Selamat datang di dunia maya..... Perkenalkan saya seorang yang lagi belajar akan tulis menulis tentang masalah arsitektur, perkotaan, perubahan iklim dan arsitektur tropis(sustainable architecture, urban, climate change and tropical architecture) Ijinlankah saya menyampaikan ide-ide melalui jemari lewat tulisan. Terima kasih dan Semoga bermanfaat..

Thursday, January 03, 2008

Antisipasi Genangan Musim Hujan


Hujan mulai sering turun. Itu berarti musim hujan mulai dekat, bahkan sudah memasuki musimnya. Seperti biasa, hujan yang mengguyur kota Semarang sering jadi masalah, terutama di daerah-daerah tertentu. Untuk itu, pemerintah harus benar-benar menyiapkan diri mengantisipasi berbagai kemungkinan akibat hujan. Aparat pemda, hingga ke kelurahan harus segera dikerahkan. Jangan menunggu banjir baru ambil tindakan.
Banjir lokal yang akhir-akhir ini melanda sejumlah tempat di Semarang membuat sungai dan saluran air dipenuhi sampah. Berton-ton sampah menyebabkan sungai dan saluran air tak mampu mengatasi derasnya air di musim hujan sehingga banyak wilayah yang terendam. Tumpukan sampah dari berbagai macam material mengakibatkan pendangkalan dan penyempitan sungai. Kota yang langganan banjir ini, sudah berpengalaman betapa sengsaranya akibat dari “sapaan” banjir itu. Selain membuat perumahan terendam air, perkampungan terkepung genangan air, jalan-jalanpun di mana-mana macet, masalah gangguan kebersihan dan kesehatan lingkunganpun kian banyak akibat banjir.
Genangan besar air di kota yang sekitar 34 % tanahnya dataran rendah, memang daerah langganan banjir sejak jaman dulu. Kota yang berkembang di atas tanah bekas rawa-rawa, serta dialiri 6 sungai yang bermuara di Laut Jawa, sudah tercatat sebagai kota yang tidak bebas banjir seperti Tembang Jawa yang didendangkan oleh pesinden terkenal, Waljinah, Semarang Kaline Banjir. Makanya, pemerintah kolonial Belanda tahu betul untuk mengatasi banjir di Semarang, yang sudah berupaya menyelamatkan kota jajahannya ini. Misalnya, Belanda mengadakan penggalian kanal sodetan Kali Garang agar air bisa mengalir dengan cepat ke laut dan tidak menimbulkan genangan lokal. Salah satu upaya yang pernah dilakukan Belanda adalah mengadakan perbaikan tata air dengan membuat dua sungai yang dinamakan Kali Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur. Proyek yang terkenal dengan sebutan Kali Banjir Kanal ini ternyata kesaktiannya hanya mampu bertahan sekitar 40-an tahun. Kenyataan sekarang yang ada, di beberapa lokasi sudah langganan genangan, misalnya di sekitar Jalan Kaligawe, Simpang Lima, Jalan Citarum sampai Bubakan, ujung Jalan Imam Bonjol dekat Johar, dan sebagian Kota Lama.
Ancaman banjir lokal makin besar akibat hilangnya daerah potensi resapan air alami di kota Semarang bawah. Kecenderungan sekarang hampir semua halaman rumah dan perkantoran di pusat kota kini ditutup beton dan aspal yang kedap air untuk tempat parkir. Di beberapa kawasan, kapasitas saluran kurang memadai karena volume air hujan yang masuk meningkat tajam akibat daerah terbangun makin luas. Kondisi ini umumnya terjadi di daerah bekas rawa mapun persawahan, misalnya wilayah Semarang Utara, dan Semarang Tengah. Sistem drainase di pusat kota banyak yang menyempit terkena pelebaran jalan, atau berubah menjadi saluran tertutup. Sehingga drainase tertutup itu sering tersumbat sampah, karena minimnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah.
Kenyataan tentang banyaknya sampah harus menyadarkan semua komponen masyarakat untuk menyadari bahwa banjir merupakan akibat langsung dari perilaku manusia. Banjir terjadi semata-mata bukan karena faktor alam, tetapi lebih karena kecerobohan manusia yang tidak memperhatikan kelestarian dan keseimbangan alam. Urusan sampah, selama ini pemerintah masih terfokus pada pembuangan sampah akhir yang membutuhkan lahan luas. Padahal persoalan sampah menyangkut hal yang jauh lebih luas karena terkait dengan perilaku manusia.
Tetapi, sebenarnya kewajiban mengantisipasi musim hujan itu tidak hanya untuk pemerintah. Warga Kota Semarang juga harus mengambil langkah-langkah antisipatif. Setelah melihat fakta kota Semarang mengenai banjir, maka ada beberapa langkah yang harus ditempuh dalam mengantisipasi musim hujan, diantaranya :
Pertama, perbaikan sungai-sungai Baik dengan nornalisasi sungai maupun penambahan pompa-pompa air, terutama pada pompa-pompa air yang sudah ada sejak jaman Belanda yang belum mendapatkan penggantian pada daerah tertentu rawan banjir lokal.
Kedua, Mengelola Sistem Drainase dengan segera melakukan perhitungan volume dan kedalaman antara saluran primer, sekunder, dan tersier sehingga terbentuk suatu sistem saluran yang saling mendukung. Sistem drainase yang dilengkapi pintu air seperti yang pernah diterapkan Belanda untuk Kota Semarang pada masa lalu perlu diaktifkan kembali. Pintu air yang mudah dibuka tutup sangat penting untuk membagi debit air.
Ketiga, Memberikan pendidikan dan Sosialisasi tentang saluran drainase, sungai dan peranannya kepada masyarakat secara kontinyu Kegiatan ini dapat dilakukan melalui kegiatan tingkat RT maupun kelurahan dengan kerja bakti membersihkan sungai maupun saluran lingkungan. Penyuluhan untuk membuka kesadaran masyarakat agar membuang sampah pada tempatnya, ditindak lanjuti dengan gerakan pembuatan bak sampah di masing-masing rumah tangga. Banjir biasanya disertai beragam penyakit. Para pemimpin lokal di tingkat RT juga harus waspada.
Keempat, daerah-daerah padat yang terdapat sepanjang bantaran sungai sebaiknya dikurangi, untuk mengurangi risiko banjir bandang. Menyelesaikan masalah banjir, luapan, dan genangan air di daerah yang dilandanya, tidak dapat dilakukan di daerah setempat, tetapu harus terpadu mulai dari hulu ke hilir sungai, sehingga Daerah Aliran Sungai (DAS) akan tetap terjaga kelestariannya.
Penulis :
Sukawi, Pengajar Arsitektur di Universitas Diponegoro Semarang

Dimuat : Seputar Semarang Edisi 218, 27 November 2007

Read More..

Pesona Sunset ”Manado Tua”


Secara psikologis ada kesan luar biasa ketika kami yang bertugas menjadi surveyor untuk mendampingi staff Kementerian Perumahan Rakyat mulai menginjakkan kaki di Bandar Udara Internasional ‘Sam Ratulangi’ Manado. Apakah itu? Pemandangan alamnya yang indah, pohon kelapa berderet beribu-ribu seperti barisan tentara yang siap berperang. Hijau nian! Tak perlu guide untuk menjelaskan segala sesuatu yang bisu itu. Kami berdua sejenak tertegun karena sama-sama pertama kali tiba dibumi nyiur melambai. Apalagi kalau yang datang itu surveyor yang pasti akan menjumpai medan berat menantang untuk ditaklukkan sekaligus berpetualang.
Keluar dari lokasi parkir Bandar Udara, kita dihadapkan dengan lingkungan bersih, tertata rapi, jalan yang baik dan beberapa menit kemudian, pandangan kita tertuju pada monumen Adipura Kencana, suatu monumen peringatan terhadap keberhasilan dalam klasifikasi kota bersih di Indonesia.
Kesempatan yang pertama ini tidak kami sia siakan saat singgah di kota Manado, sebuah kota yang menarik di teluk ujung utara pulau Sulawesi. Sore itu udara terasa sejuk karena sejak tiba siang hari langit kota Manado selalu diselimuti awan yang menggelayut. Setelah melepas lelah di hotel, sorenya kami mencoba menuju ke Boulevard Manado (jantung kota) dan langsung menuju ke pantai Manado untuk menikmati matahari terbenam dengan latar pulau Manado Tua. Pulau Manado Tua merupakan pulau utama dari sekelompok pulau di teluk Manado. Sambil menikmati jajanan di sepanjang pantai Manado, serta semilir angin laut dan memperhatikan muda-mudi baik bergerombol maupun berpasangan menghabiskan senja ditepi pantai.
Diantara derai ombak yang memecah pantai, sekelompok muda-mudi duduk-duduk diatas bongkahan batu besar, menghadap laut sambil menikmati pesona pulau Manado Tua. Semakin petang suasana semakin tambah ramai. Disebelah kiri tepat didepan menara pengawas pantai yang sudah mulai lapuk, beberapa anak berlarian sambil memainkan bola dikaki yang lincah beralaskan pasir.
Semilir angin semakin membuat kulit tubuh ini menginginkan untuk diselimuti dengan jaket tebal. Sambil menjinjing kamera, saya berusaha untuk berbaur dengan sekelompok muda-mudi meloncat dari batu yang satu ke batu lainnya untuk lebih mendekati bibir pantai dan melihat lebih dekat percikan ombak. Saya berusaha untuk mencari posisi yang cukup nyaman untuk mengabadikan momen indah pesona Manado Tua diwaktu senja yang kala itu diselimuti oleh awan sehingga mataharipun enggan untuk menampakkan wajahnya yang cerah.
Sesekali pandangan terlempar pada aktivitas nelayan yang siap-siap untuk berangkat melaut. Selain itu juga hilir mudiknya perahu naga yang mengangkut para wisatawan yang akan berlabuh setelah lelah mengantar para pelancong berkeliling menikmati pesona gugusan pulau Manado Tua dan Bunaken. Primadona pariwisata kota Manado adalah Taman Nasional Bunaken, yang oleh sementara orang disebut sebagai salah satu taman laut terindah di dunia. Letaknya yang hanya sekitar 8 Km dari daratan kota Manado dan dapat ditempuh sekitar ½ s/d 1 jam menyebabkan Taman Nasional ini mudah dikunjungi. Bagi anak-anak juga tersedia wahana sepeda air beraneka macam ditepi pantai dengan hanya merogoh kocek Rp. 6.000 perjam.
Suasana petang di Kawasan Bolevard Manado sungguh terasa istimewa. Pengunjung dapat menyaksikan panorama alam dengan Pulau Manado Tua di tengah lautan. Menurut Jefferson, pemuda setempat, ketika cuaca cerah, matahari yang mulai tergelincir ke ufuk barat akan terlihat jelas, maka proses terjadinya Sunset dapat disaksikan dengan indahnya.
Seiring dengan terbenamnya matahari, kawasan Bolevard menjadi ramai oleh penjual makanan. Mereka menggelar jualannya di sejumlah tenda di pinggiran pantai. Hidangan yang tersedia terdiri dari; nasi goreng, bakso, gado-gado, sampai beraneka ragam sea food. Harganya pun relatif murah. Para pengunjung dapat memilih sesuai selera yang diinginkannya.
Berwisata ke kota Manado sungguh sangat menyenangkan. Banyak pilihan bagi wisatawan untuk berekreasi dan berwisata ria. Dari wisata alam seperti taman laut Bunaken, keindahan pantai, tempat hiburan rakyat, pusat perbelanjaan, hingga restoran, ada di kota ini. Bagi wisatawan yang menyukai alam pantai sebagai tempat rekreasi masih di dalam kota, maka kota Manado-lah tempatnya. Pesona keindahan pantainya dapat disaksikan dari kawasan Malalayang sampai kawasan Bolevard yang ada dipusat kota dengan garis pantai sepanjang 18,7 kilometer.
Manado atau yang lebih di kenal dengan Nyiur Melambai, terkenal dengan keramahan penduduknya yang kemudian di sebut sebagai smiling people. Kota Manado ini mempunyai motto Si Tou Timou Tumou Tou, sebuah filsafat hidup masyarakat Minahasa yang dipopulerkan oleh Sam Ratulangi, yang berarti: "Manusia hidup untuk memajukan orang lain." Dalam ungkapan bahasa Manado, seringkali dikatakan: "Baku beking pande", yang secara harafiah berarti "Saling menambah pintar [orang lain]".
Suasana Manado malam tak jauh beda dengan kota-kota besar di Jawa, musik terus mengalun. Malam hari, kota ini begitu berisik dengan suara musik yang bergema dari ratusan kafe. Bunyi musik juga terdengar dari mobil angkutan umum ”oto mikro”- sebutannya, nyaris memecah gendang telinga penumpang. Suasana kota dan masyarakatnya terbuka, kondusif, dan mudah diakrabi oleh siapa saja. Jalan Roda, misalnya, menjadi salah satu landmark Manado. Terletak di pusat kota, jalan itu berubah menjadi tempat minum kopi dan kongko-kongko dari berbagai kalangan masyarakat. Di situlah tempat warga berkelakar, dan berdiskusi berbagai hal.
Jalan Boulevard Manado (Jalan Piere Tendean), merupakan landmark yang menjadi kebanggaan karena merupakan jalan terlebar dan jalan pantai terpanjang-4,2 kilometer. Lebih-lebih di malam hari, bertambah semarak karena lampu aneka warna dari billboard dan papan reklame.
Pusat perbelanjaan di Kota Manado mulanya terkonsentrasi di seputar Boulevard Manado. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, dalam kurun waktu 3 tahun, industri properti dan retail di Manado berkembang cukup pesat. Ditandai dengan dibukanya tiga buah pusat perbelanjaan modern baru yaitu Mega Mal Manado, Manado Town Square dan Bulevard Mall. Ketiga pusat perbelanjaan ini berlokasi di ruas jalan yang sama yaitu jalan Piere Tendean atau yang dikenal dengan Manado Boulevard yang dapat juga dinikmati dari pantai Manado.
Beberapa pusat perbelanjaan lain pun sedang dibangun di ruas jalan ini, terutama di daerah reklamasi pantai. Di sepanjang jalan ini juga terdapat beberapa hotel berbintang, restoran dan cafe yang menjajakan beraneka ragam makanan dan buka hingga larut malam. Pusat cinderamata khas Manado dapat ditemukan di Jalan BW Lapian. Terdapat beberapa toko suvenir yang menjual makanan, busana, dan kerajinan tangan khas Manado.
Wajah kota Manado dapat diketahui dari peran historisnya. Awalnya Manado dibangun sebagai kota benteng, kota kolonial, kota pusat administrasi dan pemerintahan, kota pelabuhan dan transit, kota perdagangan dan jasa. Kemudian dalam perkembangannya, dengan konsep Manado Kota Tinutuan menuju Kota Wisata 2010. Kota Manado sebagai suatu kota yang diusung untuk memposisikan diri sebagai kota pariwisata atau pun wisata dunia pada tahun 2010.

dimuat : Suara Merdeka Rublik Jalan-Jalan, Minggu 2 Desember 2007

Read More..