tag:blogger.com,1999:blog-255911652008-05-24T03:02:14.070+07:00KOTA TROPIS "tropical city"sukawi (disapa "uuk")http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965noreply@blogger.comBlogger35125tag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-37661960299272163322008-04-22T08:02:00.001+07:002008-04-22T08:10:40.732+07:00Politisasi Jalan Mengabaikan Estetika Kota<span class="awal">S</span>epanjang jalan di kota Semarang sekarang lagi ramai spanduk dan poster kampanye. Masing-masing tim sukses berusaha keras memilih tempat-tempat strategis untuk memasang alat kampanye. Banyaknya spanduk dan baliho calon gubernur maupun wakilnya yang akan maju dalam pemilihan gubernur Jawa Tengah ini secara tidak langsung mengisyaratkan adanya kegiatan "kampanye terselubung". Minimal upaya mensosialisasikan calon yang akan ikut meramaikan pesta demokrasi.<br />Semarang sebagai ibukota propinsi tidak luput dari sasaran kegiatan promosi cagub dan cawagub. Hampir di setiap titik strategis terpasang spanduk cagub. Ada yang terang-terangan minta dukungan, namun ada pula yang masih "malu-malu". Sekedar memasang gambar dengan gagasan dan konsep pembangunan Jawa Tengah. Hal ini secara tidak langsung pemasangan iklan itu merupakan bentuk kampanye.<br /><span class="fullpost">Pemasangan iklan cagub dan cawagub sebelum waktunya itu menimbulkan persoalan yang cukup kompleks. Setidaknya bagi Pemkot yang wilayahnya menjadi "sasaran" pemasangan, di samping terkadang pemasangannya tidak mengindahkan faktor estetika tata kota. Misalnya penempatan spanduk yang merentang berada di lokasi strategis yang dipasang dengan memakai seutas tali plastik diantara 2 buah pohon, atau diantara tiang listrik maupun tiang telpon. <br />Di beberapa penggal jalan, sangat sering dijumpai pemasangan spanduk dan poster tumpang tindih dan terkesan asal pasang untuk menperlihatkan kelebihan masing-msing calon. Kita perhatikan pemasangannya sering menghalangi pemandangan papan penunjuk jalan, bahkan rambu lalu lintas. Luas pandangan mata kita di jalan, yang sebenarnya merupakan hak publik, telah dirampas oleh pemandangan spanduk yang hampir menutupi pandangan. Belum lagi banyak poster yang terpasang di pohon-pohon peneduh jalan dengan cara dipaku. Hal ini jelas-jelas tindakan yang tidak bersahabat dengan lingkungan.<br />Untuk itu, Pemkot harus bersikap tegas terkait maraknya iklan para calon gubernur dan wakilnya. Iklan-iklan itu, khususnya yang tak berizin, wajib ditertibkan. dengan cara menurunkan iklan-iklan "ilegal" itu. Sikap tegas ini bukan berarti Pemkot terlalu profit oriented (orientasi keuntungan), namun hal itu dilakukan semata-mata untuk menegakkan peraturan dan menerapkan azaz keadilan bagi masyarakat.<br />Pemkot perlu melakukan pengawasan berkala melalui satuan Polisi Pamong Praja. Hal ini untuk mengantisipasi iklan cagub dipasang di sembarang tempat dan dengan konstruksi yang asal-asalan pula. Padahal, pemkot memiliki prosedur soal pemasangan dan konstruksinya. Jika terjadi bencana misalnya ambruk, dan menimpa pengguna jalan, pemkot tidak akan sulit untuk mencari siapa yang bertanggung jawab. <br />Selanjutnya, Pemkot perlu menetapkan kawasan white area. Kawasan tersebut harus bersih dari iklan cagub dan cawagub. Kawasan bebas iklan ini dapat mengacu pada Perda tentang Reklame. Pemkot wajib memberikan rekomendasi di ruas jalan mana saja yang bisa dipasangi iklan agar tidak bertentangan dengan keindahan kota. Alangkah indahnya bila pemasangannya tidak mengganggu fasilitas publik (tiang telepon, tiang listrik, pohon jalan, penunjuk jalan hingga rambu lalu lintas).<br />Memang bukan hal mudah untuk mengurai benang persoalan ini. Bisa dipahami jika cagub dan cawagub punya kepentingan kuat untuk "mengiklankan diri". Tapi mestinya harus tetap mengedepankan etika politik dan menghormati regulasi yang berlaku. Sebab Pemkot juga punya kepentingan untuk menata kotanya supaya terlihat estetik dan menegakkan aturan yang berlaku. Jangan sampai jalan yang kita miliki sebagai ruang publik bersama telah penuh sesak dengan ”produk politik” sehingga yang terjadi hanyalah politisasi jalan raya. Sebagai warga kota, kita tidak ingin Semarang terjadi kesemrawutan visual hanya karena hutan iklan produk politik yang dipasang di sepanjang ruas jalan.<br /><br />Penulis :<br />Sukawi, Pengajar Arsitektur UNDIP dan aktivis Komunitas Loenpia.net</span><br />dimuat di <strong>KOMPAS</strong> 1 April 2008<div class="blogger-post-footer">Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah</div>sukawi (disapa "uuk")http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-11691285230287144712008-04-22T07:59:00.002+07:002008-04-22T08:09:38.070+07:00Fenomena Generasi Kafe<span class="awal">B</span>agi masyarakat modern, singgah di kafe sudah menjadi keharusan dan kebiasaan. Untuk sekedar bersantai atau mencari variasi hiburan ditengah rutinitas yang padat, duduk sebentar dan minum secangkir kopi menjadi kenikmatan tersendiri. Berbincang dengan relasi terasa lebih rileks dan hangat. Kini banyak orang kantoran yang memilih mengadakan meeting dengan relasi bisnis ditempat ini. Karena tidak terlalu formal dan cukup representatif sehingga suasana keakraban akan lebih terasa jika dibanding dengan meeting dikantor. <br />Keberadaan kafe di Semarang tumbuh bagai jamur dimusim hujan. Warung makan atau restoran yang menyediakan minuman kopi memang banyak, tetapi jelas bukan sekadar secangkir kopi yang dicari. Coba kita tengok kafe yang bertebaran di lingkungan kampus sampai mall dan hotel berbintang. Hadirnya kafe menjawab kebutuhan akan sebuah ruang yang bisa digunakan untuk bertemu kawan sembari berbincang "ngalor-ngidul" cukup ditemani secangkir minuman favorit dalam suasana yang nyaman. <br />Kata kafe berasal dari bahasa Prancis,cafi, yang secara harfiah diterjemahkan sebagai (minuman) kopi. Namun, tidaklah lantas berarti kafe memiliki pengertian yang sama dengan warung kopi. Meski fungsinya sama, yakni tempat di mana orang bisa minum (kopi) sambil bercakap-cakap, tetapi kafe berada dalam pemaknaan budaya yang berbeda. Kafe bisa saja dianggap sebagai warung kopi bagi mereka yang hidup dalam budaya urban perkotaan modern, yang karena itu pemaknaan kulturalnya berbeda dengan warung kopi dalam masyarakat tradisional.<br /><span class="fullpost">Kafe telah menjadi fenomena menarik di sejumlah kota besar seperti Semarang. Keberadaannya langsung menunjuk pada sejenis gaya hidup eksklusif yang kemudian mewabah ke berbagai sudut kota, bahkan hingga ke kota-kota kecil. Dalam perkembangannya, fenomena ini disambut sebagai peluang usaha baru. Kafe-kafe tumbuh dengan berbagai konsep suasana. <br />Menurut sejarahnya, kafe tumbuh seiring dengan bangkitnya kesadaran para intelektual Eropa di Abad ke-18. Sejumlah sumber menyebut bagaimana kafe muncul pada periode pencerahan, yang ditandai dengan banyaknya penerbitan karya-karya sastra filsafat, jurnal, surat kabar, serta tumbuhnya minat baca di tengah masyarakat. Kafe di sini, menjadi ruang publik tempat masyarakat dari seluruh lapisan untuk berdiskusi.<br />Di Paris sejumlah sastrawan tak bisa dipisahkan dari kafe. Kafe menjadi tempat mereka bertemu dan berdiskusi serta melahirkan banyak gagasan. Di sisi lain, kafe sebagai ruang publik yang dalam awal kemunculannya hanya menjadi milik kaum lelaki, membuktikan satu hal, yakni betapa sesungguhnya berkumpul dan ngobrol bukan hanya monopoli kaum perempuan. <br />Bahkan sejak masa Yunani dan Romawi, kaum lelaki amat suka berkumpul dan berkelompok menurut minat mereka masing-masing, yang kemudian disebut dengan klub. Dalam Encyclopedia Americana, klub disebut sebagai kumpulan individu yang memiliki kesamaan minat. <br />Sekarang ini banyak kafe yang berada di mall-mall, tersebar di kota Semarang. Ada exxelso, kopi luwak, dan masih banyak lagi. Untuk dapat lebih menarik pengunjung berlama-lama singgah dikafe, ada beberapa fasilitas seperti area hotspot yang didukung wireless akses point ke internet yang tersedia untuk layanan akses internet gratis bagi mereka yang membawa laptop sambil menikmati secangkir minuman. Pengunjung dapat rapat sambil membuat berita acara dengan laptop serta makan siang sekaligus mengakses internet.<br />Ada banyak alasan mengapa orang suka berkunjung ke kafe. Namun, satu hal yang pasti, mereka betah berlama-lama, entah karena alasan suasananya, keakraban, atau camilan yang disajikan. Tentunya, ini jika kafe yang dipilih sesuai. Saat ini keberadaan kafe bukan lagi sekadar pemuas dahaga atau lapar. Bagi sebagian masyarakat, kafe merupakan sarana untuk membangun kehidupan sosialnya, baik untuk nongkrong, bergaul, atau menjerat pacar. Kafe juga merupakan sarana meneguhkan identitas dan kebanggaan. <br />Bagi para penggila bola (olah raga), kafe dapat merupakan tempat untuk menyalurkan dan berbagi hobi. Lewat kesukaannya terhadap klub olah raga tertentu atau komunitas blogger misalnya, komunitas ini tidak jarang berkumpul di kafe untuk sekadar membahas agenda acara, nonton bareng pertandingan, perkenalan anggota baru atau sekadar ngobrol “ngalor ngidul”. <br />Dari generasi kafe ini diharapkan akan terlahir orang-orang muda dengan karya-karya besar bagi umat manusia. Jadi, tidak masalah kalau generasi ini lebih mengenal espresso, cappuccino, ice black coffe, hot capucino, avocado coffe atau macchiato, ketimbang sega kucing, the, jahe, atau kopi tubruk. Asalkan kita bukan sekadar hiruk pikuk di permukaan menikmati gaya dan hedonisme berbalut kultur urban semata.<br />Semarang sebenarnya telah memiliki kultur wedangan (warung tenda pinggir jalan) yang juga berbasis komunitas. Namun, karakter masyarakat, terutama kalangan anak muda, kini telah bertransformasi sedemikian rupa. Akibatnya, kehadiran kafe saat ini kian menjawab kebutuhan mereka, yakni tetap ingin bernuansa akrab dan berjarak sosial dekat, tetapi bersemangat urban dan populis<br />Fenomena kafe-kafe yang menjadi ajang berkumpulnya berbagai komunitas ini, agaknya tetap tak bisa mengubah citra kafe sebagai tempat eksklusif. Dalam pencitraannya, kafe tetaplah menjadi ruang yang serba pragmatis. Tempat orang datang untuk menikmati kehadirannya dalam budaya urban perkotaan yang cenderung artifisial.<br /><br />Penulis :<br />Sukawi, Pengajar Arsitektur UNDIP dan aktivis kuliner Komunitas Loenpia.net</span><br />dimuat di <strong>Suara Merdeka</strong>, 18 Maret 2008<div class="blogger-post-footer">Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah</div>sukawi (disapa "uuk")http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-74172513825928777192008-03-10T14:45:00.001+07:002008-04-22T08:07:46.890+07:00Menyelamatkan Jalan Kaligawe<span class="awal">M</span>engapa jalan Kaligawe? Di sepanjang jalan ini, terdapat fasilitas transportasi Terminal Induk Terboyo, Rumah Sakit, Perguruan Tinggi dan puluhan perusahaan besar beroperasi, untuk mendukung investasi di kota Semarang khususnya. Di samping itu, Kaligawe merupakan jalan yang sangat vital karena menghubungkan Semarang dengan kota-kota di sepanjang Pantura ke arah Jawa Timur. <br />Di sepanjang Jalan Kaligawe telah terjadi aglomerasi spontan di Semarang, terutama sepanjang jalur regional berupa kegiatan komersial. Sering terjadi migrasi keluar-masuk yang kontras pada waktu sibuk yaitu saat masuk dan keluar tempat kerja, terutama para pekerja dari Semarang,Demak, Kudus, dan sekitarnya. Ternyata ribuan orang yang menggantungkan nasib pada penggal jalan Kaligawe ini. Hal ini menunjukkan bahwa sepanjang jalan merupakan ''jantung'' dan “urat nadi” ekonomi Kota Semarang.<br /><span class="fullpost"> Permasalahan spesifik Jalan Kaligawe adalah soal lingkungan hidup, yakni banjir dan rob yang hingga saat ini belum dapat dipecahkan. Jalan yang penting ini tenggelam dalam banjir, rob, kemacetan lalu lintas, jalan rusak parah, teremdamnya pabrik dan penataan tempat usaha yang tidak mempertimbangkan aspek-aspek tata kota, ekologi, dan ekonomi. Kalau tidak segera ditangani, para investor akan ''lari'' dari Semarang.<br />Untuk menyelamatkan Kaligawe, hal yang perlu dilakukan, pertama memecah kepadatan arus lalu lintas dengan jalur alternatif. Dari arah timur, dapat dialihkan arus lalu lintas dari Kaligawe (Pasar Genuk) melintasi Jalan Wolter Monginsidi kemudian Jalan Arteri Soekarno-Hatta, begitu juga sebaliknya. Namun, kelemahan jalur alternatif ini adalah masalah jarak dan waktu tempuh. Dengan kondisi jalur alternatif yang kurang layak terlihat di Jalan Wolter Monginsidi, di beberapa titik berlubang, sempit, dan tergenang air. Jarak tempuh Kaligawe menuju ke Batas Kota Semarang-Demak yang seharusnya cukup 3 atau 4 km saja, kenyataannya menjadi sekitar 15 km.<br />Kedua, sudah waktunya Jalan Kaligawe dibuatkan jalan layang atau jalur lingkar untuk memecah konsentrasi arus lalu lintas yang makin padat. Hal ini harus segera dilakukan karena di Semarang ini tidak ada jalur alternatif yang tepat dan efisien sebagai jalur alternatif. Jalur-jalur yang ada, sebagian kondisi jalannya kurang layak dan yang lain memiliki jarak tempuh cukup jauh.<br />Ketiga, persoalan penurunan tanah juga harus ditangani. Kecepatan penurunan tanah perlu dikendalikan dengan berbagai cara. Salah satunya mengendalikan penggunaan air bawah tanah (ABT) di kawasan tersebut. Jika pengambilan melebihi air yang bisa meresap ke tanah, penurunan akan lebih cepat terjadi. <br />Keempat, Rencana perbaikan (peninggian) jalan Kaligawe bertahap harus dilaksanakan konsisten dan tepat waktu, agar peninggian jalan tidak terkesan sepotong-sepotong, tetapi komprehensif. Jika tidak demikian, akan menimbulkan persepsi pemerintah sekadar memindahkan lokasi banjir dan menenggelamkan lingkungan sekitar. Peninggian jalan tersebut hendaknya mempertimbangkan kawasan industri Kaligawe yang sudah terbangun lama. <br />Kelima, normalisasi saluran Gebangsari, Kaligawe dan Tenggang harus secara rutin dilakukan. Hal ini dikarenakan kondisi saluran sudah memprihatinkan, pada kondisi normal, saja muka air yang sudah sejajar dengan muka jalan dan dipenuhi oleh tumbuhan enceng gondok. Jika terjadi hujan, pasti airnya akan meluap di jalan raya. <br />Pembenahan infrastruktur kota merupakan hal penting yang perlu diperhatikan Pemkot. Bidang itu dinilai masih menjadi titik lemah sekaligus PR paling berat bagi Pemkot. Mengacu pada dampak akibat bencana banjir yang terjadi rutin setiap tahun menggenangi Kaligawe, maka perlu kesadaran kolektif untuk meminimalisasi kasus ini terulang di kemudian hari. Kesadaran kolektif yang harus terjadi secara vertikal dan horizontal tentu memungkinkan untuk menjaga Kaligawe dari kepungan banjir tahunan.<br />Penulis :<br />Sukawi, Dosen Arsitektur UNDIP dan Ketua Litbang Asosiasi Profesi Tenaga Terampil dan Ahli (APTA) Indonesia Cabang Jawa Tengah</span> <br />dimuat di Kompas, 26 Februari 2008<div class="blogger-post-footer">Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah</div>sukawi (disapa "uuk")http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-55271975282795401732008-02-05T15:04:00.000+07:002008-02-05T15:19:34.711+07:00Pasar Imlek, Mendongkrak Pesona Pecinan<a href="http://bp2.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R6gbXj-yEeI/AAAAAAAAACA/CWeSY5wMb0U/s1600-h/Resize+of+DSCN2209.JPG"><img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R6gbXj-yEeI/AAAAAAAAACA/CWeSY5wMb0U/s320/Resize+of+DSCN2209.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163407064389784034" /></a><br /><span class="awal">M</span>enjelang Tahun Baru Imlek 2559, kawasan pecinan Semarang sudah mulai marak dan meriah dengan pernak-pernik Imlek. Para pedagang di sekitar Pecinan, bukan saja menjual aneka hiasan atau perangkat khas Imlek yang bernuansa merah, tetapi juga menghias tokonya dengan berbagai hiasan sehingga suasana Pecinan sangat terasa. <br />Kawasan pecinan Semarang pada siang hari merupakan sentra bisnis yang cukup ramai dan sibuk, seperti di Jalan Kranggan sebagai pusat penjualan kain dan perhiasan. Ada pasar Gang Baru, ada Gang Beteng, Gang Pinggir, dan Gang Besen, yang juga ramai di waktu siang, tetapi cukup lengang di waktu malam. Untuk itu perlu suntikan aktivitas bisnis di kawasan ini untuk lebih menghidupkan suasana Pecinan di waktu malam. Salah satunya adalah Pasar Imlek Semawis (PIS) yang dimanfaatkan sebagai tujuan wisata kuliner sekaligus memperkenalkan budaya khas Cina. <br />Membangun citra Pasar Imlek Semawis, harus lebih dari sekadar menjual pernak-pernik Imlek. <span class="fullpost">Jika tidak, tentu tak ubahnya bazar atau pasar malam belaka. Pernak-pernik yang menambah maraknya Imlek itu, antara lain lampion-lampion, amplop merah (angpao), spanduk hiasan berwarna merah bertuliskan emas, pakaian etnik China, kembang api, mainan tikus, kue keranjang, buah jeruk dan pir, serta bunga mei hoa warna merah muda.<br />Kolaborasi aktivitas perdagangan dan pertunjukan budaya barangkali menjadi poin jual yang bisa dikembangkan. Kekhasan Imlek di Semarang, mestinya tidak melulu difokuskan pada tradisi perayaan tahun baru dalam penanggalan Cina saja. Melainkan, justru pada kemampuan untuk mengeksplorasi karakter yang membedakan perayaan Imlek di Semarang dengan perayaan sejenis di kota lain atau bahkan negara lain. Budaya di kota pesisir Pantai Utara Jawa ini sudah terakulturasi sehingga banyak potensi yang sebenarnya bisa ditonjolkan. <br />Tujuan wisatawan datang ke pecinan Semarang selain karena makanan khas oriental, juga untuk menikmati suasana, kesenian dan budaya khas pecinan. Untuk itu perlu menciptakan peluang bisnis yang sesuai dengan lingkungan sekaligus dapat menghidupi kawasan tersebut. Misalnya bisnis obat cina (sinse), konsultasi fengsui, kerajinan /suvenir, dan makanan khas China. <br />Belum lagi makanan khas yang diproduksi di kawasan ini. Ada lunpia Gang Lombok, kue pia Cap Bayi, kue bulan. Ada pula Warung Makan Pak Ndut, Sate Kambing Guci dan Kapuran, Rumah Makan Permata Merah yang sudah berusia satu abad, Es Marem Gang Baru, dan Soto Bonkarang, yang pasti menggoda siapa saja untuk datang mencicipi sambil menikmati suasana malam khas permukiman Pecinan. <br />Pelestarian tradisi semacam perayaan Sam Poo Besar juga dapat dikemas menjadi event wisata yang menarik. Di samping itu, kesenian semacam Barongsai, Wayang Potehi bisa dikemas dengan tampilan yang disesuaikan dengan kondisi zamannya. Selain warisan leluhur Tionghoa, ada baiknya menampilkan budaya yang sudah berakulturasi dengan kebudayaan timur. Belum lagi potensi wisata budaya dengan tawaran sembilan kelentengnya. Biasanya pada pagi hari pertama Imlek, kelenteng-klenteng di Pecinan dipadati oleh para pengunjung yang sembahyang. Terlebih pada Klenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok yang merupakan klenteng induk bagi seluruh klenteng di Semarang. <br />Suatu saat nanti kawasan pecinan Semarang akan seperti “Kya-Kya” Kembang Jepun, Surabaya atau Kesawan Square di Medan. Di tengah kepadatan rumah dan bangunan tuanya, kawasan pecinan Semarang menyimpan sejuta kisah kejayaan dan potensi wisata yang menjanjikan. Gong Xi Fat Cai.<br />Penulis : Sukawi, Dosen Arsitektur dan Pusat Studi Pariwisata UNDIP Semarang</span><br />Dimuat di Kompas, Selasa, 5 Februari 2008<div class="blogger-post-footer">Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah</div>sukawi (disapa "uuk")http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-17487609698453821652008-01-03T09:50:00.001+07:002008-02-05T14:41:24.995+07:00Antisipasi Genangan Musim Hujan<a href="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R4Ls_9BJ56I/AAAAAAAAABQ/42GrvoFYehc/s1600-h/DSCN2632.JPG"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R4Ls_9BJ56I/AAAAAAAAABQ/42GrvoFYehc/s200/DSCN2632.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5152941507120588706" /></a><br /><span class="awal">H</span>ujan mulai sering turun. Itu berarti musim hujan mulai dekat, bahkan sudah memasuki musimnya. Seperti biasa, hujan yang mengguyur kota Semarang sering jadi masalah, terutama di daerah-daerah tertentu. Untuk itu, pemerintah harus benar-benar menyiapkan diri mengantisipasi berbagai kemungkinan akibat hujan. Aparat pemda, hingga ke kelurahan harus segera dikerahkan. Jangan menunggu banjir baru ambil tindakan.<br />Banjir lokal yang akhir-akhir ini melanda sejumlah tempat di Semarang membuat sungai dan saluran air dipenuhi sampah. Berton-ton sampah menyebabkan sungai dan saluran air tak mampu mengatasi derasnya air di musim hujan sehingga banyak wilayah yang terendam. Tumpukan sampah dari berbagai macam material mengakibatkan pendangkalan dan penyempitan sungai. Kota yang langganan banjir ini, sudah berpengalaman betapa sengsaranya akibat dari “sapaan” banjir itu. Selain membuat perumahan terendam air, perkampungan terkepung genangan air, jalan-jalanpun di mana-mana macet, masalah gangguan kebersihan dan kesehatan lingkunganpun kian banyak akibat banjir.<br /><span class="fullpost">Genangan besar air di kota yang sekitar 34 % tanahnya dataran rendah, memang daerah langganan banjir sejak jaman dulu. Kota yang berkembang di atas tanah bekas rawa-rawa, serta dialiri 6 sungai yang bermuara di Laut Jawa, sudah tercatat sebagai kota yang tidak bebas banjir seperti Tembang Jawa yang didendangkan oleh pesinden terkenal, Waljinah, Semarang Kaline Banjir. Makanya, pemerintah kolonial Belanda tahu betul untuk mengatasi banjir di Semarang, yang sudah berupaya menyelamatkan kota jajahannya ini. Misalnya, Belanda mengadakan penggalian kanal sodetan Kali Garang agar air bisa mengalir dengan cepat ke laut dan tidak menimbulkan genangan lokal. Salah satu upaya yang pernah dilakukan Belanda adalah mengadakan perbaikan tata air dengan membuat dua sungai yang dinamakan Kali Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur. Proyek yang terkenal dengan sebutan Kali Banjir Kanal ini ternyata kesaktiannya hanya mampu bertahan sekitar 40-an tahun. Kenyataan sekarang yang ada, di beberapa lokasi sudah langganan genangan, misalnya di sekitar Jalan Kaligawe, Simpang Lima, Jalan Citarum sampai Bubakan, ujung Jalan Imam Bonjol dekat Johar, dan sebagian Kota Lama.<br />Ancaman banjir lokal makin besar akibat hilangnya daerah potensi resapan air alami di kota Semarang bawah. Kecenderungan sekarang hampir semua halaman rumah dan perkantoran di pusat kota kini ditutup beton dan aspal yang kedap air untuk tempat parkir. Di beberapa kawasan, kapasitas saluran kurang memadai karena volume air hujan yang masuk meningkat tajam akibat daerah terbangun makin luas. Kondisi ini umumnya terjadi di daerah bekas rawa mapun persawahan, misalnya wilayah Semarang Utara, dan Semarang Tengah. Sistem drainase di pusat kota banyak yang menyempit terkena pelebaran jalan, atau berubah menjadi saluran tertutup. Sehingga drainase tertutup itu sering tersumbat sampah, karena minimnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah.<br />Kenyataan tentang banyaknya sampah harus menyadarkan semua komponen masyarakat untuk menyadari bahwa banjir merupakan akibat langsung dari perilaku manusia. Banjir terjadi semata-mata bukan karena faktor alam, tetapi lebih karena kecerobohan manusia yang tidak memperhatikan kelestarian dan keseimbangan alam. Urusan sampah, selama ini pemerintah masih terfokus pada pembuangan sampah akhir yang membutuhkan lahan luas. Padahal persoalan sampah menyangkut hal yang jauh lebih luas karena terkait dengan perilaku manusia.<br />Tetapi, sebenarnya kewajiban mengantisipasi musim hujan itu tidak hanya untuk pemerintah. Warga Kota Semarang juga harus mengambil langkah-langkah antisipatif. Setelah melihat fakta kota Semarang mengenai banjir, maka ada beberapa langkah yang harus ditempuh dalam mengantisipasi musim hujan, diantaranya :<br />Pertama, perbaikan sungai-sungai Baik dengan nornalisasi sungai maupun penambahan pompa-pompa air, terutama pada pompa-pompa air yang sudah ada sejak jaman Belanda yang belum mendapatkan penggantian pada daerah tertentu rawan banjir lokal.<br />Kedua, Mengelola Sistem Drainase dengan segera melakukan perhitungan volume dan kedalaman antara saluran primer, sekunder, dan tersier sehingga terbentuk suatu sistem saluran yang saling mendukung. Sistem drainase yang dilengkapi pintu air seperti yang pernah diterapkan Belanda untuk Kota Semarang pada masa lalu perlu diaktifkan kembali. Pintu air yang mudah dibuka tutup sangat penting untuk membagi debit air.<br />Ketiga, Memberikan pendidikan dan Sosialisasi tentang saluran drainase, sungai dan peranannya kepada masyarakat secara kontinyu Kegiatan ini dapat dilakukan melalui kegiatan tingkat RT maupun kelurahan dengan kerja bakti membersihkan sungai maupun saluran lingkungan. Penyuluhan untuk membuka kesadaran masyarakat agar membuang sampah pada tempatnya, ditindak lanjuti dengan gerakan pembuatan bak sampah di masing-masing rumah tangga. Banjir biasanya disertai beragam penyakit. Para pemimpin lokal di tingkat RT juga harus waspada.<br />Keempat, daerah-daerah padat yang terdapat sepanjang bantaran sungai sebaiknya dikurangi, untuk mengurangi risiko banjir bandang. Menyelesaikan masalah banjir, luapan, dan genangan air di daerah yang dilandanya, tidak dapat dilakukan di daerah setempat, tetapu harus terpadu mulai dari hulu ke hilir sungai, sehingga Daerah Aliran Sungai (DAS) akan tetap terjaga kelestariannya.<br />Penulis :<br />Sukawi, Pengajar Arsitektur di Universitas Diponegoro Semarang</span><br />Dimuat : Seputar Semarang Edisi 218, 27 November 2007<div class="blogger-post-footer">Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah</div>sukawi (disapa "uuk")http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-26284529091083380752008-01-03T09:45:00.000+07:002008-02-05T14:38:16.715+07:00Pesona Sunset ”Manado Tua”<a href="http://bp2.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R4LvIdBJ57I/AAAAAAAAABY/jqIKavV-rJ0/s1600-h/DSCN2333.JPG"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R4LvIdBJ57I/AAAAAAAAABY/jqIKavV-rJ0/s200/DSCN2333.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5152943852172732338" /></a><br />Secara psikologis ada kesan luar biasa ketika kami yang bertugas menjadi surveyor untuk mendampingi staff Kementerian Perumahan Rakyat mulai menginjakkan kaki di Bandar Udara Internasional ‘Sam Ratulangi’ Manado. Apakah itu? Pemandangan alamnya yang indah, pohon kelapa berderet beribu-ribu seperti barisan tentara yang siap berperang. Hijau nian! Tak perlu guide untuk menjelaskan segala sesuatu yang bisu itu. Kami berdua sejenak tertegun karena sama-sama pertama kali tiba dibumi nyiur melambai. Apalagi kalau yang datang itu surveyor yang pasti akan menjumpai medan berat menantang untuk ditaklukkan sekaligus berpetualang. <br />Keluar dari lokasi parkir Bandar Udara, kita dihadapkan dengan lingkungan bersih, tertata rapi, jalan yang baik dan beberapa menit kemudian, pandangan kita tertuju pada monumen Adipura Kencana, suatu monumen peringatan terhadap keberhasilan dalam klasifikasi kota bersih di Indonesia. <br />Kesempatan yang pertama ini tidak kami sia siakan saat singgah di kota Manado, sebuah kota yang menarik di teluk ujung utara pulau Sulawesi. Sore itu udara terasa sejuk karena sejak tiba siang hari langit kota Manado selalu diselimuti awan yang menggelayut. Setelah melepas lelah di hotel, sorenya kami mencoba menuju ke Boulevard Manado (jantung kota) dan langsung menuju ke pantai Manado untuk menikmati matahari terbenam dengan latar pulau Manado Tua. Pulau Manado Tua merupakan pulau utama dari sekelompok pulau di teluk Manado. Sambil menikmati jajanan di sepanjang pantai Manado, serta semilir angin laut dan memperhatikan muda-mudi baik bergerombol maupun berpasangan menghabiskan senja ditepi pantai.<br /><span class="fullpost"> Diantara derai ombak yang memecah pantai, sekelompok muda-mudi duduk-duduk diatas bongkahan batu besar, menghadap laut sambil menikmati pesona pulau Manado Tua. Semakin petang suasana semakin tambah ramai. Disebelah kiri tepat didepan menara pengawas pantai yang sudah mulai lapuk, beberapa anak berlarian sambil memainkan bola dikaki yang lincah beralaskan pasir.<br />Semilir angin semakin membuat kulit tubuh ini menginginkan untuk diselimuti dengan jaket tebal. Sambil menjinjing kamera, saya berusaha untuk berbaur dengan sekelompok muda-mudi meloncat dari batu yang satu ke batu lainnya untuk lebih mendekati bibir pantai dan melihat lebih dekat percikan ombak. Saya berusaha untuk mencari posisi yang cukup nyaman untuk mengabadikan momen indah pesona Manado Tua diwaktu senja yang kala itu diselimuti oleh awan sehingga mataharipun enggan untuk menampakkan wajahnya yang cerah.<br />Sesekali pandangan terlempar pada aktivitas nelayan yang siap-siap untuk berangkat melaut. Selain itu juga hilir mudiknya perahu naga yang mengangkut para wisatawan yang akan berlabuh setelah lelah mengantar para pelancong berkeliling menikmati pesona gugusan pulau Manado Tua dan Bunaken. Primadona pariwisata kota Manado adalah Taman Nasional Bunaken, yang oleh sementara orang disebut sebagai salah satu taman laut terindah di dunia. Letaknya yang hanya sekitar 8 Km dari daratan kota Manado dan dapat ditempuh sekitar ½ s/d 1 jam menyebabkan Taman Nasional ini mudah dikunjungi. Bagi anak-anak juga tersedia wahana sepeda air beraneka macam ditepi pantai dengan hanya merogoh kocek Rp. 6.000 perjam.<br />Suasana petang di Kawasan Bolevard Manado sungguh terasa istimewa. Pengunjung dapat menyaksikan panorama alam dengan Pulau Manado Tua di tengah lautan. Menurut Jefferson, pemuda setempat, ketika cuaca cerah, matahari yang mulai tergelincir ke ufuk barat akan terlihat jelas, maka proses terjadinya Sunset dapat disaksikan dengan indahnya. <br />Seiring dengan terbenamnya matahari, kawasan Bolevard menjadi ramai oleh penjual makanan. Mereka menggelar jualannya di sejumlah tenda di pinggiran pantai. Hidangan yang tersedia terdiri dari; nasi goreng, bakso, gado-gado, sampai beraneka ragam sea food. Harganya pun relatif murah. Para pengunjung dapat memilih sesuai selera yang diinginkannya.<br />Berwisata ke kota Manado sungguh sangat menyenangkan. Banyak pilihan bagi wisatawan untuk berekreasi dan berwisata ria. Dari wisata alam seperti taman laut Bunaken, keindahan pantai, tempat hiburan rakyat, pusat perbelanjaan, hingga restoran, ada di kota ini. Bagi wisatawan yang menyukai alam pantai sebagai tempat rekreasi masih di dalam kota, maka kota Manado-lah tempatnya. Pesona keindahan pantainya dapat disaksikan dari kawasan Malalayang sampai kawasan Bolevard yang ada dipusat kota dengan garis pantai sepanjang 18,7 kilometer.<br /> Manado atau yang lebih di kenal dengan Nyiur Melambai, terkenal dengan keramahan penduduknya yang kemudian di sebut sebagai smiling people. Kota Manado ini mempunyai motto Si Tou Timou Tumou Tou, sebuah filsafat hidup masyarakat Minahasa yang dipopulerkan oleh Sam Ratulangi, yang berarti: "Manusia hidup untuk memajukan orang lain." Dalam ungkapan bahasa Manado, seringkali dikatakan: "Baku beking pande", yang secara harafiah berarti "Saling menambah pintar [orang lain]".<br />Suasana Manado malam tak jauh beda dengan kota-kota besar di Jawa, musik terus mengalun. Malam hari, kota ini begitu berisik dengan suara musik yang bergema dari ratusan kafe. Bunyi musik juga terdengar dari mobil angkutan umum ”oto mikro”- sebutannya, nyaris memecah gendang telinga penumpang. Suasana kota dan masyarakatnya terbuka, kondusif, dan mudah diakrabi oleh siapa saja. Jalan Roda, misalnya, menjadi salah satu landmark Manado. Terletak di pusat kota, jalan itu berubah menjadi tempat minum kopi dan kongko-kongko dari berbagai kalangan masyarakat. Di situlah tempat warga berkelakar, dan berdiskusi berbagai hal. <br />Jalan Boulevard Manado (Jalan Piere Tendean), merupakan landmark yang menjadi kebanggaan karena merupakan jalan terlebar dan jalan pantai terpanjang-4,2 kilometer. Lebih-lebih di malam hari, bertambah semarak karena lampu aneka warna dari billboard dan papan reklame.<br />Pusat perbelanjaan di Kota Manado mulanya terkonsentrasi di seputar Boulevard Manado. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, dalam kurun waktu 3 tahun, industri properti dan retail di Manado berkembang cukup pesat. Ditandai dengan dibukanya tiga buah pusat perbelanjaan modern baru yaitu Mega Mal Manado, Manado Town Square dan Bulevard Mall. Ketiga pusat perbelanjaan ini berlokasi di ruas jalan yang sama yaitu jalan Piere Tendean atau yang dikenal dengan Manado Boulevard yang dapat juga dinikmati dari pantai Manado. <br />Beberapa pusat perbelanjaan lain pun sedang dibangun di ruas jalan ini, terutama di daerah reklamasi pantai. Di sepanjang jalan ini juga terdapat beberapa hotel berbintang, restoran dan cafe yang menjajakan beraneka ragam makanan dan buka hingga larut malam. Pusat cinderamata khas Manado dapat ditemukan di Jalan BW Lapian. Terdapat beberapa toko suvenir yang menjual makanan, busana, dan kerajinan tangan khas Manado.<br />Wajah kota Manado dapat diketahui dari peran historisnya. Awalnya Manado dibangun sebagai kota benteng, kota kolonial, kota pusat administrasi dan pemerintahan, kota pelabuhan dan transit, kota perdagangan dan jasa. Kemudian dalam perkembangannya, dengan konsep Manado Kota Tinutuan menuju Kota Wisata 2010. Kota Manado sebagai suatu kota yang diusung untuk memposisikan diri sebagai kota pariwisata atau pun wisata dunia pada tahun 2010. </span><br />dimuat : Suara Merdeka Rublik Jalan-Jalan, Minggu 2 Desember 2007<div class="blogger-post-footer">Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah</div>sukawi (disapa "uuk")http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-72327663225278129852007-12-14T08:16:00.000+07:002008-02-05T14:43:06.952+07:00Pelajaran Mahal Minimnya Ruang Bermain<a href="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R4LyE9BJ58I/AAAAAAAAABg/sN9Ra7zrOo4/s1600-h/DSCN2283.JPG"><img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R4LyE9BJ58I/AAAAAAAAABg/sN9Ra7zrOo4/s200/DSCN2283.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5152947090578073538" /></a><br />Suasana kegembiraan para mahasiswi Fakultas Pendidikan Taman Kanak-Kanak IKIP Veteran Semarang yang bermain dengan penuh canda di Taman Bermain Wonderia Semarang berubah dengan duka. Terdapat lima belas orang, diantaranya 9 korban mengalami retak tulang belakang akibat wahana plane tower yang jatuh dari ketinggian 3-4 m (Kompas, 16/11/2007). Dari peristiwa ini timbul pertanyaan, masih adakah ruang untuk bermain yang aman di kota ini? <br />Kurangnya ruang bermain bagi anak di kota Semarang ini, dapat dilihat pada hari Minggu atau hari libur. Dimana setiap hari Minggu kawasan Simpang Lima sangat padat oleh lautan manusia yang berebut untuk mencari ruang bermain, berolahraga ataupun berbelanja. Anak anak terpaksa bermain di tempat bermain khusus dan tidak menggunakan tempat bermain di ruang terbuka yang merupakan sebuah ruang publik yang nyaman, karena memang tidak ada lagi ruang terbuka untuk bermain. Sering kita lihat banyak anak-anak bermain bola di jalanan beraspal, yang membahayakan nyawa mereka. Bahkan, kolam di Bundaran Tugu Muda dan Bubakan Semarang pun menjadi tempat bermain mereka. Lahan-lahan terbuka, tempat bermain, taman, dan ruang publik kota lainnya sudah lama secara perlahan berganti dengan gedung-gedung komersial. <br />Ruang terbuka di Semarang memang tidak pernah bertambah, bahkan yang ada pun berubah fungsi dan terjadi privatisasi di dalamnya. Seleksi untuk masuk di dalamnya harus dilalui lewat tiket pembayaran. Ruang publik ini sudah tidak sesuai dengan fungsi sebenarnya dimana ruang publik mampu diakses oleh semua golongan masyarakat. Berkurangnya ruang terbuka publik ini tidak saja merupakan persoalan pakar lingkungan, tetapi menjadi beban psikologis masyarakat kota akan kebutuhan ruang sebagai aktualisasi diri. <br />Saatnya kita harus mengambil pelajaran mahal atas peristiwa di Wonderia tersebut. <span class="fullpost"> Maraknya pembangunan gedung (mall, ruko, kantor) semakin meminggirkan anak-anak yang sangat membutuhkan ruang terbuka hijau untuk tempat bermain. Hal ini dialami oleh penulis, setiap kali ingin mengajak anak-anak bersantai, selalu kebingungan. Ke mana lagi akan membawa mereka supaya bisa bermain dengan bebas, tidak perlu dibatasi oleh tembok yang terdapat di mall. Di mana lagi anak-anak dapat menikmati udara yang berhembus di antara pepohonan, tidak perlu menghirup udara ber-air conditioner. Di mana lagi anak-anak bisa bermain dengan alam, di antara pepohonan, bermain bola di lapangan rumput, sehingga tidak perlu menghabiskan waktu di depan play station/ game net. Di mana lagi anak-anak bisa bermain bersama teman sebaya seperti sepak bola, petak umpet, lompat tali, sehingga tidak perlu berebutan satu wahana permainan.<br />Berkembangnya game net menurut antropolog UGM Nicolaas Warouw, salah satunya disebabkan minimnya ruang publik yang ada di perkotaan. Keterbatasan ruang publik yang mengakibatkan orang lebih memilih tempat seperti ini. Saat ini tidak banyak ruang publik yang bisa memberikan tempat untuk berekspresi. Di game net, para gamer akan memiliki ruang untuk imajinasi, dan mereka bisa masuk dengan bebas, tidak ada kriminalisasi, tidak perlu ada sanksi moral, dan tekanan dari pihak mana pun. <br />Kita merasa prihatin, bahwa dengan tiadanya ruang terbuka untuk bermain bersama, akan berdampak dengan semakin banyaknya anak-anak yang egois tidak memiliki semangat kebersamaan, karena permainan yang hampir selalu mereka mainkan adalah permainan individu. Sesungguhnya, sejak lima tahun lalu telah disahkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (UUPA). Namun, tidak bisa dipungkiri bila keberadaan UUPA belum terlalu berdampak terhadap perbaikan tumbuh-kembangnya anak. <br />Secara alamiah, dunia anak adalah dunia belajar dan bermain, bukan dunia bekerja mencari uang. Bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan anak-anak untuk memperoleh kesenangan, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Beberapa ahli psikologi mengatakan bahwa permainan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak. Papalia (1995), mengatakan bahwa anak berkembang dengan cara bermain. Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Dengan bermain anak-anak menggunakan otot tubuhnya, menstimulasi indra-indra tubuhnya, mengeksplorasi dunia sekitarnya, menemukan seperti apa lingkungan yang ia tinggali dan menemukan seperti apa diri mereka sendiri. Dengan bermain, anak-anak menemukan dan mempelajari hal-hal atau keahlian baru dan belajar (learn) kapan harus menggunakan keahlian tersebut, serta memuaskan apa yang menjadi kebutuhannya (need). Lewat bermain, fisik anak akan terlatih, kemampuan kognitif dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain.<br />Menurut Hughes (1999), bermain merupakan kegiatan anak yang dirasakan olehnya menyenangkan dan dinikmati (pleasurable and enjoyable). Hanya sekedar berlari-lari keliling taman, kalau kegiatan tersebut dirasakan menyenangkan oleh anak, maka kegiatan itupun sudah dapat disebut bermain. Pentingnya ruang bermain bagi anak-anak di kota, seperti diungkapkan Pearce (1980), ruang bermain merupakan tempat dimana anak-anak tumbuh dan mengembangkan intelegensinya. Tempat dimana mereka membuat kontak dan proses dengan lingkungan, serta membantu sistem sensor dan proses otak secara keseluruhan. Dari tempat bermain pula, anak belajar sportivitas, disiplin dan mengembangkan kepribadiannya.<br />Bagaimana dengan keberadaan lahan bermain sekarang? Jumlahnya juga kian terbatas. Itu sebabnya, anak-anak pun menggunakan taman, trotoar, bahkan badan jalan sebagai lahan bermain. Akibatnya, sering kita lihat tiba-tiba ada bola nyelonong ke tengah jalan yang kemudian diikuti oleh anak berlari mengejar bola tersebut. Atau anak-anak berlarian mengejar layang-layang yang putus. Kondisi ini sangat membahayakan keselamatan anak. <br />Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia F Hatta menyebutkan, lima kota, yaitu Solo, Sidoarjo, Kutai Kartanegara, Jambi, dan Gorontalo, sebagai contoh kota layak anak. Kota ramah anak mensyaratkan jaminan hak setiap anak sebagai warga kota, untuk berperan dan berpartisipasi aktif dalam perencanaan dan pembangunan kota, tentunya sesuai kemampuan dan kebutuhan anak. Anak-anak berhak mendapat pelayanan fasilitas kota, sarana air bersih, pelayanan kesehatan, pendidikan murah, transportasi mudah, dan jaminan keamanan. Memperbanyak taman bermain anak adalah salah satu bentuk yang tepat. Taman dan kota yang ramah anak menjadi ruang edukasi dan pembelajaran nyata bagi mereka. <br />Kehadiran ruang terbuka, ruang bermain, atau ruang komunal yang merupakan ruang bagi masyarakat untuk melakukan integrasi dengan sesamanya di suatu kawasan perkotaan, seperti hadirnya taman dan ruang terbuka hijau sangat dibutuhkan Semarang. Namun yang kita lihat, hak-hak anak atas ruang bermain semakin hari semakin sempit. Pemerintah hanya menginginkan sisi komersial dari setiap pembangunan ruang bermain itu. Bukan semata-mata memberikan hak yang sepatutnya diterima masyarakat, khususnya bagi anak-anak. <br />Harus diakui, keberadaan ruang terbuka merupakan bagian integral kegiatan pembangunan dan keberadaan suatu kawasan perkotaan. Namun saat ini semuanya terkesan cuma kosmetik. Kegiatan pembangunan ruang terbuka publik hingga kini masih belum dilakukan. Padahal, untuk di daerah padat hunian sangat membutuhkan ruang terbuka dan taman. Tidak hanya dalam konteks tata ruang dan kualitas lingkungan, tetapi yang terpenting dalam kaitan dengan manfaat sosial seperti areal bersosial, rekreasi, santai, eduksi, dan kesehatan. <br />Perlu diketahui, anak yang dibesarkan dalam lingkungan homogen lebih kecil kemampuannya mengembangkan rasa empati terhadap orang lain serta tidak siap hidup dalam masyarakat yang beragam (Carmona, et.al., 2003). Konsumtif, egois, manja, kedengarannya bukan hal aneh saat ini, bukan? Untuk itu marilah Pemkot untuk menambah ruang terbuka hijau yang akan dapat bermanfaat bagi publik <br />Dalam rangka untuk menambah Ruang Terbuka, perlu diperhatikan beberapa hal. Pertama, untuk menghindari terjadinya penurunan jumlah dan luas taman, perlu adanya keputusan dan petunjuk teknis yang dapat memberikan kejelasan tentang jenis/klasifikasi taman, fungsi atau peruntukannya, pengaturan pengelolaan, serta sanksinya. <br />Kedua, Perlunya penyediaan fasilitas sosial (fasos) dan fasilitas umum (fasum), termasuk taman di pemukiman baru yang diusahakan oleh pengembang. Keberadaan taman-taman di pemukiman baru tersebut, paling tidak dapat merededuksi jumlah taman yang harus dibangun oleh pemerintah. <br />Ketiga, Pemerintah hendaknya mengambil prakarsa dengan memberi dorongan, support, bonus, atau apa pun namanya, yang bertujuan memberi spirit bagi pengembang yang setia bersahabat dengan lingkungan. Atau pemerintah membuat regulasi untuk menindak pengembang yang merusak lingkungan, atau mengabaikan regulasi tentang lingkungan hidup. <br />Keempat, untuk meningkatkan jumlah dan luas ruang terbuka serta pelibatan tanggung jawab masyarakat dan stakeholder, perlu dikaji penerapan adanya insentif dan disinsentif yang berupa Green Tax pemanfaatan ruang terbuka di pemukiman (pekarangan rumah). Pajak tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk memelihara dan membangun taman-taman baru. Jadi, masih beranikah kita tidak peduli terhadap pengembangan ruang terbuka di Semarang, yang sekaligus menjamin kelangsungan ketersediaan ruang bermain bagi anak cucu kita?<br />Penulis :<br />Sukawi, Pengajar di Arsitektur Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang</span><br />dimuat di Kompas 22 November 2007<br /><a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/22/jogja/1044940.htm">http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/22/jogja/1044940.htm</a><div class="blogger-post-footer">Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah</div>sukawi (disapa "uuk")http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-77901043380796248062007-11-19T10:57:00.000+07:002008-02-05T14:38:16.716+07:00Masjid Terapung Diatas Danau<a href="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R4L0i9BJ59I/AAAAAAAAABo/ah-9YQRVTXg/s1600-h/masjid+dilihat+dari+danau+putra.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R4L0i9BJ59I/AAAAAAAAABo/ah-9YQRVTXg/s200/masjid+dilihat+dari+danau+putra.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5152949804997404626" /></a><br />Jam menunjukkan pukul 09.00 waktu setempat, ketika rombongan kami yang terdiri dari para mahasiswa tiba disebuah ruang terbuka seperti alun-alun di Jawa yang dinamakan dataran Putra. Agenda pertama kami hari itu adalah mengunjungi Masjid Putra dan Putrajaya Holding Company. Rasa penasaran langsung menyergap begitu melihat kemegahan Masjid Putra yang berada di sebelah barat dataran dengan kubah yang berwarna merah muda sangat menawan. Belum sampai rasa penasaran itu hilang, saya terkaget-kaget melihat banyak sekali turis asing yang hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek baru saja keluar dari pintu gerbang masjid.<br />Semua itu terjawab ketika rombongan kami tiba dipintu gerbang masjid yang cukup megah. Semua orang tanpa kecuali baik muslim dan non muslim dapat menikmati keindahan kawasan masjid putra tetapi harus berpakaian yang menutup aurat. Bagi yang non muslim tidak usah takut karena di gerbang ini terdapat penyewaan baju jubah dilengkapi dengan kerudung bagi wanita untuk dapat masuk kawasan masjid Putra. <br />Kesan monumental langsung menyapa bagi siapa saja yang memasuki kompleks masjid Putra ini. <span class="fullpost"> Masjid ini merupakan sebuah masjid yang dirancang dengan menggabungkan ciri–ciri arsitektur modern dan tradisional. Masjid yang terlihat mengapung diatas danau menjadi lambang kemegahan dan landmark bagi kota baru Putrajaya. Masjid ini mempunyai segala ciri khas arsitektur modern tanpa mengabaikan unsur-unsur Islam mulai dari bentuk sampai ornamennya dan budaya masyarakat setempat. Nama masjid Putra diambil sebagai penghormatan terhadap Perdana Menteri Pertama Malaysia Tuanku Abdul Rahman Putra Al Haj. <br />Sebelum memasuki masjid Putra kita dihadapkan pada sebuah bangunan gerbang masjid yang tinggi dan megah. Gerbang ini dilengkapi dengan hiasan bermotifkan bentuk geometris yang merupakan ciri arsitektur islam serta seni kaligrafi yang indah. Gerbang dibentuk mirip dengan gerbang pada Masjid Raja Hassan di Casablanca di Maroko. Dari segi arsitektur berasaskan seni bangunan Persia pada jaman Safavid sehingga bercirikan konsep Timur Tengah dan dikombinasikan dengan seni - seni tradisional melayu. Gerbang dibuat monumental dengan material dari granit, sehingga manusia akan merasa kecil bila melintasi gerbang masjid. Gerbang ini juga dilengkapi ruang informasi dan tangga menuju tempat wudlu di lantau dasar.<br />Disamping Masjid, terdapat sebuah menara yang berdiri megah setinggi 116 meter di sebelah kiri pintu gerbang Masjid Putra. Menara ini diilhami dari bentuk menara masjid Sheik Omar di Baghdad, berbentuk bintang segi delapan yang terdiri dari 8 penjuru yang melambangkan delapan arah mata angin. Menara ini berfungsi untuk mengumandangkan adzan ke segala penjuru. Terdapat lima tingkatan pada menara ini yang melambangkan lima Rukun Islam dan juga sholat lima waktu. Bagian paling atas dari menara juga berwarna merah muda yang sangat serasi dengan warna kubah utama.<br />Kubah yang berwarna merah muda ini menurut takmir masjid Putra ustad Kamaruzaman bin Abdul Aziz melambangkan modernitas dan mengikuti perkembangan zaman serta keterbukaan bagi siapapun yang inginmengunjungi masjid termegah di Putrajaya ini. Sisi luar dari kubah ini tersusun dari batu granit yang menbentuk ormanen geometris khas islami. Sedangkan pada sisi dalampun dominan warna merah muda dengan ormanen geometris dan disekelilingnya terdapat hiasan kaligradi yang melingkar.<br />Masjid ini dibangun pada lokasi yang sangat penting di Putrajaya yang merupakan pusat pemerintahan administratif Negara Malaysia yang berada di daerah Multimedia Super Coridor (MSC), dimana Putrajaya memberikan catatan pada sejarah baru mengenai perencanaan kota modern di Malaysia. <br />Masjid Putra dibangun dengan tiga konsep dasar ideologi yang sederhana: Pertama, hubungan manusia dengan pencipta, Hubungan ini diwujudkan dengan penerapan desain bangunan yang bernuansa Islami serta membangun masjid sebagai tempat untuk senantiasa mengingat Tuhan. Masjid Putra merupakan salah satu bangunan yang dibuat pertama kali di Putrajaya sebelum bangunan lainnya didirikan.<br />Kedua, hubungan manusia dengan manusia, Hubungan ini diwujudkan melalui sifat kawasan masjid Putra yang terbuka untuk umum baik yang muslim maupun non muslim. Terdapat banyak fasilitas-fasilitas social yang mendukung kegiatan sosialisasi antar masyarakat serta tempat-tempat umum lainnya, baik untuk kegiatan seminar, resepsi perkawinan sampai untuk wisata ataupun beberapa ruang terbuka yang sengaja diciptakan sebagai wadah untuk tempat berkumpul dan bersosialisasi.<br />Ketiga, hubungan manusia dengan alam, Untuk menciptakan hubungan antara manusia dengan alam diwujudkan melalui pembangunan yang ramah lingkungan. Meletakkan banyak ruang terbuka dan hijau di sekitar masjid yang bertujuan selain untuk penghijauan juga sebagai bentuk apresiasi terhadap alam sekitar. Hampir 50 % tepi kawasan masjid Putra berada di Tasik Putra yang berfungsi sebagai danau buatan di Putrajaya. Hal – hal tersebut diciptakan melalui pengaturan landscape kota yang teratur.<br />Masjid Putra ini terletak disebelah barat Dataran Putra, yang merupakan open space yang menghubungkan sumbu utama koridor kota Putrajaya. Sumbu sepanjang 5 km ini menghubungkan Kantor Perdana Menteri Malaysia dengan Putrajaya International Convension Center (PICC). Dataran Putra ini berbentuk lingkaran dengan keliling 300 m yang dilengkapi dengan kolam air serta bentuk bintang ditengahnya dengan sudut berjumlah 13 yang melambangkan jumlah negara bagian di Malaysia. Masjid Putra dikelilinggi oleh Danau Tasik Putrajaya sehingga dapat dilihat keindahan lingkungan kawasan sekitarnya serta menjadikan Masjid Putra kelihatan terapung-apung di permukaan danau. Selain itu juga memanfaatkan udara segar untuk ventilasi alami dari danau untuk menyejukkan kawasan masjid. Jembatan Putra dan Kompleks Perdana Menteri juga dapat dilihat dengan jelas dari lingkungan masjid ini.<br /> Seni bangunan berarsitektur Islam berkembang secara kontinyu dan terus menerus mengikut perkembangan kota dan ilmu yang diawali dari masjid Rasullullah SAW di Medinah. Kemahiran dalam seni bangunan merupakan lambang dari tingginya ilmu dan peradaban suatu bangsa. Seni bangunan Islam sangat dikagumi hingga sekarang ini walaupun usianya telah menjangkau beratus-ratus tahun bahkan ribuan tahun seperti yang banyak terdapat di Turki, Maroko, Spanyol dan sebagainya. Banyak sekali ukiran kaligrafi yang diadopsi dari Timur Tengah menghiasi setiap ormanen Masjid Putra, terutama pada ruang sholat utama.<br />Potensi alam yang ada disekitar Masjid berupa hembusan angin yang cukup kuat merupakan sistem penghawaan alam yang digunakan pada Masjid Tuanku Abdul Rahman Putra Al Haj atau Masjid Putra. Bangunan ini menggunakan sistem penghawaan alami untuk ruang sholat utama, dan ruang sholat jemaah wanita. Sedangkan untuk ruang yang lain seperti Auditorium, ruang makan besar, Exhibision hall menggunakan penghawaan buatan. Masjid Putra dirancang dan dibangun pada kawasan dengan angin bertiup cukup kuat. Angin dari Danau Tasik Putrajaya ditangkap di lantai dasar dan disalurkan menuju lorong dan rongga kolom-kolom yang berjumlah 12 buah yang mengelilingi ruang utama sholat dan rongga pada 4 kolom utama, sehingga kolom berbentuk bujur sangkar yang terdapat di ruang sholat utama ini berongga ditengahnya. Udara dingin dari rongga kolom dikeluarkan pada sisi bawah kolom melalui kisi-kisi dari kayu yang menyatu dengan lemari untuk tempat Al Quran dan buku-buku Islami yang mengelilingi setiap kolom. Jadi pada ruang sholat utama Masjid Putra menggunakan sistem penghawaan alami dan tidak mempunyai penghawaan buatan baik Air Conditioning (AC) maupun kipas angin. </span><br />dimuat di : Suara Merdeka, Minggu 11 November 2007<div class="blogger-post-footer">Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah</div>sukawi (disapa "uuk")http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-72519692296038718062007-10-23T15:24:00.000+07:002008-02-05T14:40:18.598+07:00Jam Kota, Bukan Sekedar Elemen Estetis KotaJam atau arloji merupakan salah satu benda penting sebagai penunjuk waktu. Tempo dulu, arloji termasuk benda mewah sehingga yang memiliki hanya orang-orang tertentu. Mengingat jam atau arloji itu sangat dibutuhkan masyarakat maka pemerintah Belanda pernah mendirikan jam kota di dekat Pasar Johar yang sekarang sudah hilang tergusur trotoar pasar Ja’ik. Saat ini kita sering menjumpai jam kota yang didirikan pihak swasta di beberapa penggal jalan protokol. Jam kota dapat kita jumpai diantaranya di Pertigaan Kaliwiru, Perempatan Metro Peterongan, sudut Taman Diponegoro, sekitar Taman Menteri Supeno, taman di jalan Sudirman dan banyak lagi. <br />Tetapi alangkah sedihnya, saat ini apabila kita berkendara dan menjumpai jam kota banyak yang mati dan tidak berfungsi. Rasa kecewa bertambah lagi ketika jam kota yang mahal ini tidak ada yang bertanggung jawab terhadap pemeliharaan rutin dan perbaikannya. Padahal sebenarnya kehadiran jam kota yang tersebar di jalan-jalan kota Semarang ini dimaksudkan untuk mengingatkan waktu kepada warga Semarang.<br /><span class="fullpost"> Penunjuk waktu yang selanjutnya disebut jam ternyata sudah dikenal sejak 1.500 tahun sebelum Masehi oleh bangsa Mesir dengan sebutan sundial, sebuah instrumen penunjuk waktu dengan memanfaatkan bayang-bayang benda dari sinar matahari. Baru kemudian sundial dikenal bangsa China, Mesopotamia, dan Yunani. <br />Kehadiran jam kota sangat dibutuhkan warga, sehingga letaknya harus strategis, jumlahnya harus cukup, sehingga bisa dilihat banyak orang. Meski tampak sepele, namun jam kota tersebut tidak sedikit jasanya bagi masyarakat sehingga dapat dijadikan sebagai penanda/ tetenger kawasan kota. Pemahaman makna tentang nilai, keunikan, karakteristik suatu tempat akan membentuk suatu identity. Identitas akan memberikan "arti" sebagai pembentukan image suatu tempat (place). (Lynch,1960).<br />Salah satu di antaranya dapat menjadi identitas kota karena keunikan dari bentuknya. Seperti menara jam di Gedung Parlemen Inggris, yang terkenal dengan sebutan Big Ben. Di Bukittinggi, Sumatera Barat, ada jam Gadang yang menjadi identitas dan landmark kota. Jam ini dibangun oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1827 sebagai tempat pengintaian pada saat berkecamuk perang Padri (1825-1830). Tugu ini didirikan di dataran paling puncak Bukit Kandang Kabau yang berada di pusat Kota Bukittinggi. Lonceng juga berbunyi setiap jam dan penduduk Bukittinggi biasa menjadikan Jam Gadang sebagai panduan waktu karena dentangan loncengnya terdengar hingga jarak yang jauh.<br />Sebenarnya pembangunan jam kota di Semarang ini agar dapat meningkatkan tingkat kedisiplinan masyarakat Semarang. Selama ini kita menilai tingkat kedisiplinan orang semarang sangat rendah. Banyak kita jumpai tindakan main serobot baik di jalan raya maupun antrean ditempat umum lainnya. Budaya main terobos inilah yang perlu terus diingatkan di jalan raya, dengan selalu mematuhi setiap rambu lalu lintas. Jangan sampai jam kota yang berdiri di tempat-tempat strategis kota hanya sebagai hiasan untuk memperindah jalan.<br />Tugu jam bukan sekedar elemen estetis kota, melainkan benar-benar dapat dimanfaatkan masyarakat baik fungsinya sebagai penunjuk waktu, sebagai nilai keindahan/estetis kota serta dapat berguna untuk membudayakan sikap tepat waktu dan disiplin, di jalan raya maupun di tempat umum. Warga kota Semarang terus bermimpikan suasana tertib dan disiplin dijalan raya, walau tidak jelas kapan mimpi itu terealisasi, karena kita memelihara jam kota yang sudah ada pun tidak mampu dan tidak mau…<br />Penulis :<br />Sukawi, Pengajar Arsitektur di Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang</span><br />dimuat di Kompas selasa, 23 Oktober 2007 <br /><a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0710/23/jateng/61536.htm">http://www.kompas.com/kompas-cetak/0710/23/jateng/61536.htm</a><div class="blogger-post-footer">Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah</div>sukawi (disapa "uuk")http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-3883165400927952002007-07-27T09:32:00.000+07:002008-02-05T14:41:24.996+07:00Pemkot, manager Real Estate<em>Keberhasilan pengembangan suatu kawasan oleh pihak swasta selalu dibayangi oleh ketidaksiapan atau ketidakmampuan pemerintah mengantisipasi dampak-dampak yang mungkin terjadi, misalnya kemacetan dan ketidakteraturan. Sebagian besar proyek konstruksi yang dikembangkan di Semarang atas adalah proyek pengembangan perumahan, sisanya adalah pembangunan mal, ruko dan perkantoran. Namun, tidak terlihat adanya pembangunan infrastruktur yang mendukung, misalnya pelebaran jalan atau penambahan jembatan.<br />Padahal dengan logika sederhana saja, jika suatu kawasan bertambah penghuninya, tentu volume arus lalu lintas pasti bertambah, untuk itu daya dukung ruas jalan juga harus ditambah. Kalau tidak, tentu akan timbul kesemrawutan dan kemacetan sehingga merugikan warga. Sudah terjadi di Semarang bagian Selatan, ketika kita akan menuju kawasan perumahan idaman yang rapi dan asri, selalu diawali dengan susah payah untuk menembus kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas. Hal ini telah menunjukkan bahwa tidak adanya kesamaan tujuan dan langkah antara pengembang dan pemerintah setempat yang mempunyai tanggung jawab dan wewenang menyediakan prasarana wilayahnya.<br />Booming Perumahan<br />Ketika kita menyimak perkembangan permukiman di kawasan Samarang Selatan, suatu kawasan yang sebenarnya ada dua magnet perkembangan permukiman disini, yaitu Banyumanik dan Tembalang. Dengan potensi yang berada didaerah perbukitan, di sini ada beberapa perumahan yang dikembangkan sekitar tahun 1990-an sampai sekarang, antara lain Bukit Sari, Bukit Agung, Srondol Bumi Indah, Tembalang Asri, dan masih banyak lagi. Kini, perumahan-perumahan ini ada yang masih dikembangkan terus dan sebagian sudah tidak dikembangkan lagi karena keterbatasan lahan.<br />Booming penjualan properti di Semarang Selatan ini dipicu terjadinya rob dan banjir yang dimulai pada awal tahun 2000-an. Saat itu banyak penduduk perumahan elite di daerah Tanah Mas dan sebagainya mulai berpikir untuk "mengungsi" ke kawasan bebas banjir, pilihan jatuh antara lain di Semarang Selatan. Kawasan seluas ribuan hektar yang masih mempunyai keunggulan: hawa asri dan sejuk, dekat dari keramaian, dan bebas banjir.<br />Hingga saat ini developer masih mengincar kawasan ini sehingga muncul perumahan generasi berikutnya yang saat ini dalam tahap pembangunan, antara lain Tembalang Regency, Graha Estetika, Bukit Hijau, sampai Taman Diponegoro yang pencapaian dari pusat kota sangat mudah dengan jalan bebas hambatan (tol).<br />Jika membandingkan peran pemerintah dan pengembang dalam mengelola kawasan, terlihat ada perbedaan yang mencolok. Pengembang rupanya lebih jago dalam menata wilayahnya dibandingkan dengan pemerintah kota (pemkot). Pengembang sangat menjaga kenyamanan, keamanan, dan berusaha memenuhi kebutuhan warganya dengan fasilitas yang memadai, sebut saja mulai dari pintu gerbang, kita sudah merasakan layanan para pengembang berupa taman dan pepohonan yang rindang dengan disambut ramah oleh anggota satuan pengamanan. Jalan aspal dan trotoar lebar, didukung pula rambu-rambu dan lampu jalan yang cukup. Tidak ada sampah berceceran dan pedagang kaki lima yang membuka tenda sembarangan. Tapi, Anda tidak akan susah mendapatkan jajanan kaki lima karena developer telah meyediakan kawasan khusus yang semua tertata rapi.<br />Namun, citra yang sangat berbeda muncul ketika Anda masuk wilayah Semarang pinggiran mulai dari Ngaliyan, Kedung Mundu sampai daerah Semarang Timur. Jika masuk ke jalan Majapahit di pagi maupun sore hari, Anda akan disambut kemacetan dan kesemrawutan khas persimpangan lampu lalu lintas. Angkot nyerobot lampu merah dan ngetem pada saat lampu hijau. Ojek berkerumun di bahu jalan, warung makanan berjejer tidak beraturan. Tidak ada trotoar untuk pejalan kaki, bahkan hingga mendekati ruas jantung kota, di depan kantor kelurahan dan di depan sekolah-sekolah pun Anda tidak akan menemukan trotoar (pedestrian). Padahal arus lalu lintas cukup padat sepanjang hari.<br />Di Jalan Kedung Mundu dan Fatmawati misalnya, Anda akan disuguhi kemacetan yang sebenarnya tidak perlu karena alasan klasik: keluar masuk parkir, putaran arus lalu lintas dan angkutan kota berhenti sembarangan, khususnya di depan pasar dan pusat keramaian. Diperparah lagi, sepanjang jalan ini Anda tidak akan menemukan halte dan juga pos polisi.<br />Dari gambaran di atas sangat jelas perbedaan mencolok dalam perlakuan pemerintah dan pengembang dalam mengelola kawasan. Seharusnya pemerintah mengakui kekurangannya dan merangkul para pengembang untuk berbagi pengalaman membangun kota. Dan kemudian sedikit demi sedikit menata kawasan dengan tujuan meningkatkan pelayanan bagi warganya.<br />Jika terkendala masalah dana, pemerintah bisa menggandeng swasta, misalnya dalam penataan kawasan persimpangan jalan dengan cara menjadikannya sebagai kawasan komersial city walk misalnya. Menggandeng swasta untuk menyediakan angkutan masal yang nyaman dan terjangkau. Sehingga jalanan tidak penuh dengan kendaraan pribadi sehingga akan memberi kenyamanan bagi orang untuk bisa leluasa berpindah moda transportasi dan juga bisa berbelanja.<br />Dengan ini diharapkan dapat menyelesaikan sebagian masalah dan sekaligus memberikan peluang bisnis baru yang juga bisa meningkatkan pendapatan bagi kas daerah. Sampai kapan daerah pinggiran tertinggal dengan kawasan perumahan elit di Semarang Selatan dan sampai kapan pula kemacetan dapat diurai? Untuk menjawab, tidak ada salahnya penguasa segera belajar kepada pengusaha dalam mengelola wilayah dan memberikan pelayanan bagi warganya. Hingga nantinya pemerintah berperan juga sebagai manajer ”real estate” bagi wilayahnya.<br /><br />Penulis :<br />Sukawi<br />Pengajar di Arsitektur Universitas Diponegoro Semarang</em><br /><br />dimuat di : Seputar Semarang, Juli 2007<div class="blogger-post-footer">Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah</div>sukawi (disapa "uuk")http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-65923077029299384462007-06-12T15:14:00.000+07:002008-02-05T14:38:16.716+07:00Melayang di Puncak LawangMENJELANG malam, saya bersama <strong>Tim P5 Undip</strong> di Kota Padang setelah melakukan survei tata ruang dan harus menempuh perjalanan cukup melelahkan. Bayangkan, 12 jam kami harus melintasi jalur darat yang berkelok-kelok antara Sibolga dan Padang. Karena esok adalah hari Minggu, sebagai pelepas lelah, Pak Fauzi yang memandu kami mengajak berburu suvenir sekaligus menikmati keindahan alam pesona Danau Maninjau hingga Bukittinggi. <br /><br />Angin berembus semilir di Kabupaten Agam. Hawa sejuk pun menjamah tubuh dengan penuh kelembutan. Sementara itu, keindahan alam makin terasa tatkala kemegahan gunung yang terhampar tegar di wilayah kabupaten yang beribukotakan Lubuk Basung itu menebar pesona. <br /><br />Danau Maninjau berada sekitar 140 kilometer sebelah utara Kota Padang, dan 38 km sebelah barat dari Kota Bukittingi. Maninjau yang merupakan danau vulkanik ini berada di ketinggian 500 meter di atas permukaan laut, dengan luas sekitar 99,5 km persegi dan memiliki kedalaman maksimal 495 meter. Airnya biru jernih dan dikitari bebukitan indah sehingga menambah cantiknya pemandangan di sana. <br /><br />Menurut cerita tua, Maninjau ini berkembang dari legenda Bujang Sembilan. Ada sebuah keluarga terdiri atas 10 orang: 9 orang laki-laki (bujang) dan seorang perempuan bernama Sani. Keelokkan paras dan perilaku si gadis memikat pemuda bernama Sigiran. Meraka lalu menjalin asmara. Datanglah tuduhan dari Bujang bahwa selama menjalin asmara telah melakukan perbuatan amoral. <br /><br />Untuk membuktikan kedua sejoli itu tak melakukan seperti yang dituduhkan, keduanya harus terjun ke kawah gunung Tinjau. Kalau terbukti, gunung itu akan meletus dan menenggelamkan kampung itu. Dan terbuktilah. Maka seperti sebuah pembenaran, hingga sekarang masih bisa kita jumpai kawah di Danau Maninjau. Adapun Bujang Sembilan itu dikutuk menjadi ikan, dan konon masih hidup hingga kini.<br /><br />Danau Maninjau telah menjadi salah satu objek wisata internasional, terlebih dengan adanya kawasan wisata Puncak Lawang. Kejuaraan paralayang berkelas internasional berkali-kali dilakukan di sana. Menurut para penggemar paralayang, Puncak Lawang merupakan lokasi terbaik di Asia Tenggara untuk olah raga tersebut. Dari ketinggian Puncak Lawang itu kita bisa menyaksikan keindahan Danau Maninjau yang memukau dengan air yang tenang.<br /><br />Amboi, dinginnya kawasan tersebut langsung menyapa begitu kami turun dari mobil. Kabut tebal dan angin dingin segera membungkus tubuh kami. Pepohonan pinusnya seolah-olah riang bersiul diterpa angin. Panoramanya sangat mirip kalau kita berada di Swiss. Bayangkan saja hingga jam 11.00, kabut tak jua pergi dan mewarnai suasana bak pagi hari. <br /><br />Ya, Puncak Lawang memang surga bagi penggemar paralayang. Mereka bisa ber jam-jam melayang di atas danau ini. Tak heran, setiap bulan Juli selalu ada lomba di sana. Bahkan karena kekagumannya, Presiden RI pertama Soekarno pun juga pernah membuat puisi mengenai keindahan panorama Danau Maninjau itu.<br /><br />Untuk menikmati keindahan panorama dan paralayang, kami harus menaiki tangga yang cukup terjal. Didekat gardu pandang, terdapat lapangan yang cukup luas untuk take off paralayang. Saat kami mencapai puncak, sudah ada tiga orang penerbang paralayang yang bersiap-siap melayang-layang. Masing-masing membawa ransel punggung seberat 15 kilogram berisi payung terjun. Angin bertiup semilir menerpa wajah-wajah yang kedinginan. Ketika diukur, kecepatannya baru mencapai 5 hingga 7 kilometer per jam. Untuk terbang, diperlukan kecepatan angin minimal 10 kilometer per jam. <br /><br />Setelah menunggu cukup lama, sekitar pukul 12.00, seorang demi seorang penerbang yang disebut pilot di dunia paralayang itu mulai terbang. Dimulai dengan sedikit ancang-ancang sambil melihat bendera sebagai indikator arah angin, si pilot berlari menuju bibir jurang yang rimbun. Di belakangnya, dua orang membantu memegangi parasut. Satu-dua menit kemudian, parasut itu membentuk payung memanjang dan mulai melayang di udara. Sang pilot berlari-lari kecil dan tampak bergelayutan pada tali-temali paraglider-nya. <br /><br />Setelah berhasil, terdengar sorak penonton yang dari tadi mengikuti atraksi tersebut. Banyak di antara wisatawan yang mengabadikan momen tersebut dengan kamera maupun handycam. Jadi, wisatawan yang biasanya hanya menikmati keindahan danau kini disuguhi atraksi yang menarik. <br /><br />Setelah lepas landas dan melayang layang menikmati keindahan Danau Maninjau, para penggemar paralayang mendarat nun di bawah sana di tepi Danau Maninjau yang dinamakan Rizal Beach. Tempat itu merupakan padang hijau yang cukup luas. <br /><br />Untuk mencapai kawasan Puncak Lawang, kita akan melewati perjalanan dengan 44 belokan. Itu sebabnya rute ini dinamakan Kelok Ampek Puluah Ampek, yang dalam bahasa Indonesianya tikungan 44. Tikungannya tajam dan bisa membuat pengunjung mengalami mual perut atau kepala pusing. Tapi itu lantas dibayar oleh keindahan panorama yang tersaji.<br /><br />Gula Khas <br /><br />Bila Anda masih punya waktu di Puncak Lawang, jangan lupa membeli dan mencicipi manisnya Saka Lawang. Ya, perjalanan ke sana yang melelahkan itu bisa sejenak diobati dengan rehat dan menghilangkan dahaga dengan menikmati manisnya gula dari batang tebu.<br /><br />Perlu diketahui, hampir di seluruh daerah tersebut terdapat perkebunan tebu rakyat yang sengaja ditanam sebagai mata pencaharian masyarakat Puncak Lawang. Melalui proses tradisional, tebu itu diolah menjadi gula tebu (saka) yang digunakan sebagai bahan pemanis untuk masakan, terutama kue. Saka Lawang cukup populer bagi masyarakat Minang.<br /><br />Di sela-sela rimbunan kebun tebu, berdiri gubuk bertiang kayu, beratap ilalang. Meski amat sederhana, ratusan gubuk seperti itulah yang telah menebarkan manisnya gula ke antero ranah Minang. Orang-orang Puncak Lawang menyebut ratusan gubuk seperti itu kilang gula merah.<br /><br />Dalam proses pembuatan gula, menurut Pak Fauzi, dosen di Universitas Bung Hatta Padang yang juga kelahiran Lawang Kecamatan Matur, tebu-tebu ditebas dan dibersihkan daunnya. Air sari tebu yang manis diperas lewat gerinda kayu atau besi yang diputar dengan menggunakan tenaga tradisional yaitu kerbau. satwa itu ditutup matanya dengan tempurung kelapa agar patuh terhadap perintah sebagai pemutar gerinda. Ya, kerbau sudah menjadi rekan setia para perajin gula merah Puncak Lawang selama dua generasi..<br /><br />Selanjutnya, air sari tebu dituang dalam kuali besar untuk kemudian dipanaskan dalam tungku batu berbahan bakar kayu dan ampas tebu. Dan bila air tebu telah mengental coklat kemerahan, itulah saatnya menyiapkan cetakan-cetakan kayu. Pasta coklat dituangkan, setelah gula merah mengeras, maka siap dipasarkan.<br /><br />Jika saja potensi yang cukup besar tersebut diolah dan ditata dengan baik pasti akan menimbulkan minat dan kesan tersendiri bagi para wisatawan. Benarlah bahwa Danau Maninjau itu rancak bana. Indah nian. Karena itu, kalau Anda berniat untuk berwisata ke Sumatra Barat, jangan lupa memasukkan Danau Maninjau berikut Kelok Ampek Puluah Ampek dan Puncak Lawangnya ke dalam agenda perjalanan Anda. Sungguh, Anda takkan menyesal. <br />(Sukawi/73) <br /><br />dimuat di :<br />Rublik Jalan-jalan <strong>Suara Merdeka, minggu 3 juni 2007</strong><div class="blogger-post-footer">Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah</div>sukawi (disapa "uuk")http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-33788876792790253042007-05-21T09:28:00.000+07:002008-02-05T14:38:16.716+07:00Bawomataluo dan Hombo BatuCerita tentang Nias Selatan nyaris tidak lepas dari rumah adatnya dan tradisi hombo batu. Atraksi lompat batu khas daerah ini pernah menghiasi lembaran uang seribu rupiah. Tradisi lompat batu masih dilestarikan di desa adat Bawomataluo. Ini merupakan desa adat yang sering dikunjungi wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Tradisi ini dahulunya merupakan sarana untuk melatih pemuda dan prajurit dalam persiapan perang antar suku. Batu ini berupa tugu yang tersusun dari batu yang lebih kecil yang mempunyai ketinggian sekitar 2 m dan bagian atas tugu tersebut mempunyai lebar 90 x 60 cm. <br /> Kompleks rumah adat Nias yang paling besar adalah Desa Bawamataluo lengkap dengan daya tarik berupa masih aslinya kehidupan masyarakat di sana dengan berbagai tradisi, seperti rumah adat, ritus lompat batu, tarian perang, dan tinggalan budaya megalitik. Berada di Desa Bawomataluo seakan terlempar ke masa silam. Deretan rumah tradisional terbuat dari kayu dengan arsitektur khas Nias itu dihuni sebagai mana layaknya kompleks perumahan. Ukiran batu megalitik menghias di beberapa tempat.<br />Ketika menginjakkan kaki dihalaman gerbang bawah bawomataluo, kita dihadapkan pada dua patung penjaga gerbang desa adat berupa patung hewan berkepala lasara. Dengan menaiki tangga berjumlah 64 buah, kita sampai di desa adat Bawomataluo yang dalam bahasa Nias artinya adalah Matahari Terbit. Kita langsung disambut dengan anak-anak kecil yang menjajakan cinderamata khas Nias seperi perlengkapan perang mulai dari pelindung leher yang terbuat dari tempurung kelapa, dan souvenir dari kulit penyu dan patung-patung dari kayu.<br /> Ada ungkapan yang terkenal disana, “Belum ke Nias jika belum ke Bawomataluo dan melihat atraksi Hombo Batu”. Dengan merogoh sedikit kocek sekitar Rp 150.000, kita bisa melihat atraksi Hombo Batu. Tiga orang pemuda dengan pakaian adat perang siap untuk unjuk kebolehan. Dalam hitungan detik, sedikit ancang-ancang sejauh 15 m, mereka lari dan mendekati batu langsung melompat dan melayang melintasi tugu batu serta memutar tubuh dan mendarat dengan sigap dan tetap berdiri menghadap tugu batu tersebut. Untuk mengabadikan momen tersebut, wisatawan diijinkan untuk memakai pakaian adat perang dan diabadikan gambarnya untuk kenang-kenangan. <br />Dari beberapa desa adat yang tim P5 Undip kunjungi diantaranya di Botohilitano, Orahili, Bawomataluo dan Hilinawa Mazinge, tidak semua melestarikan tradisi Hombo Batu. Hanya di Bawomataluo satu-satunya desa adat yang masih memegang teguh tradisi dan meletarikannya. Bowomataluo mempunyai jumlah rumah adat terbesar dengan jumlah sekitar 250 unit dengan Oma Sebua (rumah besar) yang paling besar di Nias. Saat ini penghuni desa adat Bawomataluo berjumlah sekitar 700 kepala keluarga.<br />Hasil rapat UN Join Program yang pernah diikuti oleh Tim, Desa adat Bawomataluo sedang dalam penanganan UNESCO yang direncanakan akan dicanangkan menjadi Kawasan warisan cagar budaya dunia pada tahun 2010. Untuk itu segala persiapan termasuk perbaikan rumah adat yang rusak mulai dilakukan dengan bekerjasam pula dengan BRR Aceh Nias. Kita sebagai bangsa Indonesia wajib untuk mendukung Desa Adat Bawomataluo untuk menjadi Warisan Budaya Dunia pada tahun 2010 agar warisan luhur budaya kita dapat lestari dan tetap terpelihara sampai anak cucu kita.<div class="blogger-post-footer">Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah</div>sukawi (disapa "uuk")http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-26964466495322339352007-05-21T09:08:00.000+07:002008-02-05T14:38:16.717+07:00Sorake Tempat Selancar TerbaikKabupaten Nias Selatan adalah salah satu kabupaten di Sumatra Utara yang terletak di pulau Nias. Nias Selatan (Nisel) sebelumnya adalah bagian Kabupaten Nias dengan status otonom diperoleh pada 25 Februari 2003 dan diresmikan pada 28 Juli 2003. Kabupaten ini beribukota di Teluk Dalam, terdiri dari 104 gugusan pulau besar dan kecil, yang masyarakatnya tersebar di 21 pulau dalam delapan kecamatan.<br />Pada 28 Maret 2005, gempa melanda kepulauan Nias dengan kekuatan 8,7 skala Richter yang melumpuhkan dan meluluhlantakkan perumahan, tempat ibadah, kegiatan pemerintahan dan pembangunan di daerah tersebut. Berkaitan dengan kegiatan pembangunan di Nisel, penulis dengan tim dari Pusat Pelayanan Perencanaan Pembangunan Partisipatif (P5) UNDIP bekerjasama dengan UN-Habitat menjadi fasilitator dalam proses perencanaan dan pengembangan infrastruktur yang tertuang dalam rencana tata ruang (spatial planning) untuk kota Teluk Dalam, yang melingkupi komponen-komponen infrastruktur terutama yang mendukung perencanaan pariwisata yang berbasis pada masyarakat.<br />Penulis sudah kali yang kedua menginjakkan kaki di Tano Niha (Tanah Nias). Untuk mencapai kota Teluk Dalam, dalam perjalanan pertama dimulai dari Kota Padang Sumatera Barat. Dengan menggunakan travel dengan perjalanan darat membutuhkan waktu 12 jam untuk sampai di Sibolga. Dari kota pantai Sibolga dengan perjalanan laut menggunakan kapal feri berjarak tempuh 12 jam untuk sampai di Gunung Sitoli. Kebetulan cuaca sedang bagus sehingga dengan selamat sampai di Gunung Sitoli, satu-satunya kota terbesar di pulau Nias. <br />Jika cuaca ditengah laut ombaknya besar maka feri tidak berani melanjutkan perjalanan dan kembali ke Sibolga. Itu sedikit perbincangan kami dengan para penumpang yang mempunyai tujuan sama. Dari Sibolga di Pulau Sumatera, biasanya ada 2 buah feri yang melayani bolak-balik ke Nias sehari sekali, yaitu KM Barau dan KM Belanak. Jadi, kalau hari ini feri itu menuju Nias, keesokan harinya feri yang sama menuju Sibolga. Dari Gunung Sitoli dengan menyewa kendaraan penulis beserta tim menempuh perjalanan darat yang cukup melelahkan dengan medan berat sekitar 4 jam untuk sampai di kota Teluk Dalam. Keterpencilan Nias terlihat jelas dari realitas bahwa lautan yang memisahkan Nias dengan Pulau Sumatera adalah lautan dalam. Nias adalah bagian Sumut yang "terpencil" karena tidak sembarang kapal bisa mengarungi samudra. Ditambah lagi dermaga di Gunung Sitoli sedang diperbaiki sehingga hanya kapal kecil yang dapat berlabuh.<br />Perjalanan kedua jauh lebih nyaman, karena ditempuh melewati kota Medan Sumatera Utara. Dengan pesawat fokker-50, tim berangkat dari bandara Polonia dan menempuh perjalanan sekitar 1 jam untuk sampai di Bandara Binaka yang terletak sekitar 20 kilometer di selatan Gunung Sitoli. Ini merupakan bandara satu-satunya di Nias dengan kondisi yang agak terbengkalai karena tidak terawat sebagaimana mestinya. Sedikitnya penerbangan yang masuk ke sana akhirnya membuat minimnya dana untuk perawatan bandara kecil itu. Dengan panjang landasan pacu sekitar 1,5 kilometer, hanya pesawat jenis cassa, cesna, dan fokker yang dapat mendarat. Pascagempa menyisakan retakan di landasan pacu sepanjang 150 meter. Jumlah penerbangan yang menuju Binaka dari Medan dan sebaliknya, ada 3 maskapai dengan penerbangan 2 kali sehari. Dari Bandara Binaka kita bisa menyewa kendaraan atau travel untuk perjalanan darat sekitar 4 jam ke Teluk Dalam.<br />Sarana transportasi darat di Nias pun merupakan mimpi buruk bagi wisatawan yang tidak suka petualang. Sangat beruntung kalau Anda bisa menempuh perjalanan Gunung Sitoli-Teluk Dalam, yang jaraknya sekitar 120 kilometer, dalam empat jam. Kondisi jalan di sana buruk dan kalaupun diperbaiki, biasanya hal itu hanya bertahan untuk waktu yang singkat, selanjutnya akan rusak kembali. Tanah di Nias labil sehingga jalan yang baru diperbaiki hanya akan berumur pendek. <br />Keterbatasan sarana dan prasarana transportasi dan komunikasi tidak hanya antara kabupaten dan tetangga di sekitarnya, tetapi juga terjadi antarkecamatan dalam kabupaten. Sinyal telepon seluler hanya operator tertentu yang beroperasi dan hanya di kota Teluk Dalam yang dapat menerima sinyal, masuk pedalaman sedikit sudah blank. Bila menelusuri daerah pedalaman, tidak jarang terlihat jembatan dalam kondisi rusak. Untuk sampai seberang jembatan, perlu nyali untuk petualang. Butuh waktu berjam-jam, untuk bisa menginjakkan kaki di Teluk Dalam.<br />Di bidang pariwisata, potensi wisata kabupaten Nisel sebenarnya cukup menjanjikan terutama dengan pantainya yang indah. Sorake, salah satu pantai di daerah itu, akrab di telinga penggemar olahraga selancar, karena mempunyai ombak yang cukup tinggi. Turnamen selancar tingklat dunia beberapa kali diadakan di pantai itu. Terdapat juga andalan wisata lainnya yaitu Pantai Lagundri yang berpasir putih, terletak disebuat laguna yang bersebelahan dengan pantai Sorake. Pantai ini berjarak sekitar 13 km selatan kota Teluk Dalam. Di Kecamatan Pulau-pulau Batu terdapat lokasi menyelam, terumbu karang, serta ikan- ikan hias dan pantai berpasir putih. Ada juga peninggalan zaman megalitik berupa batu-batu megalit di Kecamatan Lahusa dan Gomo. Selain itu juga terdapat peninggalan cagar budaya yang masih dipu yaitu permukiman desa adat di Bawomataluo yang terletak dipedalaman dan berada di puncak bukit. Kompleks rumah adat Nias di Desa Bawamataluo lengkap dengan daya tarik berupa masih aslinya kehidupan masyarakat di sana dengan berbagai tradisi diantaranya dalah Hombo Batu atau yang dikenal dengan Lompat Batu.<br />Beberapa kali telah diadakan lomba berselancar tingkat internasional di Pantai Sorake, tetapi lokasi ini belum tertata dengan rapi. Sepanjang pantai Lagundri dan Pantai Sorake berjajar home stay yang siap melayani dan membuai wisatawan yang ingin menikmati keindahan pantai, dengan tarif yang cukup murah sekelas penginapan melati. Sampai saat ini kalau kita naik feri dari Sibolga menuju Gunung Sitoli atau naik pesawat dari Polonia ke Binaka, kita akan menjumpai banyak sekali turis berkulit putih. Mereka adalah penggemar olahraga selancar yang akan datang ke Pantai Sorake dan menikmati keindahan pantai pasir putih di Lagundri. Tempat surfing dan selancar yang disebut paling baik kedua setelah Hawaii adalah Pantai Sorake dan Lagundri.<br />Menurut Harison Sagoto, pemuda setempat, ombak di pantai Sorake bisa mencapai ketinggian 15 m karena langsung berhadapan dengan Samudera Indonesia. Ombak di Sorake ini konon memang sangat ideal untuk olahraga air berselancar. Ombak di pantai ini punya lima tingkatan. Tidak ada tempat lain di dunia yang punya ombak seperti itu. Jadi, kalau peselancar gagal main slalom di sana, mereka masih bisa melanjutkan atraksi dengan gaya lain di tiap ombak berikutnya. Gagal lagi, masih ada tiga jenis ombak menanti sehingga permainan selancar wisatawan menjadi lebih panjang. Akibat olahraga selancar pula, di kedua pantai ini tumbuh aneka penginapan dan kafe. Kedua pantai itu seakan Kuta atau Legian keduanya Indonesia.<br />Namun, kenyataan menunjukkan pantai Lagundri dan Sorake hanya ramai saat ada kejuaraan internasional selancar, yang biasanya jatuh pada bulan Juni - Juli, saat ombak sedang besar-besarnya. Di luar itu, kedua pantai tersebut adalah pantai indah yang sepi dan sunyi, demikian ratapan seorang pengusaha home stay di Lagundri bernama Milyar Wau.<br />Pantai-pantai indah inipun pada hari libur terutama hari Sabtu dan Minggu selalu sedsak ramai tua muda kyang mandi, renang atau sekedar jalan-jalan menikmati keindahan laut untuk sekedar refresing menghabiskan waktu liburan bagi masyarakat sekitar kota Teluk Dalam dan sekitarnya.Wisata murah meriah ini menjadi satu-satunya pilihan rekreasi warga. <br />Untuk menjaring wisatawan, di pantai Sorake telah dibangun Hotel berbintang bernama Sorake Beach Resort yang diresmikan pada 20 Juli 1994, oleh Raja Inal Siregar Gubernur Sumatera Barat saat itu. Karena itu, Hotel Sorake ini sungguh direncanakan dan dibangun dengan bagus, berlantai marmer dan aneka perabotnya sekelas dengan yang ada di hotel berbintang empat. Untuk yang ingin merasakan tidur di bangunan rumah adat Nisel, dibuat juga cottage yang mengambil model rumah tradisional Nisel. <br />Nisel sangat potensial dalam segi wisata, namun terabaikan karena lupa membangun sarana dan prasarana terutama transportasi yang memadai. Selancar, surfing, atau sekadar bertelanjang dada menikmati sinar mentari di pantai-pantai menjadi gambaran yang lekat begitu kata "Nias" disebut. Bayangan indahnya pulau yang termasuk wilayah Provinsi Sumatera Utara ini pun menyeruak. Lautnya yang jernih, berlapis warna hijau bening dan biru memukau, pasir putih, dan nyiur pepohonan kelapa. Terselip tetapi tak kalah menarik, yaitu pesona tinggalan budaya megalitik dan juga rumah-rumah adat ramah lingkungan serta berbagai hasil karya masyarakat Nias yang telah berumur ratusan tahun.<br />Selain desa adat Bawomataluo sebenarnya ada beberapa permukiman adat yang dapat menjadi andalan wisata Nisel, seperti desa adat Botohilitano yang banyak terdapat batu megalitik yang dilengkapi dengan ukiran dan patung bermotifkan hewan dan tumbuhan. Desa adat Orahili yang merupakan cikal bakal berdirinya Bawomataluo juga masih indah dengan deretan rumah adat yang saling berhadap-hadapan yang kelihatan menawan jika dilihat dari desa Bawomataluo karena berada di bawahnya. Desa adat Hilinawa Mazinge yang mempunyai rumah adat besar atau sering disebut Omo Sebuo yang merupakan rumah pemimpin adat dan rumah bangsawan yang tertua di Nias. Menurut sebuah buku yang tim baca di rumah besar Hilinawa Mazinge, rumah tersebut masuk dalam daftar 10 rumah tertua di dunia.<br />Untuk mencapai desa adat Hilinawa Mazinge perlu perjuangan ekstra keras dan siap untuk berpetualang. Tim pernah mempunyai pengalaman menarik dengan bermodalkan pemandu pemuda setempat yang juga belum pernah kesana dan sedikit informasi, nekat mengunjungi Hilinawa Mazinge. Ternyata kita harus mengusuri 3 buah sungai yang tidak ada jembatannya sehingga harus basah kuyup untuk menyeberang dan dengan dibantu penduduk sekitar untuk menyeberangkan kendaraan roda dua yang kita pakai, akibatnya banyak HP dan kamera yang terendam belum lagi saat itu baru saja habis hujan lebat sehingga air sungai meluap.<br />Dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Sumatera Utara, Nias bisa dibilang tertinggal dalam nyaris segala hal. Mungkin ada yang beranggapan bahwa Pemerintah "mengabaikan" Nias. Namun, ada realitas lain yang tidak boleh diabaikan kemungkinannya, yaitu akibat posisi dan keadaan geografisnya sendiri. Sebenarnya Nias sangat potensial untuk bisa menjadi daerah tujuan wisata dan mempunyai alam yang indah. Begitu banyak potensi siap utuk membuai wisatawan dan diharapkan mampu membuka sejuta peluang pengembangan ekonomi bagi warga Nisel, tetapi kenyataannya ternyata jauh dari panggang. Untuk menelusuri Nisel dan menikmati potensinya yang tersebar di pulau itu membutuhkan nyali dengan berbagai kesulitan yang akan ditemui. <br /><br />dimuat di Suara Merdeka, Minggu, 13 Mei 2007<div class="blogger-post-footer">Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah</div>sukawi (disapa "uuk")http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-87476731779035423752007-04-02T14:10:00.000+07:002008-02-05T14:41:24.996+07:00Semarang Waterfront City?<a href="http://bp1.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/RhspbaRzwZI/AAAAAAAAAAU/ZxSeFQosHlQ/s1600-h/DSCN1506.JPG"><img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/RhspbaRzwZI/AAAAAAAAAAU/ZxSeFQosHlQ/s200/DSCN1506.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5051676957913366930" /></a><br /><br /><span style="color:#3366ff;">Kota Semarang</span> merupakan kota yang dekat dengan pantai. Bentuk kota yang dimiliki Semarang ini membuat sebagian muka/wajah kota ini seolah menghadang laut, yang seharusnya sebagian masyarakat kota harus bertemu dengan alam laut setiap kali harus memulai aktifitas kesehariannya. Masyarakat lokal yang berprofesi nelayan tradisional menambatkan kehidupannya pada laut ini. Perlahan namun pasti pantai Semarang mulai dikuasai oleh perorangan dan swasta. Akankah masyarakat kota ini telah mendapatkan wisata laut yang begitu indah dengan “sunrise” sampai “sunset” tetap dinikmati secara cuma-cuma. Suasana ini terjadi setelah pantai Semarang diporak-porandakan oleh kegiatan “reklamasi”. Kini view sepanjang mata memandang tertutup oleh bangunan yang membentengi masyarakat kota Semarang terhadap “view” pemandangan ke laut.<br /> Menurut <span style="color:#cc9933;">Kepres RI. No. 32 tahun 1990 tentang Pengolahan Kawasan Lindung</span> dan <span style="color:#9999ff;">UU No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang</span>, kawasan pantai masuk dalam kawasan lindung dimana sepanjang pantai 100 meter dari tititk pasang tertinggi ke arah darat harus dilindungi atau bebas dari kawasan budidaya (bangunan, lahan pertanian, dll) guna untuk melindungi fungsi ekosistem pantai. Semarang yang memiliki garis wajah yang sebagian berada di sepanjang pantainya, dengan demikian zona ini rentan terhadap “pengrusakan” alam. Kawasan Pantai adalah bagian yang sangat strategis untuk memandang dan memasuki kota ini dari arah laut. Adanya pelabuhan Tanjung Emas, mempertegas image “Semarang Waterfront City”.<br />Kini nelayan harus berhadapan dengan penggusuran lahan kerja mereka. Masyarakat ini harus terpaksa meubah mata pencaharian mereka dari “melaut” menjadi “pekerja” yang menempati sektor informal. Belum lagi hak-hak masyarakat kota yang semakin terampas akibat terbentangnya dinding-dinding pemisah yang sengaja memisahkan rangkaian aktfitas rutin masyarakat. Kita perlu menganggarkan biaya untuk melihat sunrise dan sunset di tepi pantai. Paling tidak bakal bersitegang lagi dengan penjaga kawasan untuk bisa masuk dengan gratis. Kondisi ini secara perlahan memupuk situasi yang tidak “fair” dan sangat menganggu keseimbangan kehidupan manusia di kota ini.<br />Nah, kapan akan terjadi pembenahan habitat perairan Pantai Semarang, barangkali akan terlontarkan “tidak ada biaya” untuk itu. Inilah kondisi yang bakal terjadi di masa datang. Tidak ada tanda-tandanya pelaku ekonomi, pemrakarsa maupun pemerintah negeri ini untuk berupaya mengantisipasi kondisi pengrusakan lingkungan di masa datang. Apabila kita terpaku dan terdiam saja melihat suasana ini, atau kita hanya bisa puas saja dengan keadaan ini, maka kita akan setuju membawa negeri ini akan masuk pada kondisi lingkungan hidup “yang tidak berkelanjutan” yang selanjutnya bakal menuju pada kota yang sakit.<br /> Beberapa hal yang mesti diperhatikan, seperti: menjaga siklus kehidupan masyarakat kota Semarang dengan tetap menyediakan aksesibilitas publik untuk dapat menikmasti keindahan alam Pantai Semarang. Ruang-ruang publik harus tetap disediakan dalam rangka menjaga interaksi sosial antar sesama umat manusia tanpa harus memberikan beban tambahan seperti biaya (ongkos) untuk melaksanakan aktivitas ini. Dengan kata lain tidak semua lahan yang direncanakan untuk digunakan oleh investor ini semata-mata dibangun dengan bangunan-bangunan “masif” (tertutup) dan menghalangi “view’. Disana dapat dibuatkan ruang-ruang terbuka hijau yang memberikan pandangan aktif masyarakat ke alam laut ini. Tidak ada kesan membatasi ruang gerak kehidupan masyarakat dengan adanya bangunan-bagunan komersil ini.<br />Perlu diingat, bahwa di kota Semarang saat ini hampir tidak ada lagi lokasi wisata laut yang gratis, tidak ada fasilitas rekreasi bagi masyarakat yang dibuatkan oleh pemerintah. Inilah sisi kehidupan sosial yang bakal menjadi masalah besar di masa yang akan datang. Semuanya terbatas oleh aturan dan biaya. Sindrom “individual” kota besar bakal diidap kota ini. Belum lagi nelayan tradisional yang secara perlahan tergusur dan habis sama sekali di kawasan ini. Peralihan budaya yang dipaksakan akibat hanya mempertimbangkan kegiatan ekonomi, sehingga untuk itu perlu adanya ruang-ruang terbuka untuk para nelayan tradisional agar tetap beraktifitas di lahan baru ini. Biarlah mereka dibuatkan aturan atau rambu khusus di lahan ini, dan biarlah kegiatan tradisional nelayan ini menjadi menyatu dengan kegiatan modern. Bukankah ini menjadi satu pemandangan unik (atraksi) yang bisa dijual. Membuat pembagian pemanfaatan ruang yang “fair” antara masyarakat, pemerintah maupun investor. Dengan memberikan hak dari masyarakat untuk memanfaatkan pantai ini.<br /> Tentunya jangan pula memperpanjang kerusakan yang terjadi di ekosistem perairan Pantai Semarang dengan membiarkan limbah-limbah cair yang kotor dibiarkan masuk ke laut tanpa melalui pengolahan limbah, juga jangan membiarkan sampah-sampah padat terbuang ke laut. Perlu tindakan nyata melaksanakan semua ini, perlu ketegasan dan keberanian pemerintah kota untuk menegakkan suatu kebenaran yang tentunya dilihat dari sisi kepentingan masayarakat dan lingkungan hidup kota ini agar berkelanjutan hidupnya. Perlu pengawasan yang ketat serta berani memberikan sanksi bagi pelanggar peraturan yang ditentukan.<br /> Kawasan “Pantai Semarang” merupakan daerah yang cukup penting di kota ini. Wajah kota akan tergambar dari penampilan kawasan ini sehingga perlu pengaturan yang cermat dan tegas. Tidak cukup hanya diatur di Rencana Umum Tata Ruang Kota yang bersifat makro dan tidak mudah dibaca oleh masyarakat. Kawasan ini perlu memiliki Rencana Detail Tata Ruang Kawasan (RDTRK) yang lebih menjelaskan area-area mana milik masyarakat, pemerintah dan investor. RDTRK ini sangat dibutuhkan untuk mengkontrol pembangunan fisik. Semua ini, paling tidak menata kembali lahan di tepi pantai sebagai zona lindung yang dapat melindungi ekosistem perairan pantai.<br />Banyak hal yang sudah terjadi akibat tidak berimbangnya tanggung-jawab, yang kini dapat kita ambil hikmahnya secara bersama-sama. Oleh karena itu marilah kita sama-sama merendahkan hati untuk lapang dada menerima kritikan, merubah yang salah untuk membangun kebersamaan di bumi “Metropolis yang Religius” ini. Kita bersatu untuk menjadikan Semarang sebagai kota yang menjanjikan keberlanjutan lingkungan hidupnya demi anak cucu kita. <br /><br /><em>Penulis :<span style="color:#3333ff;">Sukawi</span>, Pengajar Arsitektur Universitas Diponegoro Semarang</em><br /><em></em><br />dimuat di :<br /><span style="color:#cc0000;"><strong>Seputar Semarang</strong></span>, 26 Maret 2007<div class="blogger-post-footer">Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah</div>sukawi (disapa "uuk")http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-7321773449373620302007-03-07T14:51:00.000+07:002008-02-05T14:40:18.598+07:00Menjual Pecinan Melalui Perayaan IMLEK<a href="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/RhsslKRzwaI/AAAAAAAAAAc/V6r_xgi_X-s/s1600-h/DSCN5988.JPG"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/RhsslKRzwaI/AAAAAAAAAAc/V6r_xgi_X-s/s200/DSCN5988.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5051680423951974818" /></a><br /><br /><p>Tahun Baru China atau Imlek memasuki tahun 2558. Perayaan Imlek tampaknya memiliki pesona tersendiri. Secara konseptual, Imlek digambarkan sebagai keberhasilan, kemakmuran, umur panjang, kebahagiaan yang berlipat ganda, dan kekayaan.<br />Di kawasan Pecinan ada 8 kelenteng yang selalu dikunjungi saat perayaan Imlek. Satu hal yang tak kalah penting adalah atraksi barongsai dan tarian liong atau naga. Atraksi barongsai maupun lampion atau atraksi lain yang berbau tradisi China wajib diangkat menjadi pertunjukan kebudayaan dan dikemas menarik dengan membuat paket-paket wisata oleh para pelaku pariwisata.<br />Hotel-hotel dapat menggelar program great sale dengan memberikan diskon harga untuk seluruh jenis kamar. Hal ini secara tidak langsung akan menarik wisatawan untuk bertandang ke kota ini. Mereka akan terkesan melihat suasana kota yang penuh budaya dan didukung sikap kerukunan dan kebersamaan antarwarga meski masyarakatnya multietnis. Perayaan ini akan membuka peluang dan potensi bisnis dan investasi di Semarang serta dapat dimanfaatkan untuk menyosialisasikan potensi pariwisata di Semarang.<br />Pasar Imlek Semawis (PIS) di Pecinan dapat menjadi salah satu daya pikat wisatawan ke kota ini. PIS dapat diolah sebagai mata rantai dalam rangkaian pariwisata. Untuk itu, PIS harus dikelola secara baik dengan menggali unsur-unsur yang identik dengan kota ini, seperti makanan khas dan kesenian khas. Dengan demikian, PIS diharapkan dapat menyamai Kya-kya Kembang Jepun di Surabaya dan Kesawan Square di Medan.<br />Kita juga perlu bercermin pada Singapura. Negara yang tak terlampau berbeda luasannya dibanding Kota Lumpia itu lebih berdekatan dengan urusan bisnis. Dalam beberapa tahun saja, para pelancong mulai berdatangan ke sana. Bahkan, negara multietnik itu berani membaiatkan diri sebagai pusat Imlek dan perayaan Imlek masuk dalam daftar paket wisata tahunan. Potensi itu tentu sama besar bila penggarapan tradisi warga keturunan Tionghoa Semarang itu bisa dilakukan secara maksimal.<br />Dengan demikian, perayaan Imlek akan mendukung gawe besar Pemkot, Semarang Pesona Asia yang akan digelar pada Agustus 2007. Dengan persiapan yang lebih matang dan pengalaman mengorganisasi kegiatan bertaraf internasional, apa yang diharapkan untuk mendorong sektor perdagangan, pariwisata, dan investasi akan dengan mudah terwujud. Jangan sampai semua itu berhenti kepada wacana. Gong xi fa cai! </p><p><br />SUKAWI Pengajar Arsitektur dan Pusat Studi Pariwisata Undip Semarang</p><p>dapat dilihat di :</p><p><a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0702/27/jateng/49097.htm">http://www.kompas.com/kompas-cetak/0702/27/jateng/49097.htm</a></p><p> </p><div class="blogger-post-footer">Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah</div>sukawi (disapa "uuk")http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-1170823830510991492007-02-07T11:48:00.000+07:002008-02-05T14:41:24.997+07:00Gerbang Batas KotaKarakter bentuk fisik kota perlu dikenali melalui elemen dasar lingkungan, bentuk ruang dan kualitas nilai suatu tempat. Pemahaman makna tentang nilai, keunikan, karakteristik suatu tempat akan membentuk suatu identity. Identitas akan memberikan "arti" sebagai pembentukan image suatu tempat (place). (Lynch,1960). Kota merupakan gerbang masuk segala pengaruh dan perubahan bagi daerah belakang (hinterland). Perkembangan sosial budaya tersebut telah memperkaya wujud fisik kota dan membentuk citra (image) kota.<br />Gagasan menciptakan identitas suatu daerah atau suatu kota yang kerap dicoba dimanifestasikan dalam wujud fisik. Kebutuhan akan identitas ini juga muncul dalam berbagai slogan dengan berbagai dalih, mulai dari jati diri hingga budaya. Hal ini tidak selalu berarti negatif karena keinginan akan sesuatu yang "luhur" adalah baik. Apakah sebuah kota harus memiliki gapura atau tugu kota? Apapun namanya, membangun gerbang/tugu perbatasan wilayah Semarang merupakan salah satu hal penting bagi identitas Kota Semarang. Warga luar Semarang sering tidak tahu, saat di mana mereka sudah memasuki wilayah Kota Semarang saat dalam perjalanan memasuki kota Semarang.<br />John Ormsbee (Garden Cities,1994) membuat perbandingan yang unik antara kota dan manusia. Dia menyatakan, kota ibarat manusia. Kota tumbuh, bergerak, berpikir, sehingga kota pun harus tampil rapi, bersih, menawan, dan tentu saja perlu bersolek supaya kelihatan menarik. Penampilan sebuah kota adalah citra yang dibaca, oleh warganya maupun tamu yang berkunjung. Apakah sebuah kota mempunyai kesan welcome? Warga yang menilai kotanya cukup bersih, teratur, nyaman, dan segar tentu akan tinggal dengan kebanggaan sebagai warga kota. Begitu pula tamu yang memiliki kesan baik, mencatat kota bersangkutan sebagai kota yang layak dikunjungi di kesempatan mendatang.<br />Pemkot Semarang berencana membuat tugu di batas kota yang direncanakan membangun di tiga titik berbeda, yakni, perbatasan dengan Kabupaten Kendal di Kecamatan Tugu, perbatasan dengan Kabupaten Semarang di Kecamatan Banyumanik, dan perbatasan dengan Kabupaten Demak di Kecamatan Pedurungan. Disadari atau tidak, Semarang merupakan salah satu kota yang belum memiliki tugu batas kota. Semarang harus mempunyai jati diri atau ciri khas yang menunjukkan identitasnya sebagai trade mark. Identitas itu dapat berwujud gapura yang mempunyai ciri khusus yang menandakan itu sebagai gapura kota Semarang yang berbeda dari kota lain.<br />Sementara dari sisi identitas kota, warga kota mungkin tidak sadar bahwa citra dan identitas kota ini telah terkoptasi dengan citra sebuah produk. Ada anggapan bahwa sejak otonomi daerah berlaku maka pemerintah daerah butuh pemasukan dan salah satu caranya dengan menjual ruang-ruang publik ke pihak pengiklan. Namun asal menjual, tanpa mempertimbangkan posisi penempatannya justru bisa merusak citra kota. Apalagi mengingat pendapatan daerah dari pariwisata, maka iklan di ruang kota bisa menjadi bumerang.<br />Bayangkan orang yang baru pertama kali datang ke Semarang, terutama turis asing, tentu mempunyai harapan tentang kota ini. Bayangan itu bisa hancur saat baru saja masuk kota Semarang sudah disambut dengan visual iklan yang begitu besar dan menyesakkan ruang. Belum lagi ditambah panasnya kota dan polusi yang bisa membuat kepala pusing. Hal ini tentunya sangat merugikan citra kota Semarang dan sangat mungkin turis akan memindahkan rencana liburannya ke tempat yang lebih segar dan indah ke kota-kota kecil lainnya seperti Salatiga, Magelang bahkan Yogyakarta yang sudah lebih dulu menjadi tujuan wisatawan.<br />Tugu maupun gapura akan menyandang fungsi publik, fungsi rekreatif, dan fungsi informatif. Hal ini karena letak tapak tugu akan merupakan titik batas dan penanda memasuki sebuah kota. Alangkah baiknya letak dari tugu batas merupakan tempat istirahat (rest area) terpadu. Ada informasi wisata, ada informasi investasi, hingga ketataruangan yang dikemas menarik.<br />Gerbang batas kota juga akan menjadi area ruang publik yang bermanfaat, bukan hanya indah dilihat tetapi tidak bermanfaat bagi publik. Tapak tugu akan dapat dieksplorasi semua orang dengan berjalan kaki dengan titik pusat tugu berkesinambungan dengan jalur pejalan kaki. Sementara pada gapura, kendaraan dapat diparkir di tepi papan penunjuk sehingga memberi akses pada manusia. Tugu bukan sekadar berfungsi estetik, melainkan benar-benar dapat dimanfaatkan publik dan memiliki sinergi fungsi dan estetika, keindahan yang berguna.<br /> Pembangunan gerbang batas kota perlu melibatkan semua pihak yang terlibat di dalam pembangunan itu dengan kemungkinan swasta dan masyarakat berperan, mulai dari masing-masing komponen hingga reklame yang terdesain integratif. Tugu dapat dibangun bertahap, tergantung ketersediaan dana dan kesiapan partisipasi swasta dan masyarakat dengan realisasi bertahap, komponen esensial dan tambahan. Pembiayaan dapat diimbangi penerimaan dan penutup biaya pemeliharaan, terutama dengan adanya reklame yang terdesain rapi serta adanya pemanfaatan tugu secara sosial ataupun komersial. Gapura dapat dilengkapi slogan-slogan ajakan menjaga kebersihan, merawat tanaman atau bahkan membayar pajak tepat waktu. <br />Identitas kota terbangun di atas tumpukan dan pertarungan ingatan bersama. Lewat berbagai identitas yang ditampakkan tersebut, kota bergerak dengan segala pertarungan makna yang pada akhirnya berarti juga pertarungan kepentingan. John Ormsbee Simonds benar bahwa sebuah kota perlu bersolek untuk menunjukkan dirinya. Gerbang Kota akan menjadi wajah yang indah, bahkan mungkin salah satu ikon kota yang tidak terlupakan.<br /><br />Penulis :<br />Sukawi<br />Pengajar di Jurusan Arsitektur UNDIP<br /> dimuat di <strong>Seputar Semarang 6 Februari 2007</strong><div class="blogger-post-footer">Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah</div>sukawi (disapa "uuk")http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-1168839873582038302007-01-15T12:41:00.000+07:002008-02-05T14:41:24.997+07:00Kapan Kita Peduli Sampah?<span style="color:#3333ff;">Fakta empirik menunjukkan, jumlah penduduk yang terus meningkat akan meningkatkan konsumsi masyarakat dan hal ini akan mengakibatkan semakin bertambahnya volume sampah. Sedangkan manajemen pengelolaan sampah yang dilakukan saat ini, tidak lebih dari sekadar memindahkan masalah. Artinya, sampah dari satu tempat diangkut ke tempat lain.<br />Itupun, pengelolaannya cukup open dumping (buang dorong) serta tidak memenuhi standar memadai. Akibatnya, timbul berbagai masalah, antara lain pencemaran lingkungan, konflik sosial, dan menimbulkan penyakit bagi masyarakat yang bermukim di sekitar lokasi TPA.<br />Coba kita tengok Lapangan Simpang Lima yang walaupun dikelilingi oleh tong sampah dengan label Dinas Kebersihan Kota Semarang tetapi selalu penuh dengan sampah yang meluber karena tanpa penutup, lebih-lebih pada hari minggu yang selalu dipadati oleh PKL. Tegok juga sungai-sungai yang melintasi kota ini, tidak sedikit sampah kiriman dari rumah tangga yang menganggap sungai merupakan ’bak sampah raksasa’ sampe-sampe kasur rusakpun dibuang ke sungai.<br />Dari aspek peraturan perundang-undangan, sejauh ini harus diakui pada tingkat nasional terdapat beberapa UU yang berkaitan dengan sampah. Hanya, berbagai perangkat hukum itu masih diatur secara parsial, dan tidak komprehensif. Penanganan sampah harus ditanggulangi semua pihak. Apabila ditangani secara serius, maka sampah bukan lagi musuh tapi sahabat, karena bisa didaur ulang, dan dapat menghasilkan peningkatan ekonomi. Air limbah bila diolah tidak akan merugikan dan harus ada keterpaduan antara pemerintah, swasta, dan masyarakat.<br />Kemudian, pemberdayaan masyarakat di lokasi pembuangan sampah. Teori yang dilontarkan, sampah bukan lawan, tapi kawan dan mempunyai sumber daya yang bernilai ekonomi, mengubah paradigma perilaku masyarakat mulai dari keluarga untuk memilah dan memilih sampah, pola pembuangan menjadi pengolahan sampah keluarga, TPS baru, hingga upaya penanganan sampah harus tetap dilakukan melalui sosialisasi kepada semua komponen melalui berbagai lembaga sosial masyarakat.<br />Sudah saatnya pembungkus dari bahan plastik diganti dengan kertas. Sebab, sampah plastik secara kimiawi sulit terurai dalam tanah sehingga menyebabkan terjadinya polusi tanah. Kepada pemilik rumah makan, warung atau toko kelontong hingga supermarket, diharapkan mengurangi penggunaan tas plastik dan diganti dengan bahan kertas.<br />Bagaimanapun, penanganan persoalan sampah ini tidak hanya tanggung jawab pemkot, namun harus didukung seluruh masyarakat. Lihat saja di permukiman padat penduduk, sebagian warga menjadikan sungai sebagai tempat membuang sampah. Terlepas sudah tumbuh atau belum kesadaran warga untuk tidak membuang sampah ke sungai, cara yang paling praktis mengatasi problem sampah yakni menumbuhkan kesadaran warga.<br />Setiap bulan warga membayar retribusi sampah dibarengkan rekening air bersih. Tetapi banyak juga sampah yang menumpuk dan jarang diangkut truk kebersihan. Sehingga warga menempuh jalan pintas dengan membuang sampah ke sungai. Soal membayar retribusi sampah ke Dinas Kebersihan Kota Semarang, warga kota yang punya rumah dan pasang instalasi air bersih, tidak luput dari kewajiban membayar retribusi sampah sebesar Rp 3.000,00 /bulan yang pembayarannya langsung bersamaan dengan rekening air bersih. Itupun, tidak sedikit lingkungan RT/RW yang juga menarik iuran sampah meskipun besarannya atas kesepakatan warga. Namun, hasil iuran sampah di lingkungan RT/RW tidak untuk disetor ke Dinas Kebersihan, tapi untuk menggaji tenaga pengambil sampah, kemudian di buang ke TPA terdekat.<br />Soal sampah, juga tidak lepas dari tingkat kedisiplinan warga. Tidak hanya di lingkungan padat penduduk dan rata-rata berekonomi pas-pasan, namun di lingkungan elit pun tidak menjamin warganya disiplin. Tidak jarang, saluran air di perumahan elite juga penuh sampah meskipun di lingkungan padat penduduk lebih parah lagi. Akibatnya, jika hujan turun meskipun tidak deras, terjadi banjir (genangan air).<br />Berdasarkan klasifikasi, rumah tinggal (RT) menempati urutan pertama yakni 65 persen sebagai kelompok yang berpotensi memberi kontribusi jasa kebersihan, disusul pabrik/industri, dan perkantoran. Selama ini proses pembuangan sampah sejak diambil dari rumah ke rumah sampai dibuang ke TPA, masih bercampur antara sampah organik dan non-organik. Pemisahan sampah organik dan non-organik seharusnya diterapkan.<br />Mengatasi sampah di Semarang setidaknya meliputi tiga hal utama. Pertama, produksi sampah. Begitu banyaknya sampah menunjukkan bahwa penduduk di wilayah ini sangat produktif menghasilkan sampah. Rata-rata produksi setiap warga sehari hampir satu kilogram. Ini bisa dikurangi dengan mengubah perilaku, seperti kesediaan setiap orang untuk sesedikit mungkin menggunakan pembungkus setiap kali belanja.<br />Kedua, mengubah kebiasaan membuang sampah secara sembarangan. Kita masih menyaksikan begitu banyak wilayah tanpa tempat sampah, dan juga kemalasan penduduk membuang sampah secara tertib. Gagasan memilah sampah organik dan anorganik ternyata belum berhasil. Perilaku buruk dalam membuang sampah ini, mengakibatkan kegiatan pengumpulan sampah menjadi makin mahal dan menyita waktu.<br />Ketiga, penampungan terakhir dan pengolahan sampah. Selama ini sampah hanya dihargai oleh para pemulung, dan nilai ekonomis sampah hanya dilihat dalam kegiatan pengumpulan dan pengangkutan ke lokasi terakhir. Material sampah belum banyak diperhatikan, meskipun pengetahuan yang sederhana ini telah begitu banyak dibahas dan dirintis. Sampah-sampah organik masih sangat sedikit yang dimanfaatkan untuk dijadikan makanan ternak, atau pupuk kompos. Ketidakseriusan ini sudah berlangsung lama, dan belum ada tanda-tanda diakhiri.<br />Masyarakat dapat berpartisipasi ikut meminimalisasi produksi sampah lewat "3R" (re-use, recycle, reduce), menggunakan kembali sampah organik menjadi kompos, melakukan daur ulang sampah, dan mengurangi sampah. Jika sampah dikelola sedikit demi sedikit, pasti akan lebih mudah daripada mengelola timbunan sampah yang banyak. Jika Singapura saja butuh 30 tahun untuk menegakkan hukum tentang pembuangan sampah dan mengubah kebiasaan semua masyarakat untuk hidup bersih, maka berapa lama waktu yang dibutuhkan Semarang? Selama menunggu waktu tersebut, dalam waktu dekat mau tidak mau kita harus peduli sampah dari sekarang.<br /></span>Penulis :<br />Sukawi<br />Dosen Arsitektur UNDIP Semarang<br />artikel ini sudah dimuat di <span style="color:#ff6600;"><strong>Seputar semarang<br />18 Desember 2006</strong></span><div class="blogger-post-footer">Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah</div>sukawi (disapa "uuk")http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-1165032475806666132006-12-02T11:05:00.000+07:002008-02-05T14:40:18.598+07:00Semarang "Banjir" Reklame TempelReklame merupakan alat atau media dengan tujuan komersial digunakan untuk memperkenalkan, menganjurkan atau memuji kepada sesuatu produk barang, jasa atau seseorang untuk menarik perhatian umum sehingga dapat dilihat, dibaca dan atau didengar dari suatu tempat oleh umum. Reklame luar ruang (outdoor) biasanya menggunakan spanduk dan baliho. Di sepanjang jalan dan hampir setiap perempatan jalan di Semarang telah disediakan tempat khusus spanduk.<br />Namun reklame dengan cara ditempel, akhir-akhir ini dibiarkan tumbuh liar. Saat ini terjadi kesemrawutan pada wajah kota dengan iklan tempel pada titik-titik baru yang semakin bertambah. Kenyataannya dilapangan saat ini titik reklame tempel tumbuh bagai cendawan dimusim hujan, sehingga Semarang kebanjiran reklame tempel.<br />Seringkali kita jumpai reklame ini dipasang dengan ditempel pada pohon-pohon, tiang listrik, tiang telpon, bahkan tiang lampu pengatur lalu lintas. Media reklame ini bentuknya kecil, sederhana dan berupa pesan singkat. Misalnya, "Butuh Dana Cepat", "Kredit Tanpa Jaminan", “ Sulap dan Badut” sampai “Kursus Musik” yang disertakan nomor telepon bahkan alamat yang jelas.<br />Pemasang reklame berusaha untuk memasang reklame dekat dengan konsumen yang akan dijaringnya. Kalau kebetulan melewati daerah permukiman, di sepanjang jalan masuk yang masih banyak pohon, kita akan segera menemukan jenis "rekl