Selamat datang di dunia maya..... Perkenalkan saya seorang yang lagi belajar akan tulis menulis tentang masalah arsitektur, perkotaan, perubahan iklim dan arsitektur tropis(sustainable architecture, urban, climate change and tropical architecture) Ijinlankah saya menyampaikan ide-ide melalui jemari lewat tulisan. Terima kasih dan Semoga bermanfaat..

Monday, August 07, 2006

Semarang 'menjual' Cheng Ho

Dalam waktu dekat, tepatnya setiap menginjak bulan keenam penanggalan Imlek, Kota Semarang akan merayakan kedatangan Laksamana Cheng Ho bersama juru mudinya Wan Jing Hong (Ong King Hong). Prosesi biasanya dipusatkan di tempat mereka merapat tahun 1405 lalu, yaitu di kawasan Simongan, kurang-lebih 3 km arah barat Tugu Muda. Tempat tersebut dibangun monumen religius bernama Kelenteng Sam Poo Kong atau Gedong Batu pada tahun 1724. Selama beratus-ratus tahun, Klenteng Sam Poo Kong telah menjadi tempat tujuan wisatawan dan peziarah dari seluruh dunia untuk mengenang kebesaran Laksamana Cheng Ho.
Upaya untuk menjual potensi wisata ini dapat dilakukan dengan mempercantik Klenteng Sam Poo Kong. Selama ini ''terdamparnya'' Sam Poo Tay Djien (Laksamana Cheng Ho) hingga di Gedong Batu ditandai dengan ritual arak-arakan patungnya dari Klenteng Tay Kak Sie di kawasan Pecinan ke Klenteng Sam Po Kong Gedong Batu Simongan. Arak-arakan ini juga merupakan aktrasi tersendiri yang dapat dijual kepada wisatawan. Festival Barongsai maupun Lampion atau aktraksi lainnya yang berbau tradisi Cina juga wajib untuk diangkat menjadi sebuah pertunjukan kebudayaan dan dikemas yang menarik. Agar suasana terkesan lebih hidup, replika perahu atau kapal Sam Poo Kong perlu juga dibuat di sungai Banjir Kanal Barat.
Para pelaku pariwisata dan penyelenggara akomodasi wajib mengemas kegiatan ini dengan membuat paket-paket wisata yang relatif murah tapi menarik. Berkaitan dengan upaya menggaet wisatawan, sebetulnya di Semarang banyak Chinese Heritage (Pusaka Budaya Cina) seperti kawasan Pecinan dengan 10 klentengnya. Klenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok, merupakan klenteng induk bagi seluruh klenteng yang ada di Semarang
Dengan kedatangan wisatawan akan memutar roda perekonomian dan perdagangan. Mulai dari akomodasi, cinderamata, makanan, dan transportasi akan mengalami kenaikan permintaan yang akan menimbulkan efek domino bagi sektor yang lain, termasuk sektor investasi. Dengan peringatan ini diharapkan kegiatan pengembangan pariwisata di Semarang akan menggeliat. Sehingga peninggalan Cheng Ho termasuk kegiatan didalamnya dapat menjadi aset wisata yang mampu menjadi sarana bisnis dan mendatangkan pendapatan bagi kota Semarang.

Penulis :
Sukawi
Dosen Arsitektur dan Pusat Studi Pariwisata UNDIP Semarang
Dimuat : Kompas, 18 Juli 2006

Read More..