KOTA TROPIS "tropical city"

Selamat datang di dunia maya..... Perkenalkan saya seorang yang lagi belajar akan tulis menulis tentang masalah arsitektur, perkotaan, perubahan iklim dan arsitektur tropis(sustainable architecture, urban, climate change and tropical architecture) Ijinlankah saya menyampaikan ide-ide melalui jemari lewat tulisan. Terima kasih dan Semoga bermanfaat..

Tuesday, April 22, 2008

Politisasi Jalan Mengabaikan Estetika Kota

Sepanjang jalan di kota Semarang sekarang lagi ramai spanduk dan poster kampanye. Masing-masing tim sukses berusaha keras memilih tempat-tempat strategis untuk memasang alat kampanye. Banyaknya spanduk dan baliho calon gubernur maupun wakilnya yang akan maju dalam pemilihan gubernur Jawa Tengah ini secara tidak langsung mengisyaratkan adanya kegiatan "kampanye terselubung". Minimal upaya mensosialisasikan calon yang akan ikut meramaikan pesta demokrasi.
Semarang sebagai ibukota propinsi tidak luput dari sasaran kegiatan promosi cagub dan cawagub. Hampir di setiap titik strategis terpasang spanduk cagub. Ada yang terang-terangan minta dukungan, namun ada pula yang masih "malu-malu". Sekedar memasang gambar dengan gagasan dan konsep pembangunan Jawa Tengah. Hal ini secara tidak langsung pemasangan iklan itu merupakan bentuk kampanye.
Pemasangan iklan cagub dan cawagub sebelum waktunya itu menimbulkan persoalan yang cukup kompleks. Setidaknya bagi Pemkot yang wilayahnya menjadi "sasaran" pemasangan, di samping terkadang pemasangannya tidak mengindahkan faktor estetika tata kota. Misalnya penempatan spanduk yang merentang berada di lokasi strategis yang dipasang dengan memakai seutas tali plastik diantara 2 buah pohon, atau diantara tiang listrik maupun tiang telpon.
Di beberapa penggal jalan, sangat sering dijumpai pemasangan spanduk dan poster tumpang tindih dan terkesan asal pasang untuk menperlihatkan kelebihan masing-msing calon. Kita perhatikan pemasangannya sering menghalangi pemandangan papan penunjuk jalan, bahkan rambu lalu lintas. Luas pandangan mata kita di jalan, yang sebenarnya merupakan hak publik, telah dirampas oleh pemandangan spanduk yang hampir menutupi pandangan. Belum lagi banyak poster yang terpasang di pohon-pohon peneduh jalan dengan cara dipaku. Hal ini jelas-jelas tindakan yang tidak bersahabat dengan lingkungan.
Untuk itu, Pemkot harus bersikap tegas terkait maraknya iklan para calon gubernur dan wakilnya. Iklan-iklan itu, khususnya yang tak berizin, wajib ditertibkan. dengan cara menurunkan iklan-iklan "ilegal" itu. Sikap tegas ini bukan berarti Pemkot terlalu profit oriented (orientasi keuntungan), namun hal itu dilakukan semata-mata untuk menegakkan peraturan dan menerapkan azaz keadilan bagi masyarakat.
Pemkot perlu melakukan pengawasan berkala melalui satuan Polisi Pamong Praja. Hal ini untuk mengantisipasi iklan cagub dipasang di sembarang tempat dan dengan konstruksi yang asal-asalan pula. Padahal, pemkot memiliki prosedur soal pemasangan dan konstruksinya. Jika terjadi bencana misalnya ambruk, dan menimpa pengguna jalan, pemkot tidak akan sulit untuk mencari siapa yang bertanggung jawab.
Selanjutnya, Pemkot perlu menetapkan kawasan white area. Kawasan tersebut harus bersih dari iklan cagub dan cawagub. Kawasan bebas iklan ini dapat mengacu pada Perda tentang Reklame. Pemkot wajib memberikan rekomendasi di ruas jalan mana saja yang bisa dipasangi iklan agar tidak bertentangan dengan keindahan kota. Alangkah indahnya bila pemasangannya tidak mengganggu fasilitas publik (tiang telepon, tiang listrik, pohon jalan, penunjuk jalan hingga rambu lalu lintas).
Memang bukan hal mudah untuk mengurai benang persoalan ini. Bisa dipahami jika cagub dan cawagub punya kepentingan kuat untuk "mengiklankan diri". Tapi mestinya harus tetap mengedepankan etika politik dan menghormati regulasi yang berlaku. Sebab Pemkot juga punya kepentingan untuk menata kotanya supaya terlihat estetik dan menegakkan aturan yang berlaku. Jangan sampai jalan yang kita miliki sebagai ruang publik bersama telah penuh sesak dengan ”produk politik” sehingga yang terjadi hanyalah politisasi jalan raya. Sebagai warga kota, kita tidak ingin Semarang terjadi kesemrawutan visual hanya karena hutan iklan produk politik yang dipasang di sepanjang ruas jalan.

Penulis :
Sukawi, Pengajar Arsitektur UNDIP dan aktivis Komunitas Loenpia.net

dimuat di KOMPAS 1 April 2008

Read More..

Fenomena Generasi Kafe

Bagi masyarakat modern, singgah di kafe sudah menjadi keharusan dan kebiasaan. Untuk sekedar bersantai atau mencari variasi hiburan ditengah rutinitas yang padat, duduk sebentar dan minum secangkir kopi menjadi kenikmatan tersendiri. Berbincang dengan relasi terasa lebih rileks dan hangat. Kini banyak orang kantoran yang memilih mengadakan meeting dengan relasi bisnis ditempat ini. Karena tidak terlalu formal dan cukup representatif sehingga suasana keakraban akan lebih terasa jika dibanding dengan meeting dikantor.
Keberadaan kafe di Semarang tumbuh bagai jamur dimusim hujan. Warung makan atau restoran yang menyediakan minuman kopi memang banyak, tetapi jelas bukan sekadar secangkir kopi yang dicari. Coba kita tengok kafe yang bertebaran di lingkungan kampus sampai mall dan hotel berbintang. Hadirnya kafe menjawab kebutuhan akan sebuah ruang yang bisa digunakan untuk bertemu kawan sembari berbincang "ngalor-ngidul" cukup ditemani secangkir minuman favorit dalam suasana yang nyaman.
Kata kafe berasal dari bahasa Prancis,cafi, yang secara harfiah diterjemahkan sebagai (minuman) kopi. Namun, tidaklah lantas berarti kafe memiliki pengertian yang sama dengan warung kopi. Meski fungsinya sama, yakni tempat di mana orang bisa minum (kopi) sambil bercakap-cakap, tetapi kafe berada dalam pemaknaan budaya yang berbeda. Kafe bisa saja dianggap sebagai warung kopi bagi mereka yang hidup dalam budaya urban perkotaan modern, yang karena itu pemaknaan kulturalnya berbeda dengan warung kopi dalam masyarakat tradisional.
Kafe telah menjadi fenomena menarik di sejumlah kota besar seperti Semarang. Keberadaannya langsung menunjuk pada sejenis gaya hidup eksklusif yang kemudian mewabah ke berbagai sudut kota, bahkan hingga ke kota-kota kecil. Dalam perkembangannya, fenomena ini disambut sebagai peluang usaha baru. Kafe-kafe tumbuh dengan berbagai konsep suasana.
Menurut sejarahnya, kafe tumbuh seiring dengan bangkitnya kesadaran para intelektual Eropa di Abad ke-18. Sejumlah sumber menyebut bagaimana kafe muncul pada periode pencerahan, yang ditandai dengan banyaknya penerbitan karya-karya sastra filsafat, jurnal, surat kabar, serta tumbuhnya minat baca di tengah masyarakat. Kafe di sini, menjadi ruang publik tempat masyarakat dari seluruh lapisan untuk berdiskusi.
Di Paris sejumlah sastrawan tak bisa dipisahkan dari kafe. Kafe menjadi tempat mereka bertemu dan berdiskusi serta melahirkan banyak gagasan. Di sisi lain, kafe sebagai ruang publik yang dalam awal kemunculannya hanya menjadi milik kaum lelaki, membuktikan satu hal, yakni betapa sesungguhnya berkumpul dan ngobrol bukan hanya monopoli kaum perempuan.
Bahkan sejak masa Yunani dan Romawi, kaum lelaki amat suka berkumpul dan berkelompok menurut minat mereka masing-masing, yang kemudian disebut dengan klub. Dalam Encyclopedia Americana, klub disebut sebagai kumpulan individu yang memiliki kesamaan minat.
Sekarang ini banyak kafe yang berada di mall-mall, tersebar di kota Semarang. Ada exxelso, kopi luwak, dan masih banyak lagi. Untuk dapat lebih menarik pengunjung berlama-lama singgah dikafe, ada beberapa fasilitas seperti area hotspot yang didukung wireless akses point ke internet yang tersedia untuk layanan akses internet gratis bagi mereka yang membawa laptop sambil menikmati secangkir minuman. Pengunjung dapat rapat sambil membuat berita acara dengan laptop serta makan siang sekaligus mengakses internet.
Ada banyak alasan mengapa orang suka berkunjung ke kafe. Namun, satu hal yang pasti, mereka betah berlama-lama, entah karena alasan suasananya, keakraban, atau camilan yang disajikan. Tentunya, ini jika kafe yang dipilih sesuai. Saat ini keberadaan kafe bukan lagi sekadar pemuas dahaga atau lapar. Bagi sebagian masyarakat, kafe merupakan sarana untuk membangun kehidupan sosialnya, baik untuk nongkrong, bergaul, atau menjerat pacar. Kafe juga merupakan sarana meneguhkan identitas dan kebanggaan.
Bagi para penggila bola (olah raga), kafe dapat merupakan tempat untuk menyalurkan dan berbagi hobi. Lewat kesukaannya terhadap klub olah raga tertentu atau komunitas blogger misalnya, komunitas ini tidak jarang berkumpul di kafe untuk sekadar membahas agenda acara, nonton bareng pertandingan, perkenalan anggota baru atau sekadar ngobrol “ngalor ngidul”.
Dari generasi kafe ini diharapkan akan terlahir orang-orang muda dengan karya-karya besar bagi umat manusia. Jadi, tidak masalah kalau generasi ini lebih mengenal espresso, cappuccino, ice black coffe, hot capucino, avocado coffe atau macchiato, ketimbang sega kucing, the, jahe, atau kopi tubruk. Asalkan kita bukan sekadar hiruk pikuk di permukaan menikmati gaya dan hedonisme berbalut kultur urban semata.
Semarang sebenarnya telah memiliki kultur wedangan (warung tenda pinggir jalan) yang juga berbasis komunitas. Namun, karakter masyarakat, terutama kalangan anak muda, kini telah bertransformasi sedemikian rupa. Akibatnya, kehadiran kafe saat ini kian menjawab kebutuhan mereka, yakni tetap ingin bernuansa akrab dan berjarak sosial dekat, tetapi bersemangat urban dan populis
Fenomena kafe-kafe yang menjadi ajang berkumpulnya berbagai komunitas ini, agaknya tetap tak bisa mengubah citra kafe sebagai tempat eksklusif. Dalam pencitraannya, kafe tetaplah menjadi ruang yang serba pragmatis. Tempat orang datang untuk menikmati kehadirannya dalam budaya urban perkotaan yang cenderung artifisial.

Penulis :
Sukawi, Pengajar Arsitektur UNDIP dan aktivis kuliner Komunitas Loenpia.net

dimuat di Suara Merdeka, 18 Maret 2008

Read More..

Monday, March 10, 2008

Menyelamatkan Jalan Kaligawe

Mengapa jalan Kaligawe? Di sepanjang jalan ini, terdapat fasilitas transportasi Terminal Induk Terboyo, Rumah Sakit, Perguruan Tinggi dan puluhan perusahaan besar beroperasi, untuk mendukung investasi di kota Semarang khususnya. Di samping itu, Kaligawe merupakan jalan yang sangat vital karena menghubungkan Semarang dengan kota-kota di sepanjang Pantura ke arah Jawa Timur.
Di sepanjang Jalan Kaligawe telah terjadi aglomerasi spontan di Semarang, terutama sepanjang jalur regional berupa kegiatan komersial. Sering terjadi migrasi keluar-masuk yang kontras pada waktu sibuk yaitu saat masuk dan keluar tempat kerja, terutama para pekerja dari Semarang,Demak, Kudus, dan sekitarnya. Ternyata ribuan orang yang menggantungkan nasib pada penggal jalan Kaligawe ini. Hal ini menunjukkan bahwa sepanjang jalan merupakan ''jantung'' dan “urat nadi” ekonomi Kota Semarang.
Permasalahan spesifik Jalan Kaligawe adalah soal lingkungan hidup, yakni banjir dan rob yang hingga saat ini belum dapat dipecahkan. Jalan yang penting ini tenggelam dalam banjir, rob, kemacetan lalu lintas, jalan rusak parah, teremdamnya pabrik dan penataan tempat usaha yang tidak mempertimbangkan aspek-aspek tata kota, ekologi, dan ekonomi. Kalau tidak segera ditangani, para investor akan ''lari'' dari Semarang.
Untuk menyelamatkan Kaligawe, hal yang perlu dilakukan, pertama memecah kepadatan arus lalu lintas dengan jalur alternatif. Dari arah timur, dapat dialihkan arus lalu lintas dari Kaligawe (Pasar Genuk) melintasi Jalan Wolter Monginsidi kemudian Jalan Arteri Soekarno-Hatta, begitu juga sebaliknya. Namun, kelemahan jalur alternatif ini adalah masalah jarak dan waktu tempuh. Dengan kondisi jalur alternatif yang kurang layak terlihat di Jalan Wolter Monginsidi, di beberapa titik berlubang, sempit, dan tergenang air. Jarak tempuh Kaligawe menuju ke Batas Kota Semarang-Demak yang seharusnya cukup 3 atau 4 km saja, kenyataannya menjadi sekitar 15 km.
Kedua, sudah waktunya Jalan Kaligawe dibuatkan jalan layang atau jalur lingkar untuk memecah konsentrasi arus lalu lintas yang makin padat. Hal ini harus segera dilakukan karena di Semarang ini tidak ada jalur alternatif yang tepat dan efisien sebagai jalur alternatif. Jalur-jalur yang ada, sebagian kondisi jalannya kurang layak dan yang lain memiliki jarak tempuh cukup jauh.
Ketiga, persoalan penurunan tanah juga harus ditangani. Kecepatan penurunan tanah perlu dikendalikan dengan berbagai cara. Salah satunya mengendalikan penggunaan air bawah tanah (ABT) di kawasan tersebut. Jika pengambilan melebihi air yang bisa meresap ke tanah, penurunan akan lebih cepat terjadi.
Keempat, Rencana perbaikan (peninggian) jalan Kaligawe bertahap harus dilaksanakan konsisten dan tepat waktu, agar peninggian jalan tidak terkesan sepotong-sepotong, tetapi komprehensif. Jika tidak demikian, akan menimbulkan persepsi pemerintah sekadar memindahkan lokasi banjir dan menenggelamkan lingkungan sekitar. Peninggian jalan tersebut hendaknya mempertimbangkan kawasan industri Kaligawe yang sudah terbangun lama.
Kelima, normalisasi saluran Gebangsari, Kaligawe dan Tenggang harus secara rutin dilakukan. Hal ini dikarenakan kondisi saluran sudah memprihatinkan, pada kondisi normal, saja muka air yang sudah sejajar dengan muka jalan dan dipenuhi oleh tumbuhan enceng gondok. Jika terjadi hujan, pasti airnya akan meluap di jalan raya.
Pembenahan infrastruktur kota merupakan hal penting yang perlu diperhatikan Pemkot. Bidang itu dinilai masih menjadi titik lemah sekaligus PR paling berat bagi Pemkot. Mengacu pada dampak akibat bencana banjir yang terjadi rutin setiap tahun menggenangi Kaligawe, maka perlu kesadaran kolektif untuk meminimalisasi kasus ini terulang di kemudian hari. Kesadaran kolektif yang harus terjadi secara vertikal dan horizontal tentu memungkinkan untuk menjaga Kaligawe dari kepungan banjir tahunan.
Penulis :
Sukawi, Dosen Arsitektur UNDIP dan Ketua Litbang Asosiasi Profesi Tenaga Terampil dan Ahli (APTA) Indonesia Cabang Jawa Tengah

dimuat di Kompas, 26 Februari 2008

Read More..

Tuesday, February 05, 2008

Pasar Imlek, Mendongkrak Pesona Pecinan


Menjelang Tahun Baru Imlek 2559, kawasan pecinan Semarang sudah mulai marak dan meriah dengan pernak-pernik Imlek. Para pedagang di sekitar Pecinan, bukan saja menjual aneka hiasan atau perangkat khas Imlek yang bernuansa merah, tetapi juga menghias tokonya dengan berbagai hiasan sehingga suasana Pecinan sangat terasa.
Kawasan pecinan Semarang pada siang hari merupakan sentra bisnis yang cukup ramai dan sibuk, seperti di Jalan Kranggan sebagai pusat penjualan kain dan perhiasan. Ada pasar Gang Baru, ada Gang Beteng, Gang Pinggir, dan Gang Besen, yang juga ramai di waktu siang, tetapi cukup lengang di waktu malam. Untuk itu perlu suntikan aktivitas bisnis di kawasan ini untuk lebih menghidupkan suasana Pecinan di waktu malam. Salah satunya adalah Pasar Imlek Semawis (PIS) yang dimanfaatkan sebagai tujuan wisata kuliner sekaligus memperkenalkan budaya khas Cina.
Membangun citra Pasar Imlek Semawis, harus lebih dari sekadar menjual pernak-pernik Imlek. Jika tidak, tentu tak ubahnya bazar atau pasar malam belaka. Pernak-pernik yang menambah maraknya Imlek itu, antara lain lampion-lampion, amplop merah (angpao), spanduk hiasan berwarna merah bertuliskan emas, pakaian etnik China, kembang api, mainan tikus, kue keranjang, buah jeruk dan pir, serta bunga mei hoa warna merah muda.
Kolaborasi aktivitas perdagangan dan pertunjukan budaya barangkali menjadi poin jual yang bisa dikembangkan. Kekhasan Imlek di Semarang, mestinya tidak melulu difokuskan pada tradisi perayaan tahun baru dalam penanggalan Cina saja. Melainkan, justru pada kemampuan untuk mengeksplorasi karakter yang membedakan perayaan Imlek di Semarang dengan perayaan sejenis di kota lain atau bahkan negara lain. Budaya di kota pesisir Pantai Utara Jawa ini sudah terakulturasi sehingga banyak potensi yang sebenarnya bisa ditonjolkan.
Tujuan wisatawan datang ke pecinan Semarang selain karena makanan khas oriental, juga untuk menikmati suasana, kesenian dan budaya khas pecinan. Untuk itu perlu menciptakan peluang bisnis yang sesuai dengan lingkungan sekaligus dapat menghidupi kawasan tersebut. Misalnya bisnis obat cina (sinse), konsultasi fengsui, kerajinan /suvenir, dan makanan khas China.
Belum lagi makanan khas yang diproduksi di kawasan ini. Ada lunpia Gang Lombok, kue pia Cap Bayi, kue bulan. Ada pula Warung Makan Pak Ndut, Sate Kambing Guci dan Kapuran, Rumah Makan Permata Merah yang sudah berusia satu abad, Es Marem Gang Baru, dan Soto Bonkarang, yang pasti menggoda siapa saja untuk datang mencicipi sambil menikmati suasana malam khas permukiman Pecinan.
Pelestarian tradisi semacam perayaan Sam Poo Besar juga dapat dikemas menjadi event wisata yang menarik. Di samping itu, kesenian semacam Barongsai, Wayang Potehi bisa dikemas dengan tampilan yang disesuaikan dengan kondisi zamannya. Selain warisan leluhur Tionghoa, ada baiknya menampilkan budaya yang sudah berakulturasi dengan kebudayaan timur. Belum lagi potensi wisata budaya dengan tawaran sembilan kelentengnya. Biasanya pada pagi hari pertama Imlek, kelenteng-klenteng di Pecinan dipadati oleh para pengunjung yang sembahyang. Terlebih pada Klenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok yang merupakan klenteng induk bagi seluruh klenteng di Semarang.
Suatu saat nanti kawasan pecinan Semarang akan seperti “Kya-Kya” Kembang Jepun, Surabaya atau Kesawan Square di Medan. Di tengah kepadatan rumah dan bangunan tuanya, kawasan pecinan Semarang menyimpan sejuta kisah kejayaan dan potensi wisata yang menjanjikan. Gong Xi Fat Cai.
Penulis : Sukawi, Dosen Arsitektur dan Pusat Studi Pariwisata UNDIP Semarang

Dimuat di Kompas, Selasa, 5 Februari 2008

Read More..

Thursday, January 03, 2008

Antisipasi Genangan Musim Hujan


Hujan mulai sering turun. Itu berarti musim hujan mulai dekat, bahkan sudah memasuki musimnya. Seperti biasa, hujan yang mengguyur kota Semarang sering jadi masalah, terutama di daerah-daerah tertentu. Untuk itu, pemerintah harus benar-benar menyiapkan diri mengantisipasi berbagai kemungkinan akibat hujan. Aparat pemda, hingga ke kelurahan harus segera dikerahkan. Jangan menunggu banjir baru ambil tindakan.
Banjir lokal yang akhir-akhir ini melanda sejumlah tempat di Semarang membuat sungai dan saluran air dipenuhi sampah. Berton-ton sampah menyebabkan sungai dan saluran air tak mampu mengatasi derasnya air di musim hujan sehingga banyak wilayah yang terendam. Tumpukan sampah dari berbagai macam material mengakibatkan pendangkalan dan penyempitan sungai. Kota yang langganan banjir ini, sudah berpengalaman betapa sengsaranya akibat dari “sapaan” banjir itu. Selain membuat perumahan terendam air, perkampungan terkepung genangan air, jalan-jalanpun di mana-mana macet, masalah gangguan kebersihan dan kesehatan lingkunganpun kian banyak akibat banjir.
Genangan besar air di kota yang sekitar 34 % tanahnya dataran rendah, memang daerah langganan banjir sejak jaman dulu. Kota yang berkembang di atas tanah bekas rawa-rawa, serta dialiri 6 sungai yang bermuara di Laut Jawa, sudah tercatat sebagai kota yang tidak bebas banjir seperti Tembang Jawa yang didendangkan oleh pesinden terkenal, Waljinah, Semarang Kaline Banjir. Makanya, pemerintah kolonial Belanda tahu betul untuk mengatasi banjir di Semarang, yang sudah berupaya menyelamatkan kota jajahannya ini. Misalnya, Belanda mengadakan penggalian kanal sodetan Kali Garang agar air bisa mengalir dengan cepat ke laut dan tidak menimbulkan genangan lokal. Salah satu upaya yang pernah dilakukan Belanda adalah mengadakan perbaikan tata air dengan membuat dua sungai yang dinamakan Kali Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur. Proyek yang terkenal dengan sebutan Kali Banjir Kanal ini ternyata kesaktiannya hanya mampu bertahan sekitar 40-an tahun. Kenyataan sekarang yang ada, di beberapa lokasi sudah langganan genangan, misalnya di sekitar Jalan Kaligawe, Simpang Lima, Jalan Citarum sampai Bubakan, ujung Jalan Imam Bonjol dekat Johar, dan sebagian Kota Lama.
Ancaman banjir lokal makin besar akibat hilangnya daerah potensi resapan air alami di kota Semarang bawah. Kecenderungan sekarang hampir semua halaman rumah dan perkantoran di pusat kota kini ditutup beton dan aspal yang kedap air untuk tempat parkir. Di beberapa kawasan, kapasitas saluran kurang memadai karena volume air hujan yang masuk meningkat tajam akibat daerah terbangun makin luas. Kondisi ini umumnya terjadi di daerah bekas rawa mapun persawahan, misalnya wilayah Semarang Utara, dan Semarang Tengah. Sistem drainase di pusat kota banyak yang menyempit terkena pelebaran jalan, atau berubah menjadi saluran tertutup. Sehingga drainase tertutup itu sering tersumbat sampah, karena minimnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah.
Kenyataan tentang banyaknya sampah harus menyadarkan semua komponen masyarakat untuk menyadari bahwa banjir merupakan akibat langsung dari perilaku manusia. Banjir terjadi semata-mata bukan karena faktor alam, tetapi lebih karena kecerobohan manusia yang tidak memperhatikan kelestarian dan keseimbangan alam. Urusan sampah, selama ini pemerintah masih terfokus pada pembuangan sampah akhir yang membutuhkan lahan luas. Padahal persoalan sampah menyangkut hal yang jauh lebih luas karena terkait dengan perilaku manusia.
Tetapi, sebenarnya kewajiban mengantisipasi musim hujan itu tidak hanya untuk pemerintah. Warga Kota Semarang juga harus mengambil langkah-langkah antisipatif. Setelah melihat fakta kota Semarang mengenai banjir, maka ada beberapa langkah yang harus ditempuh dalam mengantisipasi musim hujan, diantaranya :
Pertama, perbaikan sungai-sungai Baik dengan nornalisasi sungai maupun penambahan pompa-pompa air, terutama pada pompa-pompa air yang sudah ada sejak jaman Belanda yang belum mendapatkan penggantian pada daerah tertentu rawan banjir lokal.
Kedua, Mengelola Sistem Drainase dengan segera melakukan perhitungan volume dan kedalaman antara saluran primer, sekunder, dan tersier sehingga terbentuk suatu sistem saluran yang saling mendukung. Sistem drainase yang dilengkapi pintu air seperti yang pernah diterapkan Belanda untuk Kota Semarang pada masa lalu perlu diaktifkan kembali. Pintu air yang mudah dibuka tutup sangat penting untuk membagi debit air.
Ketiga, Memberikan pendidikan dan Sosialisasi tentang saluran drainase, sungai dan peranannya kepada masyarakat secara kontinyu Kegiatan ini dapat dilakukan melalui kegiatan tingkat RT maupun kelurahan dengan kerja bakti membersihkan sungai maupun saluran lingkungan. Penyuluhan untuk membuka kesadaran masyarakat agar membuang sampah pada tempatnya, ditindak lanjuti dengan gerakan pembuatan bak sampah di masing-masing rumah tangga. Banjir biasanya disertai beragam penyakit. Para pemimpin lokal di tingkat RT juga harus waspada.
Keempat, daerah-daerah padat yang terdapat sepanjang bantaran sungai sebaiknya dikurangi, untuk mengurangi risiko banjir bandang. Menyelesaikan masalah banjir, luapan, dan genangan air di daerah yang dilandanya, tidak dapat dilakukan di daerah setempat, tetapu harus terpadu mulai dari hulu ke hilir sungai, sehingga Daerah Aliran Sungai (DAS) akan tetap terjaga kelestariannya.
Penulis :
Sukawi, Pengajar Arsitektur di Universitas Diponegoro Semarang

Dimuat : Seputar Semarang Edisi 218, 27 November 2007

Read More..