Selamat datang di dunia maya..... Perkenalkan saya seorang yang lagi belajar akan tulis menulis tentang masalah arsitektur, perkotaan, perubahan iklim dan arsitektur tropis(sustainable architecture, urban, climate change and tropical architecture) Ijinlankah saya menyampaikan ide-ide melalui jemari lewat tulisan. Terima kasih dan Semoga bermanfaat..

Showing posts with label kota kita. Show all posts
Showing posts with label kota kita. Show all posts

Tuesday, April 22, 2008

Politisasi Jalan Mengabaikan Estetika Kota

Sepanjang jalan di kota Semarang sekarang lagi ramai spanduk dan poster kampanye. Masing-masing tim sukses berusaha keras memilih tempat-tempat strategis untuk memasang alat kampanye. Banyaknya spanduk dan baliho calon gubernur maupun wakilnya yang akan maju dalam pemilihan gubernur Jawa Tengah ini secara tidak langsung mengisyaratkan adanya kegiatan "kampanye terselubung". Minimal upaya mensosialisasikan calon yang akan ikut meramaikan pesta demokrasi.
Semarang sebagai ibukota propinsi tidak luput dari sasaran kegiatan promosi cagub dan cawagub. Hampir di setiap titik strategis terpasang spanduk cagub. Ada yang terang-terangan minta dukungan, namun ada pula yang masih "malu-malu". Sekedar memasang gambar dengan gagasan dan konsep pembangunan Jawa Tengah. Hal ini secara tidak langsung pemasangan iklan itu merupakan bentuk kampanye.
Pemasangan iklan cagub dan cawagub sebelum waktunya itu menimbulkan persoalan yang cukup kompleks. Setidaknya bagi Pemkot yang wilayahnya menjadi "sasaran" pemasangan, di samping terkadang pemasangannya tidak mengindahkan faktor estetika tata kota. Misalnya penempatan spanduk yang merentang berada di lokasi strategis yang dipasang dengan memakai seutas tali plastik diantara 2 buah pohon, atau diantara tiang listrik maupun tiang telpon.
Di beberapa penggal jalan, sangat sering dijumpai pemasangan spanduk dan poster tumpang tindih dan terkesan asal pasang untuk menperlihatkan kelebihan masing-msing calon. Kita perhatikan pemasangannya sering menghalangi pemandangan papan penunjuk jalan, bahkan rambu lalu lintas. Luas pandangan mata kita di jalan, yang sebenarnya merupakan hak publik, telah dirampas oleh pemandangan spanduk yang hampir menutupi pandangan. Belum lagi banyak poster yang terpasang di pohon-pohon peneduh jalan dengan cara dipaku. Hal ini jelas-jelas tindakan yang tidak bersahabat dengan lingkungan.
Untuk itu, Pemkot harus bersikap tegas terkait maraknya iklan para calon gubernur dan wakilnya. Iklan-iklan itu, khususnya yang tak berizin, wajib ditertibkan. dengan cara menurunkan iklan-iklan "ilegal" itu. Sikap tegas ini bukan berarti Pemkot terlalu profit oriented (orientasi keuntungan), namun hal itu dilakukan semata-mata untuk menegakkan peraturan dan menerapkan azaz keadilan bagi masyarakat.
Pemkot perlu melakukan pengawasan berkala melalui satuan Polisi Pamong Praja. Hal ini untuk mengantisipasi iklan cagub dipasang di sembarang tempat dan dengan konstruksi yang asal-asalan pula. Padahal, pemkot memiliki prosedur soal pemasangan dan konstruksinya. Jika terjadi bencana misalnya ambruk, dan menimpa pengguna jalan, pemkot tidak akan sulit untuk mencari siapa yang bertanggung jawab.
Selanjutnya, Pemkot perlu menetapkan kawasan white area. Kawasan tersebut harus bersih dari iklan cagub dan cawagub. Kawasan bebas iklan ini dapat mengacu pada Perda tentang Reklame. Pemkot wajib memberikan rekomendasi di ruas jalan mana saja yang bisa dipasangi iklan agar tidak bertentangan dengan keindahan kota. Alangkah indahnya bila pemasangannya tidak mengganggu fasilitas publik (tiang telepon, tiang listrik, pohon jalan, penunjuk jalan hingga rambu lalu lintas).
Memang bukan hal mudah untuk mengurai benang persoalan ini. Bisa dipahami jika cagub dan cawagub punya kepentingan kuat untuk "mengiklankan diri". Tapi mestinya harus tetap mengedepankan etika politik dan menghormati regulasi yang berlaku. Sebab Pemkot juga punya kepentingan untuk menata kotanya supaya terlihat estetik dan menegakkan aturan yang berlaku. Jangan sampai jalan yang kita miliki sebagai ruang publik bersama telah penuh sesak dengan ”produk politik” sehingga yang terjadi hanyalah politisasi jalan raya. Sebagai warga kota, kita tidak ingin Semarang terjadi kesemrawutan visual hanya karena hutan iklan produk politik yang dipasang di sepanjang ruas jalan.

Penulis :
Sukawi, Pengajar Arsitektur UNDIP dan aktivis Komunitas Loenpia.net

dimuat di KOMPAS 1 April 2008

Read More..

Monday, March 10, 2008

Menyelamatkan Jalan Kaligawe

Mengapa jalan Kaligawe? Di sepanjang jalan ini, terdapat fasilitas transportasi Terminal Induk Terboyo, Rumah Sakit, Perguruan Tinggi dan puluhan perusahaan besar beroperasi, untuk mendukung investasi di kota Semarang khususnya. Di samping itu, Kaligawe merupakan jalan yang sangat vital karena menghubungkan Semarang dengan kota-kota di sepanjang Pantura ke arah Jawa Timur.
Di sepanjang Jalan Kaligawe telah terjadi aglomerasi spontan di Semarang, terutama sepanjang jalur regional berupa kegiatan komersial. Sering terjadi migrasi keluar-masuk yang kontras pada waktu sibuk yaitu saat masuk dan keluar tempat kerja, terutama para pekerja dari Semarang,Demak, Kudus, dan sekitarnya. Ternyata ribuan orang yang menggantungkan nasib pada penggal jalan Kaligawe ini. Hal ini menunjukkan bahwa sepanjang jalan merupakan ''jantung'' dan “urat nadi” ekonomi Kota Semarang.
Permasalahan spesifik Jalan Kaligawe adalah soal lingkungan hidup, yakni banjir dan rob yang hingga saat ini belum dapat dipecahkan. Jalan yang penting ini tenggelam dalam banjir, rob, kemacetan lalu lintas, jalan rusak parah, teremdamnya pabrik dan penataan tempat usaha yang tidak mempertimbangkan aspek-aspek tata kota, ekologi, dan ekonomi. Kalau tidak segera ditangani, para investor akan ''lari'' dari Semarang.
Untuk menyelamatkan Kaligawe, hal yang perlu dilakukan, pertama memecah kepadatan arus lalu lintas dengan jalur alternatif. Dari arah timur, dapat dialihkan arus lalu lintas dari Kaligawe (Pasar Genuk) melintasi Jalan Wolter Monginsidi kemudian Jalan Arteri Soekarno-Hatta, begitu juga sebaliknya. Namun, kelemahan jalur alternatif ini adalah masalah jarak dan waktu tempuh. Dengan kondisi jalur alternatif yang kurang layak terlihat di Jalan Wolter Monginsidi, di beberapa titik berlubang, sempit, dan tergenang air. Jarak tempuh Kaligawe menuju ke Batas Kota Semarang-Demak yang seharusnya cukup 3 atau 4 km saja, kenyataannya menjadi sekitar 15 km.
Kedua, sudah waktunya Jalan Kaligawe dibuatkan jalan layang atau jalur lingkar untuk memecah konsentrasi arus lalu lintas yang makin padat. Hal ini harus segera dilakukan karena di Semarang ini tidak ada jalur alternatif yang tepat dan efisien sebagai jalur alternatif. Jalur-jalur yang ada, sebagian kondisi jalannya kurang layak dan yang lain memiliki jarak tempuh cukup jauh.
Ketiga, persoalan penurunan tanah juga harus ditangani. Kecepatan penurunan tanah perlu dikendalikan dengan berbagai cara. Salah satunya mengendalikan penggunaan air bawah tanah (ABT) di kawasan tersebut. Jika pengambilan melebihi air yang bisa meresap ke tanah, penurunan akan lebih cepat terjadi.
Keempat, Rencana perbaikan (peninggian) jalan Kaligawe bertahap harus dilaksanakan konsisten dan tepat waktu, agar peninggian jalan tidak terkesan sepotong-sepotong, tetapi komprehensif. Jika tidak demikian, akan menimbulkan persepsi pemerintah sekadar memindahkan lokasi banjir dan menenggelamkan lingkungan sekitar. Peninggian jalan tersebut hendaknya mempertimbangkan kawasan industri Kaligawe yang sudah terbangun lama.
Kelima, normalisasi saluran Gebangsari, Kaligawe dan Tenggang harus secara rutin dilakukan. Hal ini dikarenakan kondisi saluran sudah memprihatinkan, pada kondisi normal, saja muka air yang sudah sejajar dengan muka jalan dan dipenuhi oleh tumbuhan enceng gondok. Jika terjadi hujan, pasti airnya akan meluap di jalan raya.
Pembenahan infrastruktur kota merupakan hal penting yang perlu diperhatikan Pemkot. Bidang itu dinilai masih menjadi titik lemah sekaligus PR paling berat bagi Pemkot. Mengacu pada dampak akibat bencana banjir yang terjadi rutin setiap tahun menggenangi Kaligawe, maka perlu kesadaran kolektif untuk meminimalisasi kasus ini terulang di kemudian hari. Kesadaran kolektif yang harus terjadi secara vertikal dan horizontal tentu memungkinkan untuk menjaga Kaligawe dari kepungan banjir tahunan.
Penulis :
Sukawi, Dosen Arsitektur UNDIP dan Ketua Litbang Asosiasi Profesi Tenaga Terampil dan Ahli (APTA) Indonesia Cabang Jawa Tengah

dimuat di Kompas, 26 Februari 2008

Read More..

Tuesday, February 05, 2008

Pasar Imlek, Mendongkrak Pesona Pecinan


Menjelang Tahun Baru Imlek 2559, kawasan pecinan Semarang sudah mulai marak dan meriah dengan pernak-pernik Imlek. Para pedagang di sekitar Pecinan, bukan saja menjual aneka hiasan atau perangkat khas Imlek yang bernuansa merah, tetapi juga menghias tokonya dengan berbagai hiasan sehingga suasana Pecinan sangat terasa.
Kawasan pecinan Semarang pada siang hari merupakan sentra bisnis yang cukup ramai dan sibuk, seperti di Jalan Kranggan sebagai pusat penjualan kain dan perhiasan. Ada pasar Gang Baru, ada Gang Beteng, Gang Pinggir, dan Gang Besen, yang juga ramai di waktu siang, tetapi cukup lengang di waktu malam. Untuk itu perlu suntikan aktivitas bisnis di kawasan ini untuk lebih menghidupkan suasana Pecinan di waktu malam. Salah satunya adalah Pasar Imlek Semawis (PIS) yang dimanfaatkan sebagai tujuan wisata kuliner sekaligus memperkenalkan budaya khas Cina.
Membangun citra Pasar Imlek Semawis, harus lebih dari sekadar menjual pernak-pernik Imlek. Jika tidak, tentu tak ubahnya bazar atau pasar malam belaka. Pernak-pernik yang menambah maraknya Imlek itu, antara lain lampion-lampion, amplop merah (angpao), spanduk hiasan berwarna merah bertuliskan emas, pakaian etnik China, kembang api, mainan tikus, kue keranjang, buah jeruk dan pir, serta bunga mei hoa warna merah muda.
Kolaborasi aktivitas perdagangan dan pertunjukan budaya barangkali menjadi poin jual yang bisa dikembangkan. Kekhasan Imlek di Semarang, mestinya tidak melulu difokuskan pada tradisi perayaan tahun baru dalam penanggalan Cina saja. Melainkan, justru pada kemampuan untuk mengeksplorasi karakter yang membedakan perayaan Imlek di Semarang dengan perayaan sejenis di kota lain atau bahkan negara lain. Budaya di kota pesisir Pantai Utara Jawa ini sudah terakulturasi sehingga banyak potensi yang sebenarnya bisa ditonjolkan.
Tujuan wisatawan datang ke pecinan Semarang selain karena makanan khas oriental, juga untuk menikmati suasana, kesenian dan budaya khas pecinan. Untuk itu perlu menciptakan peluang bisnis yang sesuai dengan lingkungan sekaligus dapat menghidupi kawasan tersebut. Misalnya bisnis obat cina (sinse), konsultasi fengsui, kerajinan /suvenir, dan makanan khas China.
Belum lagi makanan khas yang diproduksi di kawasan ini. Ada lunpia Gang Lombok, kue pia Cap Bayi, kue bulan. Ada pula Warung Makan Pak Ndut, Sate Kambing Guci dan Kapuran, Rumah Makan Permata Merah yang sudah berusia satu abad, Es Marem Gang Baru, dan Soto Bonkarang, yang pasti menggoda siapa saja untuk datang mencicipi sambil menikmati suasana malam khas permukiman Pecinan.
Pelestarian tradisi semacam perayaan Sam Poo Besar juga dapat dikemas menjadi event wisata yang menarik. Di samping itu, kesenian semacam Barongsai, Wayang Potehi bisa dikemas dengan tampilan yang disesuaikan dengan kondisi zamannya. Selain warisan leluhur Tionghoa, ada baiknya menampilkan budaya yang sudah berakulturasi dengan kebudayaan timur. Belum lagi potensi wisata budaya dengan tawaran sembilan kelentengnya. Biasanya pada pagi hari pertama Imlek, kelenteng-klenteng di Pecinan dipadati oleh para pengunjung yang sembahyang. Terlebih pada Klenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok yang merupakan klenteng induk bagi seluruh klenteng di Semarang.
Suatu saat nanti kawasan pecinan Semarang akan seperti “Kya-Kya” Kembang Jepun, Surabaya atau Kesawan Square di Medan. Di tengah kepadatan rumah dan bangunan tuanya, kawasan pecinan Semarang menyimpan sejuta kisah kejayaan dan potensi wisata yang menjanjikan. Gong Xi Fat Cai.
Penulis : Sukawi, Dosen Arsitektur dan Pusat Studi Pariwisata UNDIP Semarang

Dimuat di Kompas, Selasa, 5 Februari 2008

Read More..

Tuesday, October 23, 2007

Jam Kota, Bukan Sekedar Elemen Estetis Kota

Jam atau arloji merupakan salah satu benda penting sebagai penunjuk waktu. Tempo dulu, arloji termasuk benda mewah sehingga yang memiliki hanya orang-orang tertentu. Mengingat jam atau arloji itu sangat dibutuhkan masyarakat maka pemerintah Belanda pernah mendirikan jam kota di dekat Pasar Johar yang sekarang sudah hilang tergusur trotoar pasar Ja’ik. Saat ini kita sering menjumpai jam kota yang didirikan pihak swasta di beberapa penggal jalan protokol. Jam kota dapat kita jumpai diantaranya di Pertigaan Kaliwiru, Perempatan Metro Peterongan, sudut Taman Diponegoro, sekitar Taman Menteri Supeno, taman di jalan Sudirman dan banyak lagi.
Tetapi alangkah sedihnya, saat ini apabila kita berkendara dan menjumpai jam kota banyak yang mati dan tidak berfungsi. Rasa kecewa bertambah lagi ketika jam kota yang mahal ini tidak ada yang bertanggung jawab terhadap pemeliharaan rutin dan perbaikannya. Padahal sebenarnya kehadiran jam kota yang tersebar di jalan-jalan kota Semarang ini dimaksudkan untuk mengingatkan waktu kepada warga Semarang.
Penunjuk waktu yang selanjutnya disebut jam ternyata sudah dikenal sejak 1.500 tahun sebelum Masehi oleh bangsa Mesir dengan sebutan sundial, sebuah instrumen penunjuk waktu dengan memanfaatkan bayang-bayang benda dari sinar matahari. Baru kemudian sundial dikenal bangsa China, Mesopotamia, dan Yunani.
Kehadiran jam kota sangat dibutuhkan warga, sehingga letaknya harus strategis, jumlahnya harus cukup, sehingga bisa dilihat banyak orang. Meski tampak sepele, namun jam kota tersebut tidak sedikit jasanya bagi masyarakat sehingga dapat dijadikan sebagai penanda/ tetenger kawasan kota. Pemahaman makna tentang nilai, keunikan, karakteristik suatu tempat akan membentuk suatu identity. Identitas akan memberikan "arti" sebagai pembentukan image suatu tempat (place). (Lynch,1960).
Salah satu di antaranya dapat menjadi identitas kota karena keunikan dari bentuknya. Seperti menara jam di Gedung Parlemen Inggris, yang terkenal dengan sebutan Big Ben. Di Bukittinggi, Sumatera Barat, ada jam Gadang yang menjadi identitas dan landmark kota. Jam ini dibangun oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1827 sebagai tempat pengintaian pada saat berkecamuk perang Padri (1825-1830). Tugu ini didirikan di dataran paling puncak Bukit Kandang Kabau yang berada di pusat Kota Bukittinggi. Lonceng juga berbunyi setiap jam dan penduduk Bukittinggi biasa menjadikan Jam Gadang sebagai panduan waktu karena dentangan loncengnya terdengar hingga jarak yang jauh.
Sebenarnya pembangunan jam kota di Semarang ini agar dapat meningkatkan tingkat kedisiplinan masyarakat Semarang. Selama ini kita menilai tingkat kedisiplinan orang semarang sangat rendah. Banyak kita jumpai tindakan main serobot baik di jalan raya maupun antrean ditempat umum lainnya. Budaya main terobos inilah yang perlu terus diingatkan di jalan raya, dengan selalu mematuhi setiap rambu lalu lintas. Jangan sampai jam kota yang berdiri di tempat-tempat strategis kota hanya sebagai hiasan untuk memperindah jalan.
Tugu jam bukan sekedar elemen estetis kota, melainkan benar-benar dapat dimanfaatkan masyarakat baik fungsinya sebagai penunjuk waktu, sebagai nilai keindahan/estetis kota serta dapat berguna untuk membudayakan sikap tepat waktu dan disiplin, di jalan raya maupun di tempat umum. Warga kota Semarang terus bermimpikan suasana tertib dan disiplin dijalan raya, walau tidak jelas kapan mimpi itu terealisasi, karena kita memelihara jam kota yang sudah ada pun tidak mampu dan tidak mau…
Penulis :
Sukawi, Pengajar Arsitektur di Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang

dimuat di Kompas selasa, 23 Oktober 2007
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0710/23/jateng/61536.htm

Read More..

Wednesday, March 07, 2007

Menjual Pecinan Melalui Perayaan IMLEK



Tahun Baru China atau Imlek memasuki tahun 2558. Perayaan Imlek tampaknya memiliki pesona tersendiri. Secara konseptual, Imlek digambarkan sebagai keberhasilan, kemakmuran, umur panjang, kebahagiaan yang berlipat ganda, dan kekayaan.
Di kawasan Pecinan ada 8 kelenteng yang selalu dikunjungi saat perayaan Imlek. Satu hal yang tak kalah penting adalah atraksi barongsai dan tarian liong atau naga. Atraksi barongsai maupun lampion atau atraksi lain yang berbau tradisi China wajib diangkat menjadi pertunjukan kebudayaan dan dikemas menarik dengan membuat paket-paket wisata oleh para pelaku pariwisata.
Hotel-hotel dapat menggelar program great sale dengan memberikan diskon harga untuk seluruh jenis kamar. Hal ini secara tidak langsung akan menarik wisatawan untuk bertandang ke kota ini. Mereka akan terkesan melihat suasana kota yang penuh budaya dan didukung sikap kerukunan dan kebersamaan antarwarga meski masyarakatnya multietnis. Perayaan ini akan membuka peluang dan potensi bisnis dan investasi di Semarang serta dapat dimanfaatkan untuk menyosialisasikan potensi pariwisata di Semarang.
Pasar Imlek Semawis (PIS) di Pecinan dapat menjadi salah satu daya pikat wisatawan ke kota ini. PIS dapat diolah sebagai mata rantai dalam rangkaian pariwisata. Untuk itu, PIS harus dikelola secara baik dengan menggali unsur-unsur yang identik dengan kota ini, seperti makanan khas dan kesenian khas. Dengan demikian, PIS diharapkan dapat menyamai Kya-kya Kembang Jepun di Surabaya dan Kesawan Square di Medan.
Kita juga perlu bercermin pada Singapura. Negara yang tak terlampau berbeda luasannya dibanding Kota Lumpia itu lebih berdekatan dengan urusan bisnis. Dalam beberapa tahun saja, para pelancong mulai berdatangan ke sana. Bahkan, negara multietnik itu berani membaiatkan diri sebagai pusat Imlek dan perayaan Imlek masuk dalam daftar paket wisata tahunan. Potensi itu tentu sama besar bila penggarapan tradisi warga keturunan Tionghoa Semarang itu bisa dilakukan secara maksimal.
Dengan demikian, perayaan Imlek akan mendukung gawe besar Pemkot, Semarang Pesona Asia yang akan digelar pada Agustus 2007. Dengan persiapan yang lebih matang dan pengalaman mengorganisasi kegiatan bertaraf internasional, apa yang diharapkan untuk mendorong sektor perdagangan, pariwisata, dan investasi akan dengan mudah terwujud. Jangan sampai semua itu berhenti kepada wacana. Gong xi fa cai!


SUKAWI Pengajar Arsitektur dan Pusat Studi Pariwisata Undip Semarang

dapat dilihat di :

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0702/27/jateng/49097.htm

Read More..

Saturday, December 02, 2006

Semarang "Banjir" Reklame Tempel

Reklame merupakan alat atau media dengan tujuan komersial digunakan untuk memperkenalkan, menganjurkan atau memuji kepada sesuatu produk barang, jasa atau seseorang untuk menarik perhatian umum sehingga dapat dilihat, dibaca dan atau didengar dari suatu tempat oleh umum. Reklame luar ruang (outdoor) biasanya menggunakan spanduk dan baliho. Di sepanjang jalan dan hampir setiap perempatan jalan di Semarang telah disediakan tempat khusus spanduk.
Namun reklame dengan cara ditempel, akhir-akhir ini dibiarkan tumbuh liar. Saat ini terjadi kesemrawutan pada wajah kota dengan iklan tempel pada titik-titik baru yang semakin bertambah. Kenyataannya dilapangan saat ini titik reklame tempel tumbuh bagai cendawan dimusim hujan, sehingga Semarang kebanjiran reklame tempel.
Seringkali kita jumpai reklame ini dipasang dengan ditempel pada pohon-pohon, tiang listrik, tiang telpon, bahkan tiang lampu pengatur lalu lintas. Media reklame ini bentuknya kecil, sederhana dan berupa pesan singkat. Misalnya, "Butuh Dana Cepat", "Kredit Tanpa Jaminan", “ Sulap dan Badut” sampai “Kursus Musik” yang disertakan nomor telepon bahkan alamat yang jelas.
Pemasang reklame berusaha untuk memasang reklame dekat dengan konsumen yang akan dijaringnya. Kalau kebetulan melewati daerah permukiman, di sepanjang jalan masuk yang masih banyak pohon, kita akan segera menemukan jenis "reklame tempel" seperti “Sedot WC”, “Service Kompor Gas”, “Sewa dan Service AC”, sampai “ Tukang Batu dan Kayu” berikut dengan nomer telponnya . Atau kalau kita memasuki kawasan kampus, jalan juga diserbu reklame tempel seperti “Terima Kost Putri", “Konsultasi Skripsi”, “Kursus Bahasa Inggris”, sampai “Rental Komputer”, disertai nomer telponnya.
Salah satu dari sekian banyak permasalahan yang membuat Semarang semakin kotor, selain polusi dan sampah, adalah reklame tempel yang terpampang tidak hanya di tembok sepanjang jalan, pagar rumah, tetapi juga di tiang dan pohon, yang melekat ini akan sulit dibersihkan sehingga yang tersisa adalah sampah tempel yang semakin membuat kotor.
Reklame tempel tersebut bisa dianggap sesuatu yang "liar" karena tidak membayar pajak. Jangka waktu reklame tempel tidak dibatasi oleh waktu. Reklame tempel bisa tak terbatas waktunya, bahkan ada reklame tempel yang sudah kusam tetap merekat, dan dibiarkan merana. Tentunya punya risiko, seperti spanduk, yaitu hilang.
Tindakan yang perlu dilakukan Pemkot untuk mengendalikan perkembangan reklame tempel diantaranya: merelokasi reklame tempel dengan membuat tempat khusus, mengadakan pembinaan dan penegakan hukum berupa sanksi tegas terhadap pemasang reklame tempel yang masih membandel. Sanksi dapat berupa denda tinggi bagi yang masih melakukan, dan kewajiban untuk membersihkan sisa-sisa reklame tempel tersebut sampai bersih. Dan mengadakan pengawasan secara berkala.
Pembenahan masalah reklame tempel ini dapat dimulai dari sisi manajemen kota, terutama niat dari pengelola kota untuk lebih memperketat tugas pengontrolan, pengawasan, ijin serta menutup peluang munculnya reklame tempel yang melanggar aturan. Hal ini juga harus diimbangi oleh kesadaran dan kedisiplinan masyarakat untuk ikut menjaga keharmonisan visual kota.

Penulis :
Sukawi ,Dimuat di : Kompas, 3 Oktober 2006
selengkapnya di :
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0610/03/jateng/42438.htm

Read More..

Monday, August 07, 2006

Semarang 'menjual' Cheng Ho

Dalam waktu dekat, tepatnya setiap menginjak bulan keenam penanggalan Imlek, Kota Semarang akan merayakan kedatangan Laksamana Cheng Ho bersama juru mudinya Wan Jing Hong (Ong King Hong). Prosesi biasanya dipusatkan di tempat mereka merapat tahun 1405 lalu, yaitu di kawasan Simongan, kurang-lebih 3 km arah barat Tugu Muda. Tempat tersebut dibangun monumen religius bernama Kelenteng Sam Poo Kong atau Gedong Batu pada tahun 1724. Selama beratus-ratus tahun, Klenteng Sam Poo Kong telah menjadi tempat tujuan wisatawan dan peziarah dari seluruh dunia untuk mengenang kebesaran Laksamana Cheng Ho.
Upaya untuk menjual potensi wisata ini dapat dilakukan dengan mempercantik Klenteng Sam Poo Kong. Selama ini ''terdamparnya'' Sam Poo Tay Djien (Laksamana Cheng Ho) hingga di Gedong Batu ditandai dengan ritual arak-arakan patungnya dari Klenteng Tay Kak Sie di kawasan Pecinan ke Klenteng Sam Po Kong Gedong Batu Simongan. Arak-arakan ini juga merupakan aktrasi tersendiri yang dapat dijual kepada wisatawan. Festival Barongsai maupun Lampion atau aktraksi lainnya yang berbau tradisi Cina juga wajib untuk diangkat menjadi sebuah pertunjukan kebudayaan dan dikemas yang menarik. Agar suasana terkesan lebih hidup, replika perahu atau kapal Sam Poo Kong perlu juga dibuat di sungai Banjir Kanal Barat.
Para pelaku pariwisata dan penyelenggara akomodasi wajib mengemas kegiatan ini dengan membuat paket-paket wisata yang relatif murah tapi menarik. Berkaitan dengan upaya menggaet wisatawan, sebetulnya di Semarang banyak Chinese Heritage (Pusaka Budaya Cina) seperti kawasan Pecinan dengan 10 klentengnya. Klenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok, merupakan klenteng induk bagi seluruh klenteng yang ada di Semarang
Dengan kedatangan wisatawan akan memutar roda perekonomian dan perdagangan. Mulai dari akomodasi, cinderamata, makanan, dan transportasi akan mengalami kenaikan permintaan yang akan menimbulkan efek domino bagi sektor yang lain, termasuk sektor investasi. Dengan peringatan ini diharapkan kegiatan pengembangan pariwisata di Semarang akan menggeliat. Sehingga peninggalan Cheng Ho termasuk kegiatan didalamnya dapat menjadi aset wisata yang mampu menjadi sarana bisnis dan mendatangkan pendapatan bagi kota Semarang.

Penulis :
Sukawi
Dosen Arsitektur dan Pusat Studi Pariwisata UNDIP Semarang
Dimuat : Kompas, 18 Juli 2006

Read More..

Monday, July 03, 2006

PRPP, Alternatif Pusat Keramaian di Semarang

Kawasan Simpang Lima makin padat dan sesak. Ketidaknyamanan ini sangat terasa pada hari libur, terutama malam hari. Sekadar mencari tempat parkir saja sulit, karena penuh dan macet. Tahun 1980-an, warga bisa berlari-lari pagi di lapangan setiap Minggu. Namun, itu tak bisa lagi dilakukan karena trotoar di tepi lapangan dipenuhi PKL.
Simpang Lima saat ini menjadi semacam "superblok", di kawasan itu banyak gedung besar. Simpang Lima telah menjadi salah satu pusat Kota Semarang yang paling sibuk. Jika tak dikendalikan, bukan tak mungkin akan muncul gedung-gedung besar lagi di tempat itu.
Banyaknya jenis kegiatan yang dibebankan pada kawasan ini menimbulkan berbagai macam persoalan sehingga muncul wacana tentang alternatif pusat keramaian untuk memecah aktivitas publik.
Pemerintah Kota Semarang pernah mengeluarkan larangan agar acara semacam konser, pertunjukan, dan pengumpulan massa tidak dilakukan di kawasan ini. Ironisnya, pemkot justru tidak konsisten dan izin pun beberapa kali diberikan sehingga menambah beban kawasan ini. Pemkot juga harus kembali memikirkan untuk membuat alternatif pusat keramaian baru seperti pembuatan Simpang Lima kedua.
Pemkot harus menata Simpang Lima agar kawasan itu bisa kembali ke fungsi semula, yakni sebagai ruang publik dan dikembalikan pada rakyat. Saat ini, fungsi itu relatif terabaikan sehingga kenyamanan masyarakat untuk melakukan interaksi sosial di jantung Kota Semarang itu menjadi berkurang.
Menurut Wayne Attoe, untuk membangkitkan aktivitas kota "mati", salah satunya membuat wadah atau tempat untuk mengumpulkan kegiatan masyarakat kota diiringi penambahan fasilitas publik. Berdasarkan konsep ini, kiranya dapat dipelajari tentang keberhasilan pengembangan pusat kegiatan masyarakat.
Karakteristik Simpang Lima dapat digunakan sebagai acuan dalam pembuatan pusat keramaian publik baru. Karakteristik ini berhubungan dengan aktivitas publik, yakni fungsi sebagai pusat perdagangan, pencapaian yang mudah, kontinuitas kegiatan, dan daya tampung masyarakat.
Semua kegiatan tak selalu difokuskan di Simpang Lima. Misalnya, penyelenggaraan musik tidak harus selalu di kawasan itu. Lokasi lain yang bisa dimanfaatkan antara lain PRPP. Kawasan yang dibangun dengan biaya besar dan merupakan aset pemerintah ini perlu dikembangkan.
PRPP di Semarang Barat dekat bandara dan dapat dicapai dari jalan Arteri. PRPP dapat menjadi alternatif pusat keramaian baru dan kegiatan publik Kota Semarang, dengan tidak mengulangi kesalahan yang sama di kawasan Simpang Lima.

SUKAWI Dosen Arsitektur Universitas Diponegoro Semarang

dimuat: Kompas 27 Juni 2006
selengkapnya dapat diakses di
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0606/27/jateng/37744.htm

Read More..

Thursday, June 08, 2006

Seandainya Jalan Pemuda jadi 'City Walk'

Banyak orang yang enggan berjalan kaki di bawah terik matahari Semarang yang membakar. Walaupun, jarak tempuhnya tak sampai satu kilometer, tetapi orang Semarang cenderung naik mobil pribadi atau kendaraan umum. Mana ada karyawati yang rela polesan make up-nya rusak gara-gara cucuran keringat akibat berjalan kaki. Atau, apa mau wangi parfumnya berganti bau tak sedap terkena kepulan asap knalpot kendaraan. Makanya, jangan heran kalau banyak orang Semarang lebih memilih naik kendaraan daripada jalan kaki meski untuk tujuan paling dekat.
Sebuah penelitian merekomendasikan, Jl Pemuda mempunyai potensi untuk dapat dijadikan city walk. Selama ini di kawasan Pemuda kendaraan pribadi justru mendapat prioritas daripada pejalan kaki. Akibatnya, orang berkompetisi dengan kendaraan. Keberadaan trotoar yang kurang nyaman bagi pejalan kaki dengan banyaknya pot bunga yang besar dan kurangnya pohon peneduh yang dapat menyejukkan pejalan kaki.
Supaya lebih manusiawi, ada wacana untuk membuat Jalan Pemuda sebagai kawasan pedestrian di Semarang. Pemilihan ini kemungkinan berkaitan dengan kondisi trotoar di sepanjang jalan Pemuda yang sudah cukup lebar. Saat ini, trotoar yang ada pada umumnya berukuran lebar 2,5-4,5 meter.
Dalam pembangunan city walk, kawasan pedestrian harus dilengkapi jalur khusus untuk pejalan kaki yang dilindungi pepohonan. Mengenai lebar trotoar, sangat tergantung kondisi pedestrian yang ada atau dengan "meminjam" lahan dari pemilik gedung. Sehingga lebar trotoar di satu gedung dengan gedung lainnya berbeda.
Supaya orang tertarik untuk berjalan kaki, pemilik gedung dimungkinkan membangun semacam kafe/kios atau bekerja sama dengan sektor informal seperti PKL. Tujuannya supaya kawasan Pemuda dapat hidup 24 jam. Kalau ada orang berjalan, rasanya cukup nyaman jika disertai kafe/kios yang cantik atau pusat cinderamata di sepanjang kawasan itu, dengan PKL yang sudah mempunyai komitmen terhadap kebersihan lingkungannya sehingga tidak kumuh. Karena city walk lebih menekankan unsur jalan kaki sebagai aktivitas hiburan, sehingga didesain satu paket dengan kepentingan wisata.
Yang terpenting adalah menata kawasan yang sudah terbangun agar mampu memberikan kenyamanan bagi para pejalan kaki. Trotoar dibuat lebar agar tidak menyulitkan orang untuk lewat. Perlu diupayakan terlindung dari sinar matahari dengan menanam pohon pelindung. Karena perlu diingat iklim kota Semarang warm humid yang cukup panas.
Mungkinkah kawasan Pemuda seperti Marioboro Yogyakarta atau Cihampelas Bandung? Apalagi, kawasan Pemuda didominasi bangunan perkantoran. Untuk itu perlu upaya semua pihak agar ada daya tarik supaya orang Semarang senang berjalan kaki di jalan Pemuda.

Penulis :
Sukawi
Dosen Arsitektur Universitas Diponegoro Semarang
dimuat : Kompas 23 Mei 2006
selengkapnya di
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0605/23/jateng/36074.htm

Read More..

Mengidamkan Kicau Burung di Taman Kota Semarang

Apa yang terbersit di benak Anda ketika melihat sekelompok burung beterbangan dan mencari makan di taman kota Semarang? Boleh jadi Anda akan mencari ketapel dan kerikil, atau jaring untuk menangkapnya. Namun, cobalah Anda duduk di sebuah taman kota di kota Putrajaya. Sambil menikmati sepoi angin dan aroma bunga taman, kicau burung seolah ikut menemtramkan suasana hati dan kembali ke alam pedesaan. Ada kalanya burung tersebut mendekat bahkan hinggap dikursi taman. Mereka burung liar tapi tidak peduli oleh banyaknya orang yang duduk ditaman, lalu lalang orang di trotoar, atau berisiknya kendaraan di jalan.
Beberapa kota di Malaysia agaknya masih menjadi surga bagi burung-burung. Di Kuala Lumpur misalnya beberapa jenis burung asyik beterbangan diantara dahan pohon. Seolah-olah mereka ada di setiap sudut kota, hidup berdampingan dengan penduduk kota. Walaupun burung yang ekosistemnya berbeda dengan manusia merupakan makhluk yang peka terhadap perubahan iklim sehingga burung mengenal migrasi.
Ada pemandangan yang lebih indah, menjelang senja hari di Lapangan Merdeka Kuala Lumpur, ratusan burung berbaris beterbangan membentuk formasi sedang melintas menuju peristirahatannya. Kota yang sangat sibuk dan ramai, masih dijumpai burung-burung liar yang beterbangan dan menggantungkan hidupnya dari keberadaan taman kota. Burung yang bebas hidup di tengah kepadatan kota itu tak dapat dipungkiri memberikan tanda berkaitan dengan kebijakan penguasa kota yang mau bersahabat dengan lingkungan.
Kota tetangga kita begitu serius untuk berharmonisasi dengan alam lingkungan, dengan membuat Taman Wetland di Putrajaya. Taman ini untuk mengonservasi air bersih yang bermanfaat untuk menghidupi kota baru sekaligus berfungsi mengontrol kapasitas air yang menuju ke Danau Tasik yang mengelilingi kota, dan dapat untuk tempat penelitian, rekreasi, dan pendidikan yang merupakan ruang belajar di alam nyata. Dalam taman itu terdapat kurang lebih 75 spesies tanaman dan hewan. Sehingga taman itu menjadi surga yang nyaman untuk flora dan fauna berupa beraneka ragam bunga dan burung yang dapat beterbangan ke taman kota. Keseluruhan wilayah Taman Wetland ini dapat dinikmati melalui gardu pandang yang diperuntukkan bagi wisatawan.
Kota Semarang sebenarnya mempunyai potensi untuk menjadikan taman kota sebagai habitat para burung. Kita bisa melihat pemandangan menarik banyaknya burung bangau (kuntul) yang hinggap diatas dahan pepohonan di markas Banteng Raiders Srondol Semarang. Tetapi makin hari taman-taman kota Semarang “makin habis” menjadi mall, hotel, dan perkantoran. Sulit untuk dibayangkan bagaimana jadinya bila untuk melihat lebih dekat burung yang berkicau dihabitatnya secara langsung anak-anak kita harus mencari langsung ke hutan. Ironisnya, untuk bisa melihat burung, kita harus mengeluarkan uang untuk ke kebun binatang atau menunggu acara satwa dilayar televisi, apalagi membayangkan mereka bebas berkeliaran di taman-taman kota, bagaikan mimpi disiang bolong.

Penulis :
Sukawi
Pembimbing KKL ‘Kuala Lumpur-Putrajaya’
Dosen Arsitektur UNDIP Semarang
Dimuat di :
Kompas 11 April 2006 selengkapnya diakses di
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0604/11/jateng

Read More..