Selamat datang di dunia maya..... Perkenalkan saya seorang yang lagi belajar akan tulis menulis tentang masalah arsitektur, perkotaan, perubahan iklim dan arsitektur tropis(sustainable architecture, urban, climate change and tropical architecture) Ijinlankah saya menyampaikan ide-ide melalui jemari lewat tulisan. Terima kasih dan Semoga bermanfaat..

Monday, July 03, 2006

PRPP, Alternatif Pusat Keramaian di Semarang

Kawasan Simpang Lima makin padat dan sesak. Ketidaknyamanan ini sangat terasa pada hari libur, terutama malam hari. Sekadar mencari tempat parkir saja sulit, karena penuh dan macet. Tahun 1980-an, warga bisa berlari-lari pagi di lapangan setiap Minggu. Namun, itu tak bisa lagi dilakukan karena trotoar di tepi lapangan dipenuhi PKL.
Simpang Lima saat ini menjadi semacam "superblok", di kawasan itu banyak gedung besar. Simpang Lima telah menjadi salah satu pusat Kota Semarang yang paling sibuk. Jika tak dikendalikan, bukan tak mungkin akan muncul gedung-gedung besar lagi di tempat itu.
Banyaknya jenis kegiatan yang dibebankan pada kawasan ini menimbulkan berbagai macam persoalan sehingga muncul wacana tentang alternatif pusat keramaian untuk memecah aktivitas publik.
Pemerintah Kota Semarang pernah mengeluarkan larangan agar acara semacam konser, pertunjukan, dan pengumpulan massa tidak dilakukan di kawasan ini. Ironisnya, pemkot justru tidak konsisten dan izin pun beberapa kali diberikan sehingga menambah beban kawasan ini. Pemkot juga harus kembali memikirkan untuk membuat alternatif pusat keramaian baru seperti pembuatan Simpang Lima kedua.
Pemkot harus menata Simpang Lima agar kawasan itu bisa kembali ke fungsi semula, yakni sebagai ruang publik dan dikembalikan pada rakyat. Saat ini, fungsi itu relatif terabaikan sehingga kenyamanan masyarakat untuk melakukan interaksi sosial di jantung Kota Semarang itu menjadi berkurang.
Menurut Wayne Attoe, untuk membangkitkan aktivitas kota "mati", salah satunya membuat wadah atau tempat untuk mengumpulkan kegiatan masyarakat kota diiringi penambahan fasilitas publik. Berdasarkan konsep ini, kiranya dapat dipelajari tentang keberhasilan pengembangan pusat kegiatan masyarakat.
Karakteristik Simpang Lima dapat digunakan sebagai acuan dalam pembuatan pusat keramaian publik baru. Karakteristik ini berhubungan dengan aktivitas publik, yakni fungsi sebagai pusat perdagangan, pencapaian yang mudah, kontinuitas kegiatan, dan daya tampung masyarakat.
Semua kegiatan tak selalu difokuskan di Simpang Lima. Misalnya, penyelenggaraan musik tidak harus selalu di kawasan itu. Lokasi lain yang bisa dimanfaatkan antara lain PRPP. Kawasan yang dibangun dengan biaya besar dan merupakan aset pemerintah ini perlu dikembangkan.
PRPP di Semarang Barat dekat bandara dan dapat dicapai dari jalan Arteri. PRPP dapat menjadi alternatif pusat keramaian baru dan kegiatan publik Kota Semarang, dengan tidak mengulangi kesalahan yang sama di kawasan Simpang Lima.

SUKAWI Dosen Arsitektur Universitas Diponegoro Semarang

dimuat: Kompas 27 Juni 2006
selengkapnya dapat diakses di
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0606/27/jateng/37744.htm

Read More..

Meniupkan "Roh" di Kota Lama

Pemerintah Kota Semarang menyatakan saat ini Kota Lama sebagai suatu kawasan historis kota bercitra budaya khas menjadi prioritas utama bagi konservasi. Aset kota berupa urban heritage dan infrastruktur berupa bangunan-bangunan lama yang mempunyai nilai arsitektur tinggi, saat ini tinggal berupa ‘space’ yang tidak lagi membentuk ‘place’, karena sudah ditinggalkan oleh manusianya sebagai pelaku budaya. Aset ini disamping merupakan bagian masa lalu dan kebudayaan kota juga merupakan potensi pariwisata tak ternilai pada masa kini dan masa datang. Namun sayangnya, aset yang tak ternilai harganya ini disia-siakan begitu saja, sehingga cenderung menjadi ‘kota mati’.
Penataan dan pengembangan kawasan bersejarah untuk keperluan wisata
budaya dalam memberikan roh kehidupan di Kota Lama, dapat dilakukan dengan :
Pertama, Atraksi wisata diantaranya, menampilkan berbagai acara festival, gala seni, pasar rakyat, pekan seni dan promosi. Dengan mengemas budaya daerah dalam suatu paket acara yang atraktif dan representatif melalui pagelaran kesenian yang cukup menarik seperti, siteran, gamelan, gambang semarang, ketoprak, wayang orang, dan lainnya. Pengembangan wisata yang cukup potensial ini tidak akan lepas dari strategi dan cara pemasaran yang baik serta komitmen bersama. Pemkot juga harus menggandeng pihak swasta khususnya biro perjalanan wisata (tour and travel) untuk turut serta berpromosi. Peran biro perjalanan dalam memasarkan produk tersebut sangat dominan karena usaha ini memiliki jaringan yang cukup luas (armada, hotel, dan lainnya), media promosi yang luas (brosur/pamflet, koran, majalah, dan lainnya), dan customer atau pengguna jasa yang dapat dipersuasi agar tertarik mengikuti program wisata atau membidik wisatawan asing yang memiliki kedekatan hubungan sejarah dengan Indonesia.
Kedua, bangunan kuno yang ada seperti stasiun Tawang, Gereja Blenduk, rumah-rumah kuno, bangunan kuno untuk perkantoran, hendaknya di renovasi dengan tanpa merubah bangunan secara total sehingga keasliannya tidak hilang dan dirawat supaya kelihatan lebih menarik, Memfungsikan kembali bangunan kuno terutama yang dibiarkan kosong untuk aktivitas yang dapat berlangsung pagi, siang maupun malam hari seperti pasar malam atau kegiatan komersial yang lain.
Ketiga, Untuk meningkatkan penghidupan pedagang kecil atau PKL pemerintah kota dapat menyediakan fasilitas seperti warung-warung kecil yang tertata rapi dan didesain secara atraktif terutama di tempat umum yang dilalui orang banyak seperti kawasan Gereja Blenduk, Stasiun Tawang maupun tempat yang membutuhkan keramaian. Kondisi ini dapat ditawarkan kepada para turis baik lokal maupun mancanegara sebagai salah satu atraksi wisata di kawasan Kota Lama untuk menarik mereka agar berbelanja souvenir dan makanan khas kota Semarang dengan nyaman dan aman.
Keempat, Menyediakan Prasarana Kota, berupa kantong-kantong parkir yang cukup terutama untuk mengantisipasi event-event tertentu yang diselenggarakan untuk menyemarakkan kawasan Kota Lama. Memberikan penerangan jalan terutama untuk kawasan-kawasan yang sepi dan gelap sehingga menghilangkan kesan “angker” dari kawasan tersebut. Penyediaan street furniture berkonsep kolonial khususnya bagi para pejalan kaki, selain itu penambahan vegetasi sebagai pelindung dan pengarah yang ditempatkan di daerah-daerah yang gersang
Kelima, Partisipasi Masyarakat, pemerintah kota harus bersama-sama dengan dinas yang terkait untuk membuat beberapa program pengembangan untuk kawasan Kota Lama. Hal ini merupakan peluang bagi masyarakat sekitar lokasi untuk dapat membantu pemerintah dalam merealisasikan program-program pengembangan tersebut sehingga selain dapat memberikan keuntungan bagi pemerintah tetapi juga memberikan banyak manfaat dan keuntungan bagi masyarakat. Pemerintah tidak sekadar bicara pelestarian, tetapi juga meningkatkan nilai dan kegiatan ekonomi di kawasan tersebut sehingga memberi insentif kepada masyarakat setempat.

Penulis:
Sukawi
Dosen Arsitektur Fakultas Teknik UNDIP Semarang
dimuat:
Seputar Semarang Suplemen Suara Merdeka 20 Juni 2006

Read More..