Saatnya Wujudkan Kota Tanggap Bencana
Alam berkembang menjadi guru. Sebuah ungkapan bijak dalam menyikapi berbagai bencana gempa bumi beruntun yang melanda di berbagai belahan kota di Indonesia. Gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah semakin membuka mata kita betapa pentingnya penerapan teknik bangunan dan penataan kota yang dapat meminimalkan efek gempa. Fakta telah menyebutkan, dari ribuan korban gempa sebagian besar akibat tertimpa bangunan dan kebingungan mencari ruang terbuka. Untuk itu perlu dipikirkan solusi teknik bangunan dan tata kota yang ideal untuk dapat bersahabat di daerah rawan gempa.
Setiap bencana menyapa saudara kita, kita selalu tergugah dan membangkitkan solidaritas untuk membantu sesama walaupun bencana tersebut datang secara berulang kali. Sikap kepedulian ini sering kali surut dan cepat terlupakan seiring dengan waktu. Bencana gempa yang terus terjadi berulang-ulang di negeri ini seharusnya menimbulkan niatan serius melakukan tindakan antisipasi preventif dan mitigasi bencana agar tahun-tahun kedepan bencana yang memakan ribuan korban baik harta maupun nyawa tidak terulang kembali, atau setidaknya dampak korban dapat ditekan sekecil mungkin.
Perlu adanya upaya perencanaan kota tanggap bencana yang terkonsep dan dapat dilaksanakan semurah mungkin serta dapat memberikan perlindungan penghuni kota secara maksimal. Pemerintah (dan masyarakat) harus proaktif berinisiatif mengadakan perombakan sistem perencanaan kota yang tanggap bencana dengan tidak mempermainkan tata ruang kota yang ideal. Kota yang terbangun kembali nantinya harus lebih baik dari sebelumnya. Salah satunya adalah mewujudkan kota tanggap bencana yang dilengkapi dengan ruang terbuka yang dapat menjadi ruang darurat kota jika bencana menghadang.
Kota dilengkapi dengan fasilitas tanggap bencana yang didasarkan kepada pengalaman/kejadian bencana gempa yang pernah terjadi. Kejadian di daerah rawan bencana dapat dijadikan bahan penyusunan rencana strategis (renstra) yang bermanfaat dalam proses mitigasi bencana.
di Tulis : Sukawi
Dosen Arsitektur Universitas Diponegoro Semarang
dimuat Kompas, 12 Juni 2006
Selengkapnya di
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0606/12/jateng/36984.htm




