islam dan juga sholat lima waktu. Bagian paling atas dari menara juga berwarna merah muda yang sangat serasi dengan warna kubah utama.
Kubah yang berwarna merah muda ini menurut takmir masjid Putra ustad Kamaruzaman bin Abdul Aziz melambangkan modernitas dan mengikuti perkembangan zaman serta keterbukaan bagi siapapun yang inginmengunjungi masjid termegah di Putrajaya ini. Sisi luar dari kubah ini tersusun dari batu granit yang menbentuk ormanen geometris khas islami. Sedangkan pada sisi dalampun dominan warna merah muda dengan ormanen geometris dan disekelilingnya terdapat hiasan kaligradi yang melingkar.
Masjid ini dibangun pada lokasi yang sangat penting di Putrajaya yang merupakan pusat pemerintahan administratif Negara Malaysia yang berada di daerah Multimedia Super Coridor (MSC), dimana Putrajaya memberikan catatan pada sejarah baru mengenai perencanaan kota modern di Malaysia.
Masjid Putra dibangun dengan tiga konsep dasar ideologi yang sederhana: Pertama, hubungan manusia dengan pencipta, Hubungan ini diwujudkan dengan penerapan desain bangunan yang bernuansa Islami serta membangun masjid sebagai tempat untuk senantiasa mengingat Tuhan. Masjid Putra merupakan salah satu bangunan yang dibuat pertama kali di Putrajaya sebelum bangunan lainnya didirikan.
Kedua, hubungan manusia dengan manusia, Hubungan ini diwujudkan melalui sifat kawasan masjid Putra yang terbuka untuk umum baik yang muslim maupun non muslim. Terdapat banyak fasilitas-fasilitas social yang mendukung kegiatan sosialisasi antar masyarakat serta tempat-tempat umum lainnya, baik untuk kegiatan seminar, resepsi perkawinan sampai untuk wisata ataupun beberapa ruang terbuka yang sengaja diciptakan sebagai wadah untuk tempat berkumpul dan bersosialisasi.
Ketiga, hubungan manusia dengan alam, Untuk menciptakan hubungan antara manusia dengan alam diwujudkan melalui pembangunan yang ramah lingkungan. Meletakkan banyak ruang terbuka dan hijau di sekitar masjid yang bertujuan selain untuk penghijauan juga sebagai bentuk apresiasi terhadap alam sekitar. Hampir 50 % tepi kawasan masjid Putra berada di Tasik Putra yang berfungsi sebagai danau buatan di Putrajaya. Hal – hal tersebut diciptakan melalui pengaturan landscape kota yang teratur.
Masjid Putra ini terletak disebelah barat Dataran Putra, yang merupakan open space yang menghubungkan sumbu utama koridor kota Putrajaya. Sumbu sepanjang 5 km ini menghubungkan Kantor Perdana Menteri Malaysia dengan Putrajaya International Convension Center (PICC). Dataran Putra ini berbentuk lingkaran dengan keliling 300 m yang dilengkapi dengan kolam air serta bentuk bintang ditengahnya dengan sudut berjumlah 13 yang melambangkan jumlah negara bagian di Malaysia. Masjid Putra dikelilinggi oleh Danau Tasik Putrajaya sehingga dapat dilihat keindahan lingkungan kawasan sekitarnya serta menjadikan Masjid Putra kelihatan terapung-apung di permukaan danau. Selain itu juga memanfaatkan udara segar untuk ventilasi alami dari danau untuk menyejukkan kawasan masjid. Jembatan Putra dan Kompleks Perdana Menteri juga dapat dilihat dengan jelas dari lingkungan masjid ini.
Seni bangunan berarsitektur Islam berkembang secara kontinyu dan terus menerus mengikut perkembangan kota dan ilmu yang diawali dari masjid Rasullullah SAW di Medinah. Kemahiran dalam seni bangunan merupakan lambang dari tingginya ilmu dan peradaban suatu bangsa. Seni bangunan Islam sangat dikagumi hingga sekarang ini walaupun usianya telah menjangkau beratus-ratus tahun bahkan ribuan tahun seperti yang banyak terdapat di Turki, Maroko, Spanyol dan sebagainya. Banyak sekali ukiran kaligrafi yang diadopsi dari Timur Tengah menghiasi setiap ormanen Masjid Putra, terutama pada ruang sholat utama.
Potensi alam yang ada disekitar Masjid berupa hembusan angin yang cukup kuat merupakan sistem penghawaan alam yang digunakan pada Masjid Tuanku Abdul Rahman Putra Al Haj atau Masjid Putra. Bangunan ini menggunakan sistem penghawaan alami untuk ruang sholat utama, dan ruang sholat jemaah wanita. Sedangkan untuk ruang yang lain seperti Auditorium, ruang makan besar, Exhibision hall menggunakan penghawaan buatan. Masjid Putra dirancang dan dibangun pada kawasan dengan angin bertiup cukup kuat. Angin dari Danau Tasik Putrajaya ditangkap di lantai dasar dan disalurkan menuju lorong dan rongga kolom-kolom yang berjumlah 12 buah yang mengelilingi ruang utama sholat dan rongga pada 4 kolom utama, sehingga kolom berbentuk bujur sangkar yang terdapat di ruang sholat utama ini berongga ditengahnya. Udara dingin dari rongga kolom dikeluarkan pada sisi bawah kolom melalui kisi-kisi dari kayu yang menyatu dengan lemari untuk tempat Al Quran dan buku-buku Islami yang mengelilingi setiap kolom. Jadi pada ruang sholat utama Masjid Putra menggunakan sistem penghawaan alami dan tidak mempunyai penghawaan buatan baik Air Conditioning (AC) maupun kipas angin.

dimuat di : Suara Merdeka, Minggu 11 November 2007

Read More..

Tuesday, June 12, 2007

Melayang di Puncak Lawang

MENJELANG malam, saya bersama Tim P5 Undip di Kota Padang setelah melakukan survei tata ruang dan harus menempuh perjalanan cukup melelahkan. Bayangkan, 12 jam kami harus melintasi jalur darat yang berkelok-kelok antara Sibolga dan Padang. Karena esok adalah hari Minggu, sebagai pelepas lelah, Pak Fauzi yang memandu kami mengajak berburu suvenir sekaligus menikmati keindahan alam pesona Danau Maninjau hingga Bukittinggi.

Angin berembus semilir di Kabupaten Agam. Hawa sejuk pun menjamah tubuh dengan penuh kelembutan. Sementara itu, keindahan alam makin terasa tatkala kemegahan gunung yang terhampar tegar di wilayah kabupaten yang beribukotakan Lubuk Basung itu menebar pesona.

Danau Maninjau berada sekitar 140 kilometer sebelah utara Kota Padang, dan 38 km sebelah barat dari Kota Bukittingi. Maninjau yang merupakan danau vulkanik ini berada di ketinggian 500 meter di atas permukaan laut, dengan luas sekitar 99,5 km persegi dan memiliki kedalaman maksimal 495 meter. Airnya biru jernih dan dikitari bebukitan indah sehingga menambah cantiknya pemandangan di sana.

Menurut cerita tua, Maninjau ini berkembang dari legenda Bujang Sembilan. Ada sebuah keluarga terdiri atas 10 orang: 9 orang laki-laki (bujang) dan seorang perempuan bernama Sani. Keelokkan paras dan perilaku si gadis memikat pemuda bernama Sigiran. Meraka lalu menjalin asmara. Datanglah tuduhan dari Bujang bahwa selama menjalin asmara telah melakukan perbuatan amoral.

Untuk membuktikan kedua sejoli itu tak melakukan seperti yang dituduhkan, keduanya harus terjun ke kawah gunung Tinjau. Kalau terbukti, gunung itu akan meletus dan menenggelamkan kampung itu. Dan terbuktilah. Maka seperti sebuah pembenaran, hingga sekarang masih bisa kita jumpai kawah di Danau Maninjau. Adapun Bujang Sembilan itu dikutuk menjadi ikan, dan konon masih hidup hingga kini.

Danau Maninjau telah menjadi salah satu objek wisata internasional, terlebih dengan adanya kawasan wisata Puncak Lawang. Kejuaraan paralayang berkelas internasional berkali-kali dilakukan di sana. Menurut para penggemar paralayang, Puncak Lawang merupakan lokasi terbaik di Asia Tenggara untuk olah raga tersebut. Dari ketinggian Puncak Lawang itu kita bisa menyaksikan keindahan Danau Maninjau yang memukau dengan air yang tenang.

Amboi, dinginnya kawasan tersebut langsung menyapa begitu kami turun dari mobil. Kabut tebal dan angin dingin segera membungkus tubuh kami. Pepohonan pinusnya seolah-olah riang bersiul diterpa angin. Panoramanya sangat mirip kalau kita berada di Swiss. Bayangkan saja hingga jam 11.00, kabut tak jua pergi dan mewarnai suasana bak pagi hari.

Ya, Puncak Lawang memang surga bagi penggemar paralayang. Mereka bisa ber jam-jam melayang di atas danau ini. Tak heran, setiap bulan Juli selalu ada lomba di sana. Bahkan karena kekagumannya, Presiden RI pertama Soekarno pun juga pernah membuat puisi mengenai keindahan panorama Danau Maninjau itu.

Untuk menikmati keindahan panorama dan paralayang, kami harus menaiki tangga yang cukup terjal. Didekat gardu pandang, terdapat lapangan yang cukup luas untuk take off paralayang. Saat kami mencapai puncak, sudah ada tiga orang penerbang paralayang yang bersiap-siap melayang-layang. Masing-masing membawa ransel punggung seberat 15 kilogram berisi payung terjun. Angin bertiup semilir menerpa wajah-wajah yang kedinginan. Ketika diukur, kecepatannya baru mencapai 5 hingga 7 kilometer per jam. Untuk terbang, diperlukan kecepatan angin minimal 10 kilometer per jam.

Setelah menunggu cukup lama, sekitar pukul 12.00, seorang demi seorang penerbang yang disebut pilot di dunia paralayang itu mulai terbang. Dimulai dengan sedikit ancang-ancang sambil melihat bendera sebagai indikator arah angin, si pilot berlari menuju bibir jurang yang rimbun. Di belakangnya, dua orang membantu memegangi parasut. Satu-dua menit kemudian, parasut itu membentuk payung memanjang dan mulai melayang di udara. Sang pilot berlari-lari kecil dan tampak bergelayutan pada tali-temali paraglider-nya.

Setelah berhasil, terdengar sorak penonton yang dari tadi mengikuti atraksi tersebut. Banyak di antara wisatawan yang mengabadikan momen tersebut dengan kamera maupun handycam. Jadi, wisatawan yang biasanya hanya menikmati keindahan danau kini disuguhi atraksi yang menarik.

Setelah lepas landas dan melayang layang menikmati keindahan Danau Maninjau, para penggemar paralayang mendarat nun di bawah sana di tepi Danau Maninjau yang dinamakan Rizal Beach. Tempat itu merupakan padang hijau yang cukup luas.

Untuk mencapai kawasan Puncak Lawang, kita akan melewati perjalanan dengan 44 belokan. Itu sebabnya rute ini dinamakan Kelok Ampek Puluah Ampek, yang dalam bahasa Indonesianya tikungan 44. Tikungannya tajam dan bisa membuat pengunjung mengalami mual perut atau kepala pusing. Tapi itu lantas dibayar oleh keindahan panorama yang tersaji.

Gula Khas

Bila Anda masih punya waktu di Puncak Lawang, jangan lupa membeli dan mencicipi manisnya Saka Lawang. Ya, perjalanan ke sana yang melelahkan itu bisa sejenak diobati dengan rehat dan menghilangkan dahaga dengan menikmati manisnya gula dari batang tebu.

Perlu diketahui, hampir di seluruh daerah tersebut terdapat perkebunan tebu rakyat yang sengaja ditanam sebagai mata pencaharian masyarakat Puncak Lawang. Melalui proses tradisional, tebu itu diolah menjadi gula tebu (saka) yang digunakan sebagai bahan pemanis untuk masakan, terutama kue. Saka Lawang cukup populer bagi masyarakat Minang.

Di sela-sela rimbunan kebun tebu, berdiri gubuk bertiang kayu, beratap ilalang. Meski amat sederhana, ratusan gubuk seperti itulah yang telah menebarkan manisnya gula ke antero ranah Minang. Orang-orang Puncak Lawang menyebut ratusan gubuk seperti itu kilang gula merah.

Dalam proses pembuatan gula, menurut Pak Fauzi, dosen di Universitas Bung Hatta Padang yang juga kelahiran Lawang Kecamatan Matur, tebu-tebu ditebas dan dibersihkan daunnya. Air sari tebu yang manis diperas lewat gerinda kayu atau besi yang diputar dengan menggunakan tenaga tradisional yaitu kerbau. satwa itu ditutup matanya dengan tempurung kelapa agar patuh terhadap perintah sebagai pemutar gerinda. Ya, kerbau sudah menjadi rekan setia para perajin gula merah Puncak Lawang selama dua generasi..

Selanjutnya, air sari tebu dituang dalam kuali besar untuk kemudian dipanaskan dalam tungku batu berbahan bakar kayu dan ampas tebu. Dan bila air tebu telah mengental coklat kemerahan, itulah saatnya menyiapkan cetakan-cetakan kayu. Pasta coklat dituangkan, setelah gula merah mengeras, maka siap dipasarkan.

Jika saja potensi yang cukup besar tersebut diolah dan ditata dengan baik pasti akan menimbulkan minat dan kesan tersendiri bagi para wisatawan. Benarlah bahwa Danau Maninjau itu rancak bana. Indah nian. Karena itu, kalau Anda berniat untuk berwisata ke Sumatra Barat, jangan lupa memasukkan Danau Maninjau berikut Kelok Ampek Puluah Ampek dan Puncak Lawangnya ke dalam agenda perjalanan Anda. Sungguh, Anda takkan menyesal.
(Sukawi/73)

dimuat di :
Rublik Jalan-jalan Suara Merdeka, minggu 3 juni 2007

Read More..

Monday, May 21, 2007

Bawomataluo dan Hombo Batu

Cerita tentang Nias Selatan nyaris tidak lepas dari rumah adatnya dan tradisi hombo batu. Atraksi lompat batu khas daerah ini pernah menghiasi lembaran uang seribu rupiah. Tradisi lompat batu masih dilestarikan di desa adat Bawomataluo. Ini merupakan desa adat yang sering dikunjungi wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Tradisi ini dahulunya merupakan sarana untuk melatih pemuda dan prajurit dalam persiapan perang antar suku. Batu ini berupa tugu yang tersusun dari batu yang lebih kecil yang mempunyai ketinggian sekitar 2 m dan bagian atas tugu tersebut mempunyai lebar 90 x 60 cm.
Kompleks rumah adat Nias yang paling besar adalah Desa Bawamataluo lengkap dengan daya tarik berupa masih aslinya kehidupan masyarakat di sana dengan berbagai tradisi, seperti rumah adat, ritus lompat batu, tarian perang, dan tinggalan budaya megalitik. Berada di Desa Bawomataluo seakan terlempar ke masa silam. Deretan rumah tradisional terbuat dari kayu dengan arsitektur khas Nias itu dihuni sebagai mana layaknya kompleks perumahan. Ukiran batu megalitik menghias di beberapa tempat.
Ketika menginjakkan kaki dihalaman gerbang bawah bawomataluo, kita dihadapkan pada dua patung penjaga gerbang desa adat berupa patung hewan berkepala lasara. Dengan menaiki tangga berjumlah 64 buah, kita sampai di desa adat Bawomataluo yang dalam bahasa Nias artinya adalah Matahari Terbit. Kita langsung disambut dengan anak-anak kecil yang menjajakan cinderamata khas Nias seperi perlengkapan perang mulai dari pelindung leher yang terbuat dari tempurung kelapa, dan souvenir dari kulit penyu dan patung-patung dari kayu.
Ada ungkapan yang terkenal disana, “Belum ke Nias jika belum ke Bawomataluo dan melihat atraksi Hombo Batu”. Dengan merogoh sedikit kocek sekitar Rp 150.000, kita bisa melihat atraksi Hombo Batu. Tiga orang pemuda dengan pakaian adat perang siap untuk unjuk kebolehan. Dalam hitungan detik, sedikit ancang-ancang sejauh 15 m, mereka lari dan mendekati batu langsung melompat dan melayang melintasi tugu batu serta memutar tubuh dan mendarat dengan sigap dan tetap berdiri menghadap tugu batu tersebut. Untuk mengabadikan momen tersebut, wisatawan diijinkan untuk memakai pakaian adat perang dan diabadikan gambarnya untuk kenang-kenangan.
Dari beberapa desa adat yang tim P5 Undip kunjungi diantaranya di Botohilitano, Orahili, Bawomataluo dan Hilinawa Mazinge, tidak semua melestarikan tradisi Hombo Batu. Hanya di Bawomataluo satu-satunya desa adat yang masih memegang teguh tradisi dan meletarikannya. Bowomataluo mempunyai jumlah rumah adat terbesar dengan jumlah sekitar 250 unit dengan Oma Sebua (rumah besar) yang paling besar di Nias. Saat ini penghuni desa adat Bawomataluo berjumlah sekitar 700 kepala keluarga.
Hasil rapat UN Join Program yang pernah diikuti oleh Tim, Desa adat Bawomataluo sedang dalam penanganan UNESCO yang direncanakan akan dicanangkan menjadi Kawasan warisan cagar budaya dunia pada tahun 2010. Untuk itu segala persiapan termasuk perbaikan rumah adat yang rusak mulai dilakukan dengan bekerjasam pula dengan BRR Aceh Nias. Kita sebagai bangsa Indonesia wajib untuk mendukung Desa Adat Bawomataluo untuk menjadi Warisan Budaya Dunia pada tahun 2010 agar warisan luhur budaya kita dapat lestari dan tetap terpelihara sampai anak cucu kita.

Read More..

Sorake Tempat Selancar Terbaik

Kabupaten Nias Selatan adalah salah satu kabupaten di Sumatra Utara yang terletak di pulau Nias. Nias Selatan (Nisel) sebelumnya adalah bagian Kabupaten Nias dengan status otonom diperoleh pada 25 Februari 2003 dan diresmikan pada 28 Juli 2003. Kabupaten ini beribukota di Teluk Dalam, terdiri dari 104 gugusan pulau besar dan kecil, yang masyarakatnya tersebar di 21 pulau dalam delapan kecamatan.
Pada 28 Maret 2005, gempa melanda kepulauan Nias dengan kekuatan 8,7 skala Richter yang melumpuhkan dan meluluhlantakkan perumahan, tempat ibadah, kegiatan pemerintahan dan pembangunan di daerah tersebut. Berkaitan dengan kegiatan pembangunan di Nisel, penulis dengan tim dari Pusat Pelayanan Perencanaan Pembangunan Partisipatif (P5) UNDIP bekerjasama dengan UN-Habitat menjadi fasilitator dalam proses perencanaan dan pengembangan infrastruktur yang tertuang dalam rencana tata ruang (spatial planning) untuk kota Teluk Dalam, yang melingkupi komponen-komponen infrastruktur terutama yang mendukung perencanaan pariwisata yang berbasis pada masyarakat.
Penulis sudah kali yang kedua menginjakkan kaki di Tano Niha (Tanah Nias). Untuk mencapai kota Teluk Dalam, dalam perjalanan pertama dimulai dari Kota Padang Sumatera Barat. Dengan menggunakan travel dengan perjalanan darat membutuhkan waktu 12 jam untuk sampai di Sibolga. Dari kota pantai Sibolga dengan perjalanan laut menggunakan kapal feri berjarak tempuh 12 jam untuk sampai di Gunung Sitoli. Kebetulan cuaca sedang bagus sehingga dengan selamat sampai di Gunung Sitoli, satu-satunya kota terbesar di pulau Nias.
Jika cuaca ditengah laut ombaknya besar maka feri tidak berani melanjutkan perjalanan dan kembali ke Sibolga. Itu sedikit perbincangan kami dengan para penumpang yang mempunyai tujuan sama. Dari Sibolga di Pulau Sumatera, biasanya ada 2 buah feri yang melayani bolak-balik ke Nias sehari sekali, yaitu KM Barau dan KM Belanak. Jadi, kalau hari ini feri itu menuju Nias, keesokan harinya feri yang sama menuju Sibolga. Dari Gunung Sitoli dengan menyewa kendaraan penulis beserta tim menempuh perjalanan darat yang cukup melelahkan dengan medan berat sekitar 4 jam untuk sampai di kota Teluk Dalam. Keterpencilan Nias terlihat jelas dari realitas bahwa lautan yang memisahkan Nias dengan Pulau Sumatera adalah lautan dalam. Nias adalah bagian Sumut yang "terpencil" karena tidak sembarang kapal bisa mengarungi samudra. Ditambah lagi dermaga di Gunung Sitoli sedang diperbaiki sehingga hanya kapal kecil yang dapat berlabuh.
Perjalanan kedua jauh lebih nyaman, karena ditempuh melewati kota Medan Sumatera Utara. Dengan pesawat fokker-50, tim berangkat dari bandara Polonia dan menempuh perjalanan sekitar 1 jam untuk sampai di Bandara Binaka yang terletak sekitar 20 kilometer di selatan Gunung Sitoli. Ini merupakan bandara satu-satunya di Nias dengan kondisi yang agak terbengkalai karena tidak terawat sebagaimana mestinya. Sedikitnya penerbangan yang masuk ke sana akhirnya membuat minimnya dana untuk perawatan bandara kecil itu. Dengan panjang landasan pacu sekitar 1,5 kilometer, hanya pesawat jenis cassa, cesna, dan fokker yang dapat mendarat. Pascagempa menyisakan retakan di landasan pacu sepanjang 150 meter. Jumlah penerbangan yang menuju Binaka dari Medan dan sebaliknya, ada 3 maskapai dengan penerbangan 2 kali sehari. Dari Bandara Binaka kita bisa menyewa kendaraan atau travel untuk perjalanan darat sekitar 4 jam ke Teluk Dalam.
Sarana transportasi darat di Nias pun merupakan mimpi buruk bagi wisatawan yang tidak suka petualang. Sangat beruntung kalau Anda bisa menempuh perjalanan Gunung Sitoli-Teluk Dalam, yang jaraknya sekitar 120 kilometer, dalam empat jam. Kondisi jalan di sana buruk dan kalaupun diperbaiki, biasanya hal itu hanya bertahan untuk waktu yang singkat, selanjutnya akan rusak kembali. Tanah di Nias labil sehingga jalan yang baru diperbaiki hanya akan berumur pendek.
Keterbatasan sarana dan prasarana transportasi dan komunikasi tidak hanya antara kabupaten dan tetangga di sekitarnya, tetapi juga terjadi antarkecamatan dalam kabupaten. Sinyal telepon seluler hanya operator tertentu yang beroperasi dan hanya di kota Teluk Dalam yang dapat menerima sinyal, masuk pedalaman sedikit sudah blank. Bila menelusuri daerah pedalaman, tidak jarang terlihat jembatan dalam kondisi rusak. Untuk sampai seberang jembatan, perlu nyali untuk petualang. Butuh waktu berjam-jam, untuk bisa menginjakkan kaki di Teluk Dalam.
Di bidang pariwisata, potensi wisata kabupaten Nisel sebenarnya cukup menjanjikan terutama dengan pantainya yang indah. Sorake, salah satu pantai di daerah itu, akrab di telinga penggemar olahraga selancar, karena mempunyai ombak yang cukup tinggi. Turnamen selancar tingklat dunia beberapa kali diadakan di pantai itu. Terdapat juga andalan wisata lainnya yaitu Pantai Lagundri yang berpasir putih, terletak disebuat laguna yang bersebelahan dengan pantai Sorake. Pantai ini berjarak sekitar 13 km selatan kota Teluk Dalam. Di Kecamatan Pulau-pulau Batu terdapat lokasi menyelam, terumbu karang, serta ikan- ikan hias dan pantai berpasir putih. Ada juga peninggalan zaman megalitik berupa batu-batu megalit di Kecamatan Lahusa dan Gomo. Selain itu juga terdapat peninggalan cagar budaya yang masih dipu yaitu permukiman desa adat di Bawomataluo yang terletak dipedalaman dan berada di puncak bukit. Kompleks rumah adat Nias di Desa Bawamataluo lengkap dengan daya tarik berupa masih aslinya kehidupan masyarakat di sana dengan berbagai tradisi diantaranya dalah Hombo Batu atau yang dikenal dengan Lompat Batu.
Beberapa kali telah diadakan lomba berselancar tingkat internasional di Pantai Sorake, tetapi lokasi ini belum tertata dengan rapi. Sepanjang pantai Lagundri dan Pantai Sorake berjajar home stay yang siap melayani dan membuai wisatawan yang ingin menikmati keindahan pantai, dengan tarif yang cukup murah sekelas penginapan melati. Sampai saat ini kalau kita naik feri dari Sibolga menuju Gunung Sitoli atau naik pesawat dari Polonia ke Binaka, kita akan menjumpai banyak sekali turis berkulit putih. Mereka adalah penggemar olahraga selancar yang akan datang ke Pantai Sorake dan menikmati keindahan pantai pasir putih di Lagundri. Tempat surfing dan selancar yang disebut paling baik kedua setelah Hawaii adalah Pantai Sorake dan Lagundri.
Menurut Harison Sagoto, pemuda setempat, ombak di pantai Sorake bisa mencapai ketinggian 15 m karena langsung berhadapan dengan Samudera Indonesia. Ombak di Sorake ini konon memang sangat ideal untuk olahraga air berselancar. Ombak di pantai ini punya lima tingkatan. Tidak ada tempat lain di dunia yang punya ombak seperti itu. Jadi, kalau peselancar gagal main slalom di sana, mereka masih bisa melanjutkan atraksi dengan gaya lain di tiap ombak berikutnya. Gagal lagi, masih ada tiga jenis ombak menanti sehingga permainan selancar wisatawan menjadi lebih panjang. Akibat olahraga selancar pula, di kedua pantai ini tumbuh aneka penginapan dan kafe. Kedua pantai itu seakan Kuta atau Legian keduanya Indonesia.
Namun, kenyataan menunjukkan pantai Lagundri dan Sorake hanya ramai saat ada kejuaraan internasional selancar, yang biasanya jatuh pada bulan Juni - Juli, saat ombak sedang besar-besarnya. Di luar itu, kedua pantai tersebut adalah pantai indah yang sepi dan sunyi, demikian ratapan seorang pengusaha home stay di Lagundri bernama Milyar Wau.
Pantai-pantai indah inipun pada hari libur terutama hari Sabtu dan Minggu selalu sedsak ramai tua muda kyang mandi, renang atau sekedar jalan-jalan menikmati keindahan laut untuk sekedar refresing menghabiskan waktu liburan bagi masyarakat sekitar kota Teluk Dalam dan sekitarnya.Wisata murah meriah ini menjadi satu-satunya pilihan rekreasi warga.
Untuk menjaring wisatawan, di pantai Sorake telah dibangun Hotel berbintang bernama Sorake Beach Resort yang diresmikan pada 20 Juli 1994, oleh Raja Inal Siregar Gubernur Sumatera Barat saat itu. Karena itu, Hotel Sorake ini sungguh direncanakan dan dibangun dengan bagus, berlantai marmer dan aneka perabotnya sekelas dengan yang ada di hotel berbintang empat. Untuk yang ingin merasakan tidur di bangunan rumah adat Nisel, dibuat juga cottage yang mengambil model rumah tradisional Nisel.
Nisel sangat potensial dalam segi wisata, namun terabaikan karena lupa membangun sarana dan prasarana terutama transportasi yang memadai. Selancar, surfing, atau sekadar bertelanjang dada menikmati sinar mentari di pantai-pantai menjadi gambaran yang lekat begitu kata "Nias" disebut. Bayangan indahnya pulau yang termasuk wilayah Provinsi Sumatera Utara ini pun menyeruak. Lautnya yang jernih, berlapis warna hijau bening dan biru memukau, pasir putih, dan nyiur pepohonan kelapa. Terselip tetapi tak kalah menarik, yaitu pesona tinggalan budaya megalitik dan juga rumah-rumah adat ramah lingkungan serta berbagai hasil karya masyarakat Nias yang telah berumur ratusan tahun.
Selain desa adat Bawomataluo sebenarnya ada beberapa permukiman adat yang dapat menjadi andalan wisata Nisel, seperti desa adat Botohilitano yang banyak terdapat batu megalitik yang dilengkapi dengan ukiran dan patung bermotifkan hewan dan tumbuhan. Desa adat Orahili yang merupakan cikal bakal berdirinya Bawomataluo juga masih indah dengan deretan rumah adat yang saling berhadap-hadapan yang kelihatan menawan jika dilihat dari desa Bawomataluo karena berada di bawahnya. Desa adat Hilinawa Mazinge yang mempunyai rumah adat besar atau sering disebut Omo Sebuo yang merupakan rumah pemimpin adat dan rumah bangsawan yang tertua di Nias. Menurut sebuah buku yang tim baca di rumah besar Hilinawa Mazinge, rumah tersebut masuk dalam daftar 10 rumah tertua di dunia.
Untuk mencapai desa adat Hilinawa Mazinge perlu perjuangan ekstra keras dan siap untuk berpetualang. Tim pernah mempunyai pengalaman menarik dengan bermodalkan pemandu pemuda setempat yang juga belum pernah kesana dan sedikit informasi, nekat mengunjungi Hilinawa Mazinge. Ternyata kita harus mengusuri 3 buah sungai yang tidak ada jembatannya sehingga harus basah kuyup untuk menyeberang dan dengan dibantu penduduk sekitar untuk menyeberangkan kendaraan roda dua yang kita pakai, akibatnya banyak HP dan kamera yang terendam belum lagi saat itu baru saja habis hujan lebat sehingga air sungai meluap.
Dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Sumatera Utara, Nias bisa dibilang tertinggal dalam nyaris segala hal. Mungkin ada yang beranggapan bahwa Pemerintah "mengabaikan" Nias. Namun, ada realitas lain yang tidak boleh diabaikan kemungkinannya, yaitu akibat posisi dan keadaan geografisnya sendiri. Sebenarnya Nias sangat potensial untuk bisa menjadi daerah tujuan wisata dan mempunyai alam yang indah. Begitu banyak potensi siap utuk membuai wisatawan dan diharapkan mampu membuka sejuta peluang pengembangan ekonomi bagi warga Nisel, tetapi kenyataannya ternyata jauh dari panggang. Untuk menelusuri Nisel dan menikmati potensinya yang tersebar di pulau itu membutuhkan nyali dengan berbagai kesulitan yang akan ditemui.

dimuat di Suara Merdeka, Minggu, 13 Mei 2007

Read More..