Selamat datang di dunia maya..... Perkenalkan saya seorang yang lagi belajar akan tulis menulis tentang masalah arsitektur, perkotaan, perubahan iklim dan arsitektur tropis(sustainable architecture, urban, climate change and tropical architecture) Ijinlankah saya menyampaikan ide-ide melalui jemari lewat tulisan. Terima kasih dan Semoga bermanfaat..

Monday, June 19, 2006

Saatnya Wujudkan Kota Tanggap Bencana

Alam berkembang menjadi guru. Sebuah ungkapan bijak dalam menyikapi berbagai bencana gempa bumi beruntun yang melanda di berbagai belahan kota di Indonesia. Gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah semakin membuka mata kita betapa pentingnya penerapan teknik bangunan dan penataan kota yang dapat meminimalkan efek gempa. Fakta telah menyebutkan, dari ribuan korban gempa sebagian besar akibat tertimpa bangunan dan kebingungan mencari ruang terbuka. Untuk itu perlu dipikirkan solusi teknik bangunan dan tata kota yang ideal untuk dapat bersahabat di daerah rawan gempa.
Setiap bencana menyapa saudara kita, kita selalu tergugah dan membangkitkan solidaritas untuk membantu sesama walaupun bencana tersebut datang secara berulang kali. Sikap kepedulian ini sering kali surut dan cepat terlupakan seiring dengan waktu. Bencana gempa yang terus terjadi berulang-ulang di negeri ini seharusnya menimbulkan niatan serius melakukan tindakan antisipasi preventif dan mitigasi bencana agar tahun-tahun kedepan bencana yang memakan ribuan korban baik harta maupun nyawa tidak terulang kembali, atau setidaknya dampak korban dapat ditekan sekecil mungkin.
Perlu adanya upaya perencanaan kota tanggap bencana yang terkonsep dan dapat dilaksanakan semurah mungkin serta dapat memberikan perlindungan penghuni kota secara maksimal. Pemerintah (dan masyarakat) harus proaktif berinisiatif mengadakan perombakan sistem perencanaan kota yang tanggap bencana dengan tidak mempermainkan tata ruang kota yang ideal. Kota yang terbangun kembali nantinya harus lebih baik dari sebelumnya. Salah satunya adalah mewujudkan kota tanggap bencana yang dilengkapi dengan ruang terbuka yang dapat menjadi ruang darurat kota jika bencana menghadang.
Kota dilengkapi dengan fasilitas tanggap bencana yang didasarkan kepada pengalaman/kejadian bencana gempa yang pernah terjadi. Kejadian di daerah rawan bencana dapat dijadikan bahan penyusunan rencana strategis (renstra) yang bermanfaat dalam proses mitigasi bencana.
di Tulis : Sukawi
Dosen Arsitektur Universitas Diponegoro Semarang

dimuat Kompas, 12 Juni 2006
Selengkapnya di
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0606/12/jateng/36984.htm

Read More..

Thursday, June 08, 2006

Seandainya Jalan Pemuda jadi 'City Walk'

Banyak orang yang enggan berjalan kaki di bawah terik matahari Semarang yang membakar. Walaupun, jarak tempuhnya tak sampai satu kilometer, tetapi orang Semarang cenderung naik mobil pribadi atau kendaraan umum. Mana ada karyawati yang rela polesan make up-nya rusak gara-gara cucuran keringat akibat berjalan kaki. Atau, apa mau wangi parfumnya berganti bau tak sedap terkena kepulan asap knalpot kendaraan. Makanya, jangan heran kalau banyak orang Semarang lebih memilih naik kendaraan daripada jalan kaki meski untuk tujuan paling dekat.
Sebuah penelitian merekomendasikan, Jl Pemuda mempunyai potensi untuk dapat dijadikan city walk. Selama ini di kawasan Pemuda kendaraan pribadi justru mendapat prioritas daripada pejalan kaki. Akibatnya, orang berkompetisi dengan kendaraan. Keberadaan trotoar yang kurang nyaman bagi pejalan kaki dengan banyaknya pot bunga yang besar dan kurangnya pohon peneduh yang dapat menyejukkan pejalan kaki.
Supaya lebih manusiawi, ada wacana untuk membuat Jalan Pemuda sebagai kawasan pedestrian di Semarang. Pemilihan ini kemungkinan berkaitan dengan kondisi trotoar di sepanjang jalan Pemuda yang sudah cukup lebar. Saat ini, trotoar yang ada pada umumnya berukuran lebar 2,5-4,5 meter.
Dalam pembangunan city walk, kawasan pedestrian harus dilengkapi jalur khusus untuk pejalan kaki yang dilindungi pepohonan. Mengenai lebar trotoar, sangat tergantung kondisi pedestrian yang ada atau dengan "meminjam" lahan dari pemilik gedung. Sehingga lebar trotoar di satu gedung dengan gedung lainnya berbeda.
Supaya orang tertarik untuk berjalan kaki, pemilik gedung dimungkinkan membangun semacam kafe/kios atau bekerja sama dengan sektor informal seperti PKL. Tujuannya supaya kawasan Pemuda dapat hidup 24 jam. Kalau ada orang berjalan, rasanya cukup nyaman jika disertai kafe/kios yang cantik atau pusat cinderamata di sepanjang kawasan itu, dengan PKL yang sudah mempunyai komitmen terhadap kebersihan lingkungannya sehingga tidak kumuh. Karena city walk lebih menekankan unsur jalan kaki sebagai aktivitas hiburan, sehingga didesain satu paket dengan kepentingan wisata.
Yang terpenting adalah menata kawasan yang sudah terbangun agar mampu memberikan kenyamanan bagi para pejalan kaki. Trotoar dibuat lebar agar tidak menyulitkan orang untuk lewat. Perlu diupayakan terlindung dari sinar matahari dengan menanam pohon pelindung. Karena perlu diingat iklim kota Semarang warm humid yang cukup panas.
Mungkinkah kawasan Pemuda seperti Marioboro Yogyakarta atau Cihampelas Bandung? Apalagi, kawasan Pemuda didominasi bangunan perkantoran. Untuk itu perlu upaya semua pihak agar ada daya tarik supaya orang Semarang senang berjalan kaki di jalan Pemuda.

Penulis :
Sukawi
Dosen Arsitektur Universitas Diponegoro Semarang
dimuat : Kompas 23 Mei 2006
selengkapnya di
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0605/23/jateng/36074.htm

Read More..

Mengidamkan Kicau Burung di Taman Kota Semarang

Apa yang terbersit di benak Anda ketika melihat sekelompok burung beterbangan dan mencari makan di taman kota Semarang? Boleh jadi Anda akan mencari ketapel dan kerikil, atau jaring untuk menangkapnya. Namun, cobalah Anda duduk di sebuah taman kota di kota Putrajaya. Sambil menikmati sepoi angin dan aroma bunga taman, kicau burung seolah ikut menemtramkan suasana hati dan kembali ke alam pedesaan. Ada kalanya burung tersebut mendekat bahkan hinggap dikursi taman. Mereka burung liar tapi tidak peduli oleh banyaknya orang yang duduk ditaman, lalu lalang orang di trotoar, atau berisiknya kendaraan di jalan.
Beberapa kota di Malaysia agaknya masih menjadi surga bagi burung-burung. Di Kuala Lumpur misalnya beberapa jenis burung asyik beterbangan diantara dahan pohon. Seolah-olah mereka ada di setiap sudut kota, hidup berdampingan dengan penduduk kota. Walaupun burung yang ekosistemnya berbeda dengan manusia merupakan makhluk yang peka terhadap perubahan iklim sehingga burung mengenal migrasi.
Ada pemandangan yang lebih indah, menjelang senja hari di Lapangan Merdeka Kuala Lumpur, ratusan burung berbaris beterbangan membentuk formasi sedang melintas menuju peristirahatannya. Kota yang sangat sibuk dan ramai, masih dijumpai burung-burung liar yang beterbangan dan menggantungkan hidupnya dari keberadaan taman kota. Burung yang bebas hidup di tengah kepadatan kota itu tak dapat dipungkiri memberikan tanda berkaitan dengan kebijakan penguasa kota yang mau bersahabat dengan lingkungan.
Kota tetangga kita begitu serius untuk berharmonisasi dengan alam lingkungan, dengan membuat Taman Wetland di Putrajaya. Taman ini untuk mengonservasi air bersih yang bermanfaat untuk menghidupi kota baru sekaligus berfungsi mengontrol kapasitas air yang menuju ke Danau Tasik yang mengelilingi kota, dan dapat untuk tempat penelitian, rekreasi, dan pendidikan yang merupakan ruang belajar di alam nyata. Dalam taman itu terdapat kurang lebih 75 spesies tanaman dan hewan. Sehingga taman itu menjadi surga yang nyaman untuk flora dan fauna berupa beraneka ragam bunga dan burung yang dapat beterbangan ke taman kota. Keseluruhan wilayah Taman Wetland ini dapat dinikmati melalui gardu pandang yang diperuntukkan bagi wisatawan.
Kota Semarang sebenarnya mempunyai potensi untuk menjadikan taman kota sebagai habitat para burung. Kita bisa melihat pemandangan menarik banyaknya burung bangau (kuntul) yang hinggap diatas dahan pepohonan di markas Banteng Raiders Srondol Semarang. Tetapi makin hari taman-taman kota Semarang “makin habis” menjadi mall, hotel, dan perkantoran. Sulit untuk dibayangkan bagaimana jadinya bila untuk melihat lebih dekat burung yang berkicau dihabitatnya secara langsung anak-anak kita harus mencari langsung ke hutan. Ironisnya, untuk bisa melihat burung, kita harus mengeluarkan uang untuk ke kebun binatang atau menunggu acara satwa dilayar televisi, apalagi membayangkan mereka bebas berkeliaran di taman-taman kota, bagaikan mimpi disiang bolong.

Penulis :
Sukawi
Pembimbing KKL ‘Kuala Lumpur-Putrajaya’
Dosen Arsitektur UNDIP Semarang
Dimuat di :
Kompas 11 April 2006 selengkapnya diakses di
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0604/11/jateng

Read More..

Nasib Jembatan Penyeberangan

Polemik tentang manfaat jembatan penyeberangan di jalan-jalan protokol Kota Semarang mencuatkan akhir-akhir ini. Setidaknya muncul anggapan manfaat dari jembatan penyeberangan itu kurang dan belum dibutuhkan oleh masyarakat. Jika demikian, apakah pembangunan sarana umum itu tidak direncanakan dengan matang misalnya melalui penelitian sebelumnya? Misalnya Jalan Teuku Umar, Jatingaleh, terdapat 3 jembatan penyeberangan yang jarang dilalui oleh penyeberang jalan. Bahkan ada yang mencurigai, jembatan itu cuma untuk memenuhi kepentingan pengusaha dan Pemkot saja untuk memasang iklan.
Pembangunan jembatan penyeberangan di beberapa ruas jalan di pusat kota dinilai sangat tidak efektif. Alasannya keberadaan jembatan penyeberangan itu bukan untuk fasilitas umum, tetapi lebih cenderung sebagai upaya pemerintah kota mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) untuk tempat reklame.
Ada peribahasa “Alon-alon asal kelakon”, yang seringkali diterjemahkan secara bebas menjadi “Biar Lambat Asal Selamat”. Namun seringkali peribahasa ini hanya menjadi slogan belaka. Sungguh sering kita jumpai banyak penyeberang jalan yang mempertaruhkan nyawanya dengan menyeberang di jalan yang ramai tidak pada tempatnya (tidak melalui jembatan penyeberangan maupun zebra-cross).
Ironisnya, menjadi suatu pemandangan umum yang sering dijumpai setiap hari saat berangkat ke kantor atau ke kampus, dimana polisi membantu menyeberangkan sekian banyak pelajar dan masyarakat walaupun didekatnya ada jembatan penyeberangan. Sungguh ironi. Apakah ini tanda bahwa aparat kepolisian juga tidak mensosialisasikan penggunaan jembatan penyeberangan?

Penulis :
Sukawi
Dosen Arsitektur Universitas Diponegoro Semarang

Selengkapnya dimuat di :
Seputar Semarang (Suplemen Suara Merdeka) edisi 17 April 2006

Read More..

Wednesday, June 07, 2006

Semarang Kota Kaki Lima

Pemandangan Kota Semarang kini sudah mirip sebagai kota kaki lima. Bukan saja karena bertebarannya pedagang kaki lima di mana-mana, termasuk dengan leluasa membangun kios-kios semi permanen di beberapa trotoir dan jalur hijau yang berguna sebagai penunjang keindahan dan sarana pejalan kaki. Namun, juga disiplin masyarakat untuk mematuhi hukum sangat memprihatinkan, yang didukung penegakan hukum di Kota yang lemah. Penertiban yang dilakukan Pemerintah Kota berulang-ulang sejak diterbitkannya SK Walikota No.551.3/16 tanggal 20 Januari 2001 sampai sejauh ini belum memperlihatkan hasil yang optimal. SK ini berisi tentang pelarangan lokasi PKL di kota Semarang, yaitu bahu jalan trotoir, diatas selokan, dan ditempat-tempat umum. Kehadiran pedagang kaki lima di Kota sebenarnya merupakan hal biasa. Namun, kini keberadaan mereka sangat marak dengan tidak sekadar menggelar dagangan mereka menggunakan tenda plastik atau terpal serta peralatan gerobak dorong. Namun, mereka memperkuat usahanya dengan membangun kios-kios semi permanen yang dapat digunakan untuk tempat tinggal.
Kota Semarang mungkin memang kota kaki lima, hal ini tercermin denganh banyaknya pedagang kaki lima yang mencoba peruntungan di kota. Sebab di mana ada lokasi kaki lima, di situ pedagang kaki lima sudah menguasainya. Maka dari itu, kaki lima, yang juga kita kenal dengan istilah yang berasal dari bahasa Perancis trotoir (baca: trotoar), yang artinya tempat pejalan kaki, sudah tidak lagi berfungsi sebagai mana mestinya. Dari mana sebenarnya asal-usul kata kaki lima? Belum ada yang bisa menjawab pertanyaan itu dengan pasti. Ada yang memperkirakan, kaki lima itu ada hubungannya dengan dua kaki penjual, dua roda gerobaknya, dan kaki kelimanya adalah kaki kayu yang dipasang penjual kalau lagi mangkal, untuk memastikan beban gerobak tertopang seimbang, dan gerobaknya tidak lari.

Selengkapnya dimuat di :
Seputar Semarang (suplemen Suara Merdeka) September 2005

Read More..

Semarang Kota Reklame

Papan reklame atau billboard akhir-akhir ini dibiarkan tumbuh liar. Saat ini terjadi kesemrawutan papan reklame dengan titik-titik baru yang semakin bertambah. Pemasangan papan reklame di Semarang dalam satu tahun terakhir terdapat penambahan titik baru. Sebenarnya Pemerintah Kota Semarang telah memiliki Peraturan Daerah (Perda) No.5/1985 tentang Perizinan Reklame. Kemudian pada tahun 1999 dikeluarkan SK Walikota no. 973/0645 tentang tata cara penyelenggaraan reklame dikota Semarang, yang mengatur titik-titik di sejumlah jalan dan kawasan. Ada sekitar 1300 titik reklame dari sekitar 125 ruas jalan diatur dalam SK tersebut. Kenyataannya saat ini titik reklame tumbuh bagai jamur, konstruksi raksasa papan reklame dengan ukuran 4x8 meter berdiri dengan angkuhnya di median jalan yang lebarnya kurang dari satu meter. Sekitar 100 meter berikutnya juga terdapat konstruksi yang serupa. Para pengendara dan pemakai jalan dipaksa untuk melihat dan lewat dibawah konstruksi papan reklame raksasa.
Selama ini masih tampak betapa lemahnya tanggung jawab pengelola kota, khususnya Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota, sehingga perlu usaha dan tindakan untuk menata kembali papan reklame. Minimnya proses penyeleksian dan pengawasan perijinan, serta perawatan (maintenance) berakibat membanjirnya papan reklame bermasalah yang membuat semrawut wajah kota. Semuanya itu akan membuat kota menjadi tidak menarik dan akan membahayakan keselamatan umum. Dalam kehidupan sehari-hari banyak warga kota yang secara tidak sadar telah menanggung beban akibat pemasangan papan reklame yang tidak tepat letak, proporsi dan sasaran konsumen.

Selengkapnya di muat di :
Seputar Semarang (suplemen Suara Merdeka) 29 Agustus 2005

Read More..